Catatan Banjarmasin Bersyukur, 29-30 September 2016

Titik Berat untuk Banjarmasin

Titik berat perlu ditentukan karena kita berada dalam keadaan sejarah dan pemikiran yang tumpang-tindih, tidak jelas pijakan antara adopsi dan kontinuitas.

Apa yang Cak Nun pikirkan mengenai sungai sebagian sudah disampaikan kepada Pak Walikota Ibnu Sina saat berkunjung ke Kadipiro dua minggu lalu. Karena itu malam ini dalam kesempatan Silaturahmi dengan Walikota, Wakil Walikota, Pejabat dan Kepala SKPD Banjarmasin, Cak Nun lebih mengalokasikan banyak waktu untuk pertama-tama menyampaikan hal yang sangat penting kepada para pejabat Banjarmasin apa yang bernama ‘titik berat’.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Titik berat itu sangat penting supaya pekerjaan yang kita lakukan tidak keliru. Titik berat juga perlu ditentukan karena kita berada dalam keadaan sejarah dan pemikiran yang tumpang-tindih, tidak jelas pijakan antara adopsi dan kontinuitas, atau pemetaannya. Di situlah, Cak Nun memulai penjelasannya dari cara pandang kontinuasi dan adopsi, gampangnya kita terseret-seret misalnya antara menjadi Barat atau Arab, serta kondisi lainnya yang serupa. Dalam pemandangan seperti itu terlihat bahwa kita tak punya titik berat atau pijakan. “Titik berat itulah masalahnya, titik berat itulah yang harus kita cari dalam setiap hal.”

Demikianlah dengan Banjarmasin. Jika sungai menjadi titik beratnya pembangunan, maka harus ada lembaga dan proses terus-menerus menyangkut penelitian, teknologi, budaya yang berkaitan dengan sungai. Cak Nun sendiri sebenarnya sampai pada sesi tanya jawab pun memperlihatkan kedalaman dan sangat kaya dengan pemikiran, pemahaman,  dan pemaknaan akan sungai. Hal yang menunjukkan beliau sendiri saat ini dalam merespons Pak Walikota mentitikberati dan mentitikberatkan sungai. Kelok-kelok sungai bagi Cak Nun memunculkan ilmu. Ada hakikat yang tertangkap di situ.

Sebagai contoh, di satu sisi kita diperintahkan menghadap ke kiblat, ke suatu titik pusat, namun di sisi lain dikatakan bukanlah kebaikan itu menghadap Barat atau Timur dst. Itu bukan dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan satu gambaran bahwa semesta hidup itu kadang seperti kelokan sungai, meliuk di antara dua sisi, alias dinamis. Masih banyak ilmu sungai yang Cak Nun sampaikan dalam pertemuan silaturahmi ini. Tetapi dari sisi lain terasa bahwa Cak Nun memberikan hal-hal mendasar yang diperlukan untuk mendasari pembangunan. Cak Nun telah menyampaikan “kuliah filsafat pembangunan” yang membabarkan pentingnya kesadaran akan titik berat.

Sebelum berbicara, Cak Nun mendapatkan cinderamata dan kain Sasirangan kain khas Banjarmasin oleh Walikota dan langung dikenakan di pundak kiri beliau. Kain itu menemani Cak Nun menyampaikan pemaparan yang lebih merupakan menyajikan file-file yang nanti suatu saat akan tiba momentum loading-nya. (hm/adn)