Tiga Mengenai Kreativitas Ala Letto

Hal pertama yang disampaikan oleh Mas Sabrang adalah tiga hal yang diperlukan untuk menjadi kreatif yakni: Menyerap, Meledakkan dan kemudian Menata.

Pagi pukul 09.30 WIB dalam suasana Ihtifal Maiyah, sebagian penggiat Maiyah berada di musholla dalam rangaka khataman Qur’an. Sementara itu tak jauh dari lokasi bertemunya lingkar-lingkar Maiyah pada muara rindu dan ilmu itu, terjadi pula satu kegiatan lain yang juga dipenuhi kemesraan. Tempatnya di SMK Global.

Di sini Letto sedang menyapa khalayak yang sebagian besar masih berusia remaja, ya usia sekolah menengah atas, sebagian lain tentu guru-guru, panitia, masyarakat sekitar bahkan anak-anak sekolah lain dan beberapa penggiat Maiyah dari beragam lingkar dan daerah yang sengaja datang menyaksikan Musik Edukasi Letto.

Foto: Jamal.
Foto: Jamal.

Saya sendiri datang tidak begitu tepat ketika acara dimulai, saat tiba di lokasi Kang Sabrang Mowo Damar Panuluh atau dengan nama populernya Noe Letto sedang menggali potensi para peserta muda belia ini yang bagi Letto sendiri sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga besar Letto dan tentu saja Maiyah.

Walau disebut workshop namun kehadiran Letto disambut tidak sekedar dengan formalitas kaku, tapi justru lebih terasa hangat dan kekeluargaan. Tentu juga tidak melupakan penggalian-penggalian Mas Sabrang yang menumbuhkan keceriaan, harapan dan menanamkan hikmah serta segala kebaikan bagi mereka yan masa depannya masih terhampar seluas cakrawala.

Mas Sabrang, sedang menyampaikan hal berkenaan dengan kreativitas. Sering terjadi tanya jawab, interaksi berjalan sangat cair tampak dari sahut-sahutan yang sesekali berlomba menjawab pertanyaan yang diajukan atau sekedar sorakan-sorakan namun tentu tidak juga menjadi sangat riuh. Ketika suasana mendekati kurang kondusif, dengan sigap Mas Sabrang akan kembali ‘meluruskan’ arah acara. Terbangunnya interaksi yang intens namun tetap terarah, adalah salah satu pokok penilaian saya untuk kemudian menyimpulkan bahwa acara ini memang benar-benar diapresiasi dengan baik oleh para peserta workshop Musik Edukasi yang rata-rata masih belia ini.

Hal pertama yang disampaikan oleh Mas Sabrang adalah tiga hal yang diperlukan untuk menjadi kreatif yakni: Menyerap, Meledakkan dan kemudian Menata. Baru kemudian tiga hal ini dikelupas, digali satu persatu.

Foto: Jamal.
Foto: Jamal.

Pertama untuk menyerap, ada prasyaratnya yakni; tidak meremehkan, teliti dan waspada. menyerap, ya adalah menerima apapun yang ada disekitar. Karena apapun yang ada disekitar kita adlah sumber ide yang tak-ada habisnya.

Kedua, meledakkan. untuk hal ini cukup panjang beliau menjelaskan. “Meledakkan ya meledakkan, bebas! Soal baik-buruk, benar salah mengko sik”. Untuk mencontohkan, Letto kemudian mengalunkan nada Gundul-Gundul Pacul, pas sesuai pakem dan nuansa Jawa yang lumrah. Sampai disini kita bisa menikmati alunan nadanya, lalu apa kaitan dengan konsep ‘meledakkan’ tadi?

Jawabannya kemudian justru ketika lagu Gundul-Gundul Pacul tadi dibawakan ulang dengan aransemen musik metal, dan memang benar-benar meledak! Distorsi kotor di gitar, gebukan drum yang gahar, bass membahana dipertajam dengan Mas Sabrang yang menjelma rockstar; melepas ikat rambut, headbang, kaki diatas floor monitor dan vokal growl ala band metal. Penonton bersorak. Saya sendiri meyakini ritual metal ini dijalankan dengan durasi sedikit lebih lama lagi maka massa akan pecah se-pecah-pecahnya dan bisa menggila seperti pada konser-konser Sepultura atau Napalm Death.

Tapi tidak, massa tidak sempat menggila dan juga bukan itu tujuannya.

Sabrang sedang mencontohkan, bebaslah! lepas! “Atau mau dibikin jadi apa? Terserah!” lalu sesekali penonton pun berebutan ‘request’ genre yang ingin mereka dengar, maka jadilah Gundul Pacul versi reggae, dangdut dan lainnya. Para penonton masih ingin ‘request’ namun ini cepat di cut oleh Sabrang, yang penting pesannya tersampaikan. Tepat juga timingnya, sebab request untuk genre hip-hop mulai menjadi sato koor yang kompak, dan saya tak sampai hati membayangkan Mas Sabrang harus beraksi laiknya grup hip-hop NDX yang sedang melanda anak muda belakangan ini.

Penggalian pada tema meledakkan ini juga dipertajam lagi dengan games sambung kata, setiap orang dari penonton bergantian menyumbangkan kata yang ada dalam pikirannya. Ketika kata-kata tersebut kemudian disambung dan dibacakan catatannya oleh Mas Patub (guitar) ternyata, malah menjadi jalinan kalimat yang lucu. Rupanya, tak sedikit kata yang justru muncul berulang-ulang, ini satu contoh yang sangat baik untuk menyampaikan pesan bahwa berkebebasan pun tidak semudah yang kita bayangkan.

Masuk pada penggalian ketiga yakni menata. Sampai pada kebebasan dalam meledakkan tadi, maka juga wajib hukumnya untuk menata. Menata ini memiliki prasyarat, yaitu kita musti mengerti batas, begitu penyampaian Mas Sabrang.

“Jadi kalau kamu dihukum karena melanggar, jadikan itu pelajaran supaya kamu mengerti batasmu” Dari sini kemudian disambungkan lagi dengan konsep pintar dan cerdas. Pintar itu orang yang memiliki banyak pengetahuan, cerdas adalah orang yang memiliki banyak pertanyaan. Dengan memiliki banyak pertanyaan orang akan tahu dimana batas dirinya sendiri.

Foto: Jamal.
Foto: Jamal.

Batas dalam kreativitas diperlukan, setidaknya agar orang lain tidak kesulitan untuk memahami ‘ledakan’ itu tadi. Jadi ledakan ada pada tataran ide, sedangkan ‘menata’ ada pada tataran produk kreativitas itu.

Maka dilanjutkanlah sesi dengan games Debat Tanya setiap penonton boergantian mendebat para personel Letto tapi harus dengan kalimat tanya. Games berjalan seru dan penuh suka ria, banyak hal jenaka muncul ditengah prosesnya.

Pada beberapa kesempatan, Letto juga menampilkan nomer-nomer andalan yang membuat penonton ikut bernyanyi semacam  Ruang rindu, Permintaan Hati, Sebelum Cahaya dan beberapa nomer tambahan ketika menanti kedatangan Mbah Nun untuk kemudian melanjutkan acara ini.

Sebelum menutup sesi, Mas Sabrang juga menyelipkan doa bagi para peserta. Doa dari kakak yang tentu mengharapkan segala yang terbaik bagi kehidupan dunia akhirat adik-adiknya.