Daur (57)

Tidak Tega Kepada Nabi Isa

Bagaimana mungkin Markesot bisa tahan untuk tidak mencari Kiai Sudrun. Hatinya sangat lemah. Ia tidak tega kepada Indonesia khususnya, dan kepada seluruh Bangsa Negeri Khatulistiwa umumnya.

Anak bungsu yang bernama Indonesia ini sedang sangat yatim seyatim-yatimnya. Hampir sama sekali tidak ada yang memperhatikannya, tidak ada yang sungguh-sungguh mengurusi sandang pangan papannya, tidak ada yang mengayomi hatinya, mendidik pikirannya dan melindungi jiwanya.

Untung saja Indonesia ini anak yang tangguh, berkat bakat liarnya yang luar biasa. Kekurangan-kekurangan dalam penghidupan tidak bisa membuat mereka merasa benar-benar kekurangan. Ketidakcukupan bisa mereka cukup-cukupkan. Kalau ada uang seterbatas apapun di tangan mereka, mereka selalu bilang cukup. Kalau uangnya kurang dari itu mereka tetap saja bilang cukup. Dan kalau secara nalar uang di tangan mereka sebenarnya sama sekali tidak cukup, mereka bilang “bismillah dicukup-cukupkan”.

Andaikan terjadi kiamat kecil, tanah di bumi kering kerontang, angin merobohkan semua pepohonan, gempa meluluhlantakkan tempat-tempat tinggal mereka, air sembunyi ke dalam perut bumi, panas matahari membakar ubun-ubun dan seluruh jiwa mereka, percayalah mereka adalah kumpulan manusia yang tertangguh di seluruh permukaan Bumi. Dan bekal ketangguhan serta daya hidup mereka adalah “bismillah”.

Penderitaan sudah puluhan tahun geleng-geleng kepala karena tidak sanggup membuat mereka menderita. Kesengsaraan merasa miris untuk bergaul dengan mereka karena ujung-ujungnya si kesengsaraan ini ditertawakan oleh mereka. Mereka juara tersenyum dan tertawa dalam kontes peradaban di dunia.

Mereka diyatimkan seyatim-yatimnya oleh Lembaga Negara, oleh konstitusi dan sistem yang diberlakukan oleh segelintir orang, oleh managemen nasional yang menamakan dirinya pembangunan, perkembangan, kemajuan, move on. Bahkan dieksploitasi. Nama mereka dijadikan ayat legalisasi proyek-proyek kepentingan pribadi dan golongan. Mereka diperdaya oleh pidato-pidato dan pernyataan-pernyataan. Dikibuli oleh informasi. Dijebak dalam komunikasi. Dibodohi pengetahuannya dan dikempongi akalnya.

Mereka memilih dan menggaji sejumlah orang diangkat jadi Pemerintah untuk menangani keadilan dan kemakmuran mereka, tetapi pada kenyataannya Pemerintah yang selalu mereka tolong. Mereka menambal setiap kebocoran yang ditimbulkan oleh Pemerintahnya. Mereka dan anak cucu mereka yang membayar utang-utang rakus ngawur yang diselenggarakan oleh Pemerintahnya.

Mereka memilih dan membayari Pemerintah yang tidak bekerja untuk membentang peluang seluas-luasnya bagi pekerjaan dan penyejahteraan mereka. Mereka harus kreatif mencari, menemukan dan membangun pekerjaan mereka sendiri, kemudian Pemerintah datang terus menerus untuk mengawasi mereka, menghisap pajak demi pajak di setiap langkah mereka.

Kalau mereka melakukan kesalahan, Pemerintahnya bertindak setegas Malaikat yang tidak pernah bersalah. Kalau Pemerintah yang salah, mereka harus memaklumi, memaafkan, meskipun tanpa Pemerintah mereka minta maaf.

Di segala bidang Pemerintah yang mereka pilih menjalankan ketidakpercayaan kepada rakyatnya, mengawasi usaha mereka, mengincar kemungkinan pemerasan dan penghisapan, mencurigai kreativitas mereka, mengontrol identitas dan perilaku mereka.

Pemerintah pilihan mereka sangat rajin menunjukkan tindakan-tindakan yang dasarnya adalah ketidakpercayaan kepada mereka, seolah-olah si Pemerintah itu pihak punya kualitas dan akhlak yang bisa dipercaya.

***

Akan tetapi ketangguhan mental dan kedahsyatan daya hidup mereka ternyata tidak mengurangi rasa tidak tega Markesot.

“Saya bukan pejuang kemakmuran hidup di dunia”, kata Markesot, “konsentrasi saya adalah berlangsung tidaknya keadilan. Keadilan adalah gelombang yang sanggup melampaui waktu, arus nilai ruh yang memancar dari dalam jiwa manusia. Manusia memasuki keabadian dengan tiket keadilan, sebagian dari kesejahteraan, tapi tidak dengan kemakmuran”

Maksudnya?

“Keadilan itu rohaniah utuh. Kesejahteraan ini separo jasad separo roh. Kalau kemakmuran itu materialisme, dan materialisme itu lebih pendek usianya dibanding umur manusia yang menikahinya…”

Banyak orang biasanya tidak mau terus mendengarkan penjelasan Markesot kalau sudah mulai ruwet. Markesot itu, kata sebagian orang, tampil seolah-olah seorang Sufi, tapi jangan dipercaya, sebab itu semata-mata karena ia miskin. Supaya tidak terlalu rendah diri oleh kemiskinannya, maka ia berlagak sufistik.

Kalau boleh berterus terang, Markesot menjelaskan tentang adil makmur, menatap kasunyatan hidup termasuk memotret fungsi peradaban para Rasul dan Nabi dari sisi dan jarak pandang yang berbeda, fungsi pertamanya adalah menghibur dirinya sendiri.

Ya dirinya sendiri yang miskin itu.

Tetapi kalau dia kita tabrak dengan pernyataan itu, Markesot akan lincah menjawab bahwa hiburan yang terbatas dan berhenti untuk diri sendiri adalah hiburan yang curang. Hiburan yang tidak fair, tidak rasional, tidak ilmiah. Alih-alih hiburan sejati.

“Kecuali”, Markesot memperkuat alasannya, “apabila manusia sanggup menciptakan dirinya sendiri, membangun fasilitas alam semesta sendiri, membeber bumi dengan kesuburan dan kekayaannya sendiri, kemudian menjalani hidup pun ia sendiri. Tapi kan tidak? Mana mungkin itu terjadi”.

***

Maka sebaiknya perluas kesabaran menghadapi jenis makhluk seperti Markesot ini. Anggaplah ia tlethong lembu yang menjijikkan, tapi siapa tahu ia bisa berguna untuk dijadikan rabuk bagi tanaman di kebun atau sawah kita.

Dengarkan saja. Siapa tahu ia termasuk yang Tuhan maksudkan di dalam rekomendasinya kepada ummat manusia, bahwa tanda orang yang mendapatkan hidayah adalah yang mendengarkan perkataan-perkataan, kemudian memilih yang terbaik untuk diwujudkan menjadi lelaku.

Hal-hal tentang Adil Makmur itu menghibur Markesot semata-mata karena membukakan harapan atas masa depan Negeri dan Bangsa Khatulistiwa. Kalau Tuhan tidak menggariskannya untuk turut membangkitkan dan mengalami kenikmatan realitas Adil Makmur Negeri Nusantara, sekurang-kurangnya yang Markesot mimpikan tentang itu sendiri sudah sangat indah.

Dan sesudah Markesot mempersembahkan jiwa dan kehidupannya untuk niat mulia bagi Negeri dan Bangsa Khatulistiwa, tercapai atau tidak, maka nikmatnya berniat mulia itu sah untuk menjadi hak pribadinya.

Markesot pernah berkata, “Saya tidak punya kekuatan dan ilmu untuk mengatasi masalah-masalah bangsa kalian, sebagaimana kalian juga tidak memiliki bekal-bekal jasmani rohani yang mencukupi untuk mengatasi masalah-masalah kalian”.

“Bahkan sekedar merumuskan komplikasi dan multi-lipatan masalah saja kalian semakin kelabakan. Lebih dari itu semakin lama kalian semakin tidak merasakan dan mengetahui bahwa sebenarnya kalian sedang dikungkung oleh masalah-masalah”

“Kalian tertawa-tawa dan hidup sangat tenang, bermain-main, bertamasya, berpesta, bersorak-sorak, seolah-olah kalian tidak sedang menghadapi sesuatu yang tingkat penghancurannya sangat tinggi dan serius.”

Sungguh tidak normal. Markesot yang hidupnya penuh kesedihan dengan pergi ke mana-mana dengan wajah yang penuh kesunyian, merasa tidak tega kepada Bangsa yang hidupnya penuh senyum dan tawa, yang tenang, optimis, dan tidak mencerminkan kecemasan apa-apa untuk hari ini maupun masa depannya.

Pernah ada yang mengajukan kepada Markesot pertanyaan yang agak mendalam, terutama apa maksudnya tidak tega kepada Bangsa Negeri Khatulistiwa. Markesot menjawab,

“Jangankan kepada Bangsamu, kepada Nabi Isa saja pun saya tidak tega. Tuhan sudah pasti tidak marah kepada beliau, tetapi jangan dipikir beliau sendiri tidak mendalam kesedihannya merasakan posisinya”.

“Lho aneh. Kan beliau itu Nabi, pasti Tuhan menganugerahinya kekuatan, keistimewaan dan perlindungan.”

“Ya tapi kan beliau manusia seperti kita semua. Tuhan menciptakan manusia untuk saling menyayangi dan tidak tega satu sama lain.”