Daur (177)

Tidak Abadi? Enak Aja!

Ta’qid : “Manusia wajib masuk keabadian. Di sorga ataukah neraka. Terserah. Tapi mereka diborgol dan diseret diangkut oleh keabadian...”

Markesot sudah sangat berusaha untuk kembali berbaring dan memejamkan mata, tapi ternyata sosok remang orang tua itu mengejarnya.

“Untuk apa kamu tanya siapa saya? Apa pentingnya siapa saya? Dan apakah kamu ini siapa-siapa sehingga merasa perlu menanyakan siapa saya?”

Ogah-ogahan Markesot merespons. “Karena saya ditanya siapa maka saya juga bertanya siapa”

“Saya hanya memenuhi kebutuhanmu”, kata orang tua itu.

“Lho, kebutuhan apa?”

“Kebutuhan bahwa Markesot, Kiai Sudrun, Saimon, Sapron, Brakodin atau siapapun, bahwa maya atau fana atau baka, bahwa kasat mata atau tak kasat mata, bahwa pancaindra atau jiwa, bahwa Nusantara atau Indonesia, bahwa jujur atau dusta, bahwa bangsamu disantuni atau diperdaya, bahwa ummat manusia selamat atau celaka, bahwa perusahaan atau Negara, bahwa pembangunan atau tipu daya, bahwa bumi bundar atau rata, bahwa dunia ini bagian atau pusat alam semesta, bahwa apapun saja yang kamu ribut memikirkan – itu semua bukan letaknya permasalahan”

“Terserah”, Markesot apatis.

“Jangan terserah”

“Ya terserah”

“Kok terserah”

“Terserah saya mau terserah atau tidak terserah”

“Kamu dan kalian semua tidak bisa absen dari kekekalan. Kalian tidak bisa mengelak dari keabadian. Kalian tidak bisa bersembunyi dari urusan dengan keabadian. Kalian tidak bisa menemukan tempat dan waktu selain dijaring dalam perhitungan selama waktu yang Tuhan menentukannya sebagai keabadian”

“Saya justru memprihatinkan dan menentang kecenderungan hampir semua manusia terhadap kesementaraan”

“Yang sementara adalah kesementaraan, tapi manusia yang memilih kesementaraan akan diseret memasuki gerbong-gerbong keabadian, untuk mempertanggungjawabkan pilihan kesementaraannya…”

“Ke mana sebenarnya arah pembicaraan Sampeyan ini?”, Markesot memotong.

“Bahwa semua manusia hidup abadi”

“Belum jelas”

“Bahwa manusia tidak bisa seenak nafsunya sendiri, merusak bumi, memboroskan anugerah kekayaan dari Tuhan, berbunuh-bunuhan satu sama lain, lantas mati, dan selesai. Tidak. Tidak bisa. Manusia harus mempertanggungjawabkan semua itu selama keabadian berlangsung sesuai dengan yang dijatahkan oleh Tuhan. Manusia wajib masuk keabadian. Di sorga ataukah neraka. Terserah. Tapi mereka diborgol dan diseret diangkut oleh keabadian”

“Masih samar-samar”

“Manusia silakan hidup berpijak pada kenyataan atau melayang-layang dalam kemayaan. Manusia silakan memilih satuan-satuan yang manapun dalam ruang dan waktu. Tetapi jangan dipikir semua selesai di kuburan”

“Kalau itu sudah jelas sejak awal mula penciptaan”

“Tidak ada urusan yang dilakukan oleh manusia adalah pembangunan atau perusakan, cinta atau pengkhianatan, kemewahan atau kekumuhan, kecanggihan atau keterbelakangan. Tuhan tidak memerlukan indah tidak indahnya dunia. Yang diurus oleh Tuhan adalah hamba-hamba-Nya, manusia-manusia, yang akan dibariskan dalam antrean sangat panjang, untuk dilihat apa yang tergenggam di tangannya, yakni pilihan nilainya, sikap yang diambilnya, serta perilaku yang dikerjakannya”

“Itu juga sudah sangat jelas”

“Tidak penting di mata Tuhan ummat manusia mencangkul saja selama hidup di bumi, membangun gedung-gedung tinggi, terbang dengan pesawat, berkomunikasi dengan cyber-cyber itu, atau sepanjang zaman menggembalakan lembu dan kerbau saja. Sama sekali bukan itu semua urusannya dengan Tuhan dalam keabadian”

“Lantas apa hubungan itu semua dengan saya?”, Markesot tidak sabar.

“Sangat jelas itu semua berkaitan dengan kecengenganmu. Kamu menangisi nasib miliaran manusia di muka bumi yang dipenjara oleh tipu muslihat global. Kamu meratapi nasib ratusan juta bangsa di sekitarmu yang tak kunjung mengerti bahwa mereka dibodohi, ditipu, didustai, dikempongi seperti balita. Sampai kapan kamu menangis, meratap, bercengeng-cengeng, putus asa. Tuhan mengejekmu: “Apakah kamu akan bersedih dan membunuh dirimu gara-gara mereka berpaling dari-Ku?”