Tiba di Makassar Mencari Makassar

Rupanya beliau sedang mencari background bertuliskan Makassar. Ia mau befoto dan dikirim ke istrinya. Semacam mengabarkan, “ini lho saya sudah di Makassar.”

Kurang lebih pukul 19.15 WITA, pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makkasar. Alhamdulillah melalui landing atau pendaratan yang menurut Manajer KiaiKanjeng nilainya adalah cukupan, rombongan Cak Nun dan KaiiKanjeng tiba di bumi Sulawesi. “Ya tapi untuk ukuran pesawat ‘dunia’ cukupan lah,” ujarnya.

Jangan dibandingkan dengan pesawat yang pernah dicicipinya misal sewaktu KiaiKanjeng diundang pentas di Abu Dhabi. Pesawat mendarat sangat mulus dan tak terasa ada gedugan atau apalagi gerunjalan saat sampai di landasan, sehingga otomatis dan wajar mengundang semua penumpang untuk memberikan aplaus panjang.

Urusan tepuk tangan dalam perjalanan pengalaman Maiyah memang dipahami dan bahkan didorong manakala tepuk tangan iu memang murni, otentik, asli, dan bukan karena rekayasa, halus maupun sangat halus. Apalagi kasar. Tepuk tangan tak boleh diatur-atur. Ia harus alami. Kalau memang tak ingin, dan tak tepat buat tepuk tangan, ya jangan dipaksa. Orang-orang yang tepuk tangan sesudah persembahan musik KiaiKanjeng hendaknya juga berangkat dari kejujuran otentik hati.

Tiba di Makassar
Tiba di Makassar. Foto: Adin.

Tiba di pintu kedatangan, Mas Gandhie, Mas Aslam, dan teman-teman Mandar lain sudah menunggu dan menyambut. Mereka sudah sejak siang standby di sini, karena Mas Gandhie sudah duluan datang di Makassar, dan selanjutnya akan bergabung dengan rombongan KiaiKanjeng menuju Mandar. Sambil menunggu selesai pemindahan peralatan musik ke dalam bus, Cak Nun dan KiaiKanjeng mampir sejenak di sebuah cafe di dalam Bandara yang berlabel internasional itu. Berbincang dengan Aslam yang sudah lama menunggu berjumpa dengan Cak Nun setelah sekian tahun tak bersua.

Di situ, Cak Nun menyempatkan diri buat koordinasi dengan Aslam, Mas Imam Fatawi, Kiai Muzammil, Pak Nevi, Pak Bobiet, dan Mas Doni seputar mengaransemen shalawat atau lagu-lagu Bunda Cammana. Kebetulan belakangan Cak Nun sedang menikmati otentisitas dan kekhasan musikalitas seorang perempuan tua dari Tanzania yang bernama Bi Ki Dude dan bermama asli Fatima Binti Baraka. Bagi Cak Nun, ada beberapa titik dalam suara Bi Ki Dude yang mirip dengan suara Bunda Cammana.

Kalau dilihat dari sorot wajahnya, mungkin hidup Bi Ki Dude juga tak jauh-jauh beda dengan hidup Bunda Cammana. Setia pada nilai-nilai perjuangan, teguh, dedikatif, menjaga apa-apa yang berrnilai sejati dari budaya dan tradisi manusia, dekat dengan masyarakat dan mengayominya, dan nilai-nilai lainnya yang menjadikannya bak mutiara. Sebagaimana terhadap khazanah Bunda Cammana, KiaiKanjeng juga mengaransemen dua atau tiga lagu Bi Ki Dude ini. KiaiKanjeng menjunjung dan menghormati muiara-mutiara kehidupan, yang tak cukup diperhatikan banyak orang.

Selain itu Cak Nun juga meminta Aslam untuk menerjemahkan salah satu lirik lagu KiaiKanjeng ke dalam bahasa Mandar, dan mentransfer sedikit penjelasan kepada Kiai Muzammil mengenai sejumlah pepatah atau ungkapan kebijaksanaan berbahasa Mandar. Tetapi, di tengah-tengah obrolan santai itu, Kiai Muzammil sempat keluar ruangan, dan tak lama kemudian balik lagi. “Mana kok nggak ada tulisan Makassar di sini?,” tanya dia, membuat bertanya-tanya Pak Bobiet dan Mas Doni.

Rupanya beliau sedang mencari background bertuliskan Makassar. Ia mau befoto. Dan fotonya mau dikirim ke istrinya. Semacam mengabarkan, “ini lho saya sudah di Makassar.” Sebut saja: selfie terbatas dan baik. Kontan dibilang, “Waa kalau tulisan Makassar ya pas turun pesawat tadi, di atas bangunan, terpampang besar, Pak Yai.”

Dan Pak Kiai tak mungkin kembali ke sana. Selfie terbatas buat Bu Nyai untuk sementara  belum tercapai. Apalagi rombongan harus segera menuju bis. Tak ada waktu buat mencari alternatif tulisan Makassar lainnya.