Daur (100)

The Legend of Gak Patheken

Terkuburnya fakta sejarah pada lintasan abad 14-15 hingga menjelang 16 sebenarnya sudah lama tidak membebani mental Markesot, tetapi tetap saja ada saat-saat ia terguncang dan terasa ada irisan bahkan tikaman di dalam hatinya. Di tepi hutan ini malahan dada Markesot memanas.

Kalimat Wali Penyamar “dulu saya membangun Negara tapi di awal-awal sudah dirusak orang” tidak pernah berhenti mendengung-dengung di dalam batin Markesot. “Beliau ketika itu berumur sudah cukup tua meskipun belum sampai 100 tahun, dan sampai saat-saat akhir hidupnya beberapa puluh tahun kemudian, zaman mengecewakan hatinya”, kata Markesot.

Andaikan saja Markesot seorang Wali, atau minimal seorang pendekar meskipun kelas-kelas tengahan agak bawah. Andaikan saja ia seorang “waratsatul anbiya” dan ada Malaikat yang bermurah hati membisikinya demi menumbuhkan kepercayaan dirinya.

Tidak usah setingkat Prabu Kresna yang resmi menjadi Duta Pandawa dan diperkenankantiwikrama. Cukup dipinjami Tuhan kemampuan mengubah pasir menjadi api, misalnya — ia akan berangkat ke pusat-pusat kekuasaan membawa kantong-kantong plastik berisi pasir. Dua tiga kali nyawur pasir, api pun berkobar membakar gedung-gedung.

Kalau tidak sampai setaraf itu ya cukup pasir-pasir itu begitu disentuh oleh tangan Markesot, langsung bermuatan partikel-partikel yang membuat sakit gatal parah pada siapa saja yang terkena sawurannya. Markesot senyum-senyum sendiri membayangkan Raja memimpin sidang di Balairung Istana sambil menggaruk-garuk sekujur tubuhnya.

Baiklah tak usah yang jasad-jasad. Cukuplah misalnya Markesot diberi hak untuk menentukan tema dan adegan tatkala memasuki mimpi Raja, para Menteri, Pajabat atau tokoh-tokoh apapun yang diperlukan. Sebab selama ini Markesot dilibatkan untuk merasuki mimpi banyak orang, tapi posisinya hanya aktor yang wajib patuh kepada skenario, sementara ia sendiri tidak pernah sungguh-sungguh memahami skenario itu.

***

Sampai batas tertentu kan setiap manusia dipeluangi kesempatan untuk mentakdirkan dirinya sendiri. Tetapi untuk soal-soal mimpi ini Markesot benar-benar hanya figuran, pemeran pembantu, bolo dhupakan, yang tidak ikut berpikir tentang apa yang sebaiknya ia lakukan di dalam mimpi orang-orang yang ia rasuki.

Posisi itu membuat Markesot sering salah tingkah. Semakin banyak orang melaporkan kepadanya bahwa mereka memimpikan Markesot. Ada yang tiga minggu berturut-turut, ada yang berkala, rutin bertahun-tahun meskipun jarak waktunya tidak tertentu. Ada yang disuruh ini itu oleh Markesot dalam hal penghidupannya, dagangnya, usahanya. Atau beberapa panduan untuk urusan keluarganya.

Ada yang diajari terbang oleh Markesot. Ada yang dalam mimpi menempuh perjalanan jauh sesuai dengan arah yang dituding oleh jari telunjuk Markesot. Ada yang dikasih tahu ada pendaman batu mulia di suatu tempat, atau keris pusaka, atau Markesot membawakan biji-biji untuk ditanam. Bahkan ada yang ditunjukkan oleh Markesot calon jodohnya. Ada pula yang Markesot menginformasikan bahwa akan ada kematian ini atau itu, gempa, angin puting beliung, pabrik terbakar, dan macam-macam lagi.

Ketika mereka yang bermimpi itu mendatangi Markesot dan berkicau tentang mimpinya, Markesot bingung sendiri. Apalagi ketika mereka menanyakan apa makna mimpi-mimpi itu, Markesot harus spontan mengarang-ngarang sesuatu yang sebenarnya ia tidak ketahui sama sekali. Kasihan Markesot. Dipermainkan oleh Sutradara. Yang paling susah adalah Markesot mengajarkan wirid-wirid kepada para pemimpi, kemudian mereka menagih bagaimana persisnya bunyi kalimat wirid-wirid itu.

Untungnya semua itu bermanfaat bagi mereka, mengubah hidup mereka jadi lebih mantap, lebih kreatif dan meningkatkan kegembiraan hidup mereka, dalam berkeluarga maupun secara sosial.

***

Tapi sudahlah. Itu tidak terlalu penting. Yang digelisahkan oleh Markesot adalah susahnya menjelaskan kepada banyak orang bahwa apa yang mereka alami sekarang ini sesungguhnya hanyalah akibat-akibat jangka panjang dari penjajahan dari Utara dan Barat yang sudah berlangsung sejak 6-7 abad yang lalu.

Semua komplikasi masalah yang dialami oleh masyarakat zaman sekarang tidak berdiri sendiri secara kejadian, secara ruang maupun waktu. Para pekerja Sejarah kelelahan sekadar mencatatnya saja pun, jangankan menemukan ribuan garis korelasi komprehensif antara suatu kejadian dengan konteks-konteks yang sebenarnya multi-dimensional. Apalagi masyarakat umum.

Padahal kalau mereka ingin memerdekakan diri dari kepungan kompleks masalah-masalah kekinian, mau tidak mau harus diurai berdasarkan multi-hubungan antar zaman, antar skala waktu. Kalau mereka tidak memiliki pemetaan dan strategi perubahan ke depan yang mendasarkan perhitungannya pada akselerasi tematik tahap-tahap sejarah sebelumnya, mereka akan kembali masuk ke lubang demi lubang masalah dan penderitaan yang sama.

Masyarakat dan Bangsa akan terjebak dan terjebak lagi di dalam cita-cita yang tanpa kontinuitas dari alur zamannya. Terperosok dan terperosok lagi mengulang-ulang jargon, tekad juang, bendera kebenaran atau simbol-simbol yang tanpa landasan sejarah. Mereka merasa sedang melakukan Revolusi kebangkitan, beberapa waktu kemudian baru sadar bahwa yang mereka lakukan adalah penghancuran diri yang lebih parah. Mereka yakin sedang melakukan Reformasi kenegaraan dan kebangsaan, tapi tak usah menunggu terlalu lama untuk mengalami bahwa yang mereka alami sebenarnya adalah pembusukan yang lebih parah dari sebelumnya.

Beberapa belas tahun yang lalu Seorang Kepala Negara menyatakan mengundurkan diri, sesudah berkuasa sangat kuat dan stabil 30 tahun lebih, dengan mengatakan “…sebagaimana yang dinasihatkan oleh kawan saya: “Saya tidak jadi Presiden gak patheken….

Besok paginya Markesot malah mengambil keputusan untuk naik gunung, menyingkir, mengambil jarak sejauh-jauhnya dari kegaduhan Negara. Mengasingkan diri dari riuh rendah di pusat keramaian Negeri Nusantara Khatulistiwa.

Dan Markesot sangat terpukul mentalnya. Jangankan sejarah pelintasan abad 14-15 hingga mendekati 16, sedangkan sejarah Reformasi yang jauh lebih sederhana kejadiannya saja semua pemerhati Sejarah tidak memahaminya secara substansial dan faktual. Seluruh informasi, penulisan dan pencatatan tentang Reformasi, tidak memuat pengetahuan yang akurat dan otentik tentang apa yang sebenarnya berlangsung.

Sekadar bercerita tentang sejarah 10 hari saja, misalnya dari 12 Mei hingga 22 Mei, semua petugas Sejarah mencatatnya secara serabutan struktur pemahamannya, sembrono pemetaan faktanya, ngawur analisisnya, serta belepotan versi-versi dan kepentingan-kepentingan sepihak keluaran penyimpulan-penyimpulannya.

Bahkan tidak ada minat atau kesungguhan untuk melacak siapa sebenarnya yang melakukan ini, siapa yang mengeksekusi itu, mana sutradara mana pemain, mana kuda mana joki. Satu-satunya fakta yang tersisa di masyarakat hanya the legend of  “tidak jadi Presiden tidakpatheken”.