Sinau Bareng Kuduran Budaya Wanayasa, 25 September 2016

Tetap Minta Salaman

Tak cuma salaman, mereka juga minta didoakan. Botol dan gelas air mineral seadanya mereka sodorkan kepada Cak Nun, minta didoakan.

Selalu setiap usai Maiyahan, Cak Nun melayani jabat tangan atau salaman dari para jamaah, yang dari waktu ke waktu semakin menampakkan pola dan cara salaman yang makin ekspresif yang belum tahu mengekspresikan rahasia apa, termasuk saat Maiyahan di Ponpes An-Nahl kemarin dua hari lalu. Di dua Maiyahan ini, Purbalingga dan Banjarnegara, karena waktu yang terbatas, Cak Nun mengajak jamaah salaman di dalam hati saja, tidak sebagaimana biasanya.

Jamaah menyerbu panggung
Jamaah menyerbu panggung. Foto: Adin.

Tetapi, rupanya itu tidak bisa berlangsung. Beliau selesai berdoa dan mengakhiri acara, langsung diserbu jamaah dengan naik panggung. Situasi malah bisa lebih ruwet, sehingga perlu diatur kembali.

Pengawalan ekstra dari teman-teman Banser.
Pengawalan ekstra dari teman-teman Banser. Foto: Adin.

Caranya akhirnya adalah jabat tangan sambil berjalan. Jika pada biasanya, jamaah yang satu persatu menyalami Cak Nun, kini sebaliknya, Cak Nun yang berjalan dan menerima jabat tangan mereka. Di Ponpes An-Nahl, jamaah dan para santri berdiri hingga di rumah Pak Kiai dan menunggu giliran Cak Nun tiba di depan mereka.

Saling berebut untuk bersalaman
Saling berebut untuk bersalaman. Foto: Adin.

Tak cuma salaman, mereka juga minta didoakan. Air aqua gelasan seadanya mereka sodorkan kepada Cak Nun. Di Wanayasa lain lagi. Mereka mengerubungi Cak Nun sehingga Mas Alay dan pasukan Banser NU agak ekstra mengawal. Mereka tak patah semangat, tetap menguntit di belakang atau samping sampai berhasil menggapai tangan Cak Nun. (hm/adn)