Catatan Banjarmasin Bersyukur, 29-30 September 2016

Terus Berjalan dan Tiba di Banjarmasin

Ada keinginan yang besar dari Walikota Ibnu Sina untuk menyerap wawasan dari Cak Nun mengenai membangun kota Seribu Sungai Banjarmasin.

Setelah semalam pukul 01.00 baru selesai Sinau Bareng di Galeri Langit Art Space Yogyakarta, hari ini Cak Nun dan KiaiKanjeng sudah berada di Banjarmasin, dan tiba di Bandara Syamsuddin Noor kurang lebih pukul 15.30 WITA. Besok malam, masyarakat Kota Banjarmasin akan berkumpul di halaman kantor Walikota untuk memperingati ultah kota Banjarmasin ke-490. Untuk keperluan ini, Pemkot Banjarmasin mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Sesungguhnya bukan sekadar untuk memperingati ultah tersebut, tetapi ada keinginan yang besar dari Walikota Ibnu Sina untuk menyerap wawasan dari Cak Nun mengenai membangun Banjarmasin yang memiliki kekuatan geografis berupa sungai-sungai, sehingga Banjarmasin dikenal sebagai kota Seribu Sungai. Walikota Ibnu Sina sendiri meluangkan waktu datang ke Kadipiro pada 14 September 2016, dan berdiskusi uniknya tentang sungai kepada Cak Nun. Dalam pertemuan itu, banyak gagasan yang telah dibincang. Salah satunya, dengan sungai-sungainya itu Banjarmasin beruntung punya lingkungan yang memberinya bahan dan empirisme untuk mempelajari surga.

Pak Zul dari Pemkot dan teman-teman menjemput kami di Bandara. Setelah sejenak istirahat dan koordinasi, Cak Nun dan KiaiKanjeng diajak segera bergerak. Agenda pertama adalah ziarah ke Makam Almaghfurllah Tuan Guru Zaini di Sekumpul Martapura. Seorang ulama yang dihormati oleh Cak Nun karena keindahan hidupnya sebagai orang yang mencintai Rasulullah dengan majelis Maulidnya yang masyhur. KiaiKanjeng pernah berguru kepada Beliau. Sedemikian istimewa Tuan Guru Zaini dalam bershalawat, sampai Ibu Via  pernah mengatakan batuknya Tuan Guru Zaini pun indah. (hm/adn)