Daur (148)

Teror Sejati

Ta’qid : “Revolusi itu sangat sederhana secara gagasan, sangat pendek dan sejengkal secara pemikiran, serta sangat kerdil kalau dilihat dari perspektif asal-usul kenapa kehidupan dan ummat manusia ini diciptakan”

“Mbok sudah kamu itu ngurusi yang nyata dan sehari-hari saja, Sot”, Saimon memberi saran, “tidak ada yang mendapatkan manfaat kalau kamu terlalu memikirkan dunia rohani, mistik, Jin, Malaikat, Alam Barzakh, adzab Tuhan atau yang begitu-begitu. Terlalu ruwet. Terlalu luas. Terlalu atas dan terlalu bawah. Mbok yang biasa-biasa saja. Kalau kamu merasa sedang meneruskan tugas para Nabi, ya belajar menjadi penggembala saja dulu. Belajar bergaul dengan kambing, domba, kerbau, sapi. Yang mikro dulu. Jangan terlalu makro…”

“Contohnya…”, Markesot mencoba meladeni.

“Mudah-lah”, jawab Saimon, “kamu turunkan Kepala Pemerintahan seperti dulu kèk, kamu pecah belah sindikat-sindikat kelaliman antara tiga Lembaga Negara kèk, kamu masuki pusaran otak Panglima Tentara kèk, bikin banjir bandang kekuatan rakyat kèk, atau bikin kantor-kantor stakeholders ditelan longsor, sebarkan titik-titik api di gedung-gedung penjajahan…”

Markesot tertawa. “Jadi kamu menuduh saya pimpinan teroris”

“Yang kalian lawan kan Teror Sejati. Terorisme yang sangat terencana dengan matang, terukur dan berirama”

“Kalau itu boleh secara nilai kehidupan, dan kalau saya diizinkan secara pribadi, saya cukup pegang leher satu orang…”

“Ah melucu kamu. Mana mungkin hanya dengan pegang satu orang”

“Lainnya akan ke multiefeknya, atas bawah, delapan penjuru mata angin, lingkaran dan bulatan, semua terguncang, kalau kita goyang pusat jaringnya”

“Baiklah saya tidak membantah. Jadi, kenapa tidak?”

“Saya tidak punya kepentingan, keperluan atau kebutuhan pribadi untuk itu. Juga itu bukan suatu jenis kenikmatan”

“Lho ini bukan persoalan yang berpusat pada selera pribadimu. Ini berkaitan dengan nasib bangsa yang kamu ditugasi untuk mengawal. Bangsa yang sudah hampir sempurna diperbudak, meskipun mereka marah kalau dibilang sedang diperbudak”

“Karena saya tidak berselera, maka saya perlu perintah. Tidak usah Tuhan yang memerintah. Tidak usah Nabi atau Wali atau Leluhur. Cukup Kiai Sudrun saja”

“Kiai Sudrun kan sudah memerintahkan agar kamu kembali memulai dari hal-hal yang sederhana. Misalnya revolusi…”

“Revolusi kok sederhana”

“Revolusi itu sangat sederhana secara gagasan, sangat pendek dan sejengkal secara pemikiran, serta sangat kerdil kalau dilihat dari perspektif asal-usul kenapa kehidupan dan ummat manusia ini diciptakan”

“Tidak”, jawab Markesot.

“Kenapa tidak”, desak Saimon.

“Tidak”

“Kamu sendiri sering bilang bahwa keburukan kecil boleh dilakukan untuk menghindari keburukan yang lebih besar”

“Dulu sudah saya bikin turun Kepala Negara, karena seluruh kelas dan segmen rakyat menyepakati dia pemimpin yang buruk, kejam dan korup. Tapi kemudian terbukti, bahwa para pemimpin yang menggantikannya jauh lebih buruk, lebih lalim, lebih munafik dan kelakuan malingnya tanpa ukuran. Ternyata kelaliman zaman seperti itu sudah diam-diam menjadi cita-cita sangat banyak orang, terutama yang kariernya bergerak naik dari bawah ke atas. Kebanyakan orang ingin korupsi, ingin menjadi bagian dari kelaliman struktural, bersaing untuk turut pegang kendali strategi perampokan atas harta rakyatnya sendiri…”

“Itu namanya putus asa, Sot”

“Tidak ada urusan psikologis, tidak ada optimisme atau pesimisme. Saya hanya menjalani yang harus saya jalani”

“Lho”, desak Saimon lagi, “Apa yang kamu jalani? Negaramu dirampok secara sistematis, kemudian supaya tidak bangkrut, supaya Presiden dan Pemerintahanmu tidak ambruk, maka mereka mengemis kepada para perampok itu, agar memberikan sedikit hasil rampokan, yang sebenarnya adalah milik kalian sendiri…”

“Itu bukan Negaraku. Juga bukan Negara. Keadaannya saat ini tidak memenuhi syarat untuk disebut Negara”

“Apapun terserah. Tetapi pasti penghuni dan pelaku-pelaku kehidupan di Negaramu yang bagimu bukan Negara itu sudah tidak punya martabat lagi sebagai Bangsa, tidak punya harga diri sebagai kumpulan manusia, tidak punya kedaulatan sebagai rakyat yang memegang hak milik atas tanah airnya…”

“Kamu ini sebenarnya mau apa?”, Markesot berang, “Sebenarnya apa urusanmu dengan itu semua?”.