Daur (112)

Terbodoh dan Paling Sombong

“Kenapa kamu repot-repot menemui Dukun itu, kenapa tidak langsung saja kamu kerjain si Raja”, tiba-tiba terdengar suara Saimon.

Tak sengaja Markesot membuka matanya. Saimon sudah duduk di sampingnya sambil tersenyum agak mengejek.

“Bangsat tengik kamu, Mon”, kata Markesot.

Markesot menarik nafas panjang. Kemudian duduk bersandar pohon di samping Saimon.

Memang sangat memalukan pengalamannya dengan Sang Dukun waktu itu, bersama seorang tokoh Rakyat Berdaulat, yang rasa jengkelnya tidak pernah sirna sampai sekarang. Markesot sewot tak habis-habis. Itu orang terhadap arus batinnya sendiri saja tidak berdaulat. Apalagi terhadap sesuatu di luar dirinya, apalagi terhadap Sang Dukun, terlebih-lebih lagi terhadap Negara dan keadaan rakyatnya.

Tapi yang salah ya Markesot sendiri. Dengan insiatifnya sendiri, biaya sendiri, segala sesuatunya ia tanggung sendiri, Markesot merasa dirinya penting, sehingga repot-repot mendatangi Sang Dukun. Merasa penting, karena Negaranya sendiri, Pemerintahnya, juga rakyatnya, tidak tahu menahu tentang dia, juga tidak membutuhkan iguh pertikel apa-apa dari Markesot.

Andaikan Markesot berhasil sedikit mengubah jalannya nasib rakyat dengan inisiatif dialog dengan Dukun itu, Negaranya juga tidak untung apa-apa, rakyatnya juga tidak lantas berterima kasih kepadanya. Andaikan gagal, sebegaimana yang berlangsung, Negara dan rakyatnya juga cuek-cuek saja. Tidak ada faktor Markesot pada kehidupan mereka.

“Kenapa kamu senyum-senyum?”, Markesot jadi tersinggung melirik wajah Saimon yang tersenyum-senyum.

Saimon malah jadi tertawa. “Apakah sekadar tersenyum saja harus dilaporkan dan dipertanggungjawabkan”, jawabnya, “ummat manusia itu sedang mengidap penyakit jiwa model apa, sehingga oleh senyuman sesama makhluk Tuhan saja ia merasa tertekan”

“Saya tidak tertekan. Saya tersinggung”, kata Markesot.

“Di mana-mana yang namanya tersinggung itu lahir dari rasa tertekan oleh suatu hal”

“Sekali lagi, saya tidak tertekan oleh senyumanmu. Saya…”, Markesot melambatkan suaranya, tetapi menekan-nekankan kata-katanya, “…tidak berkenan atas muatan hati dan pikiranmu yang menyebabkan kamu tersenyum”

Saimon makin tertawa.

“Di dalam peradaban Jin kata berkenan itu diucapkan tidak oleh pihak yang memiliki hak untuk berkenan, melainkan dikemukakan oleh pihak yang mengharapkan perkenan”

Markesot menaikkan nada suaranya. “Saya tidak sedang berada dan terikat oleh peradaban Jin atau kebudayaan Manusia. Saya sedang berada di luar kedua wilayah itu. Saya sedang berbicara dengan satu makhluk, dengan aturan yang terserah-serah saya, atau terserah-serah dia, atau terserah-serah kesepakatan atau ketidaksepakatan antara kami berdua”

Simon tetap santai. “Pakai aturanmu saja”, saya menyesuaikan diri, “sebab sejak semula niat saya ke sini adalah menyatakan simpati dan mungkin sedikit menolong, jika diperlukan”

“Baik…”, tiba-tiba suara Markesot menjadi pelan dan serius, “Kalau kamu memang mau menolong saya, sekarang kamu pejamkan mata sebentar saja….”

Saimon menjawab serius juga, “Mata yang mana?”, ia bertanya.

“Ya matamu”

“Lha iya yang mana. Yang luar apa yang dalam, yang atas apa yang bawah, yang kiri atau yang kanan, yang ini atau yang itu, yang sini atau yang sana, yang dekat atau yang jauh….”

“Yang Asifiyah, yang Sulaimaniyah, yang kesatuan dari semua yang kamu sebut bertele-tele itu”

“Sulaiman tuan kakek saya, tapi bukan Guru saya. Ibnu Barkhiyah bukan Buyut saya, bukan garis ke atas dan belakang saya….”

“Jangan berlagak omong terlalu jauh. Kepada Mbah Qorin Al-Huda saja kamu tidak diterima menjadi muridnya”

“Saya otodidak”

Markesot tertawa terpingkal-pingkal. “Gayamu, Mooon, Jin kok pakai istilah otodidak segala. Sekalian kamu bikin Jaringan Jin Independen….”

“Kelemahan manusia kan di wilayah presisi. Otak mereka goyang terus. Akal mereka belok-belok. Ilmu mereka miring, bahkan sering terbalik-balik. Kurang belajar lipatan, apalagi putaran”

“Nggak usah ngritik manusia. Sekarang pejamkan mata”

Saimon memejamkan mata.

“Telunjuk tangan kirimu arahkan ke Gunung Liwanu”

Sambil tersenyum Saimon mengangkat tangan kirinya dan menunjuk ke suatu arah.

Markesot tertawa. Saimon spontan buka mata kembali dan agak kaget ternyata tidak ada gunung di arah yang ditunjuknya. Ia menoleh ke beberapa arah, ternyata Gunung itu terletak di arah belakang punggungnya.

“Ah! Kamu sudah tua masih kampungan!”, kata Saimon, “main-koordinat, jumpritan lintang bujur, sulapan garis-garis penjuru. Itu permainan kanak-kanak di dunia kami masyarakat Jin”

Markesot tertawa. “Kalian para Jin juga biasa menjadi objek Jailangkung permainan kanak-kanak di dunia manusia”

“Oo itu Jin-jin dekaden yang sudah terbuang dari perkembangan peradaban Jin”, kata Saimon, “mereka sudah ketinggalan ilmu dan kebudayaan untuk mengikuti kemajuan budaya Jin, sementara masuk dunia manusia juga setengah-setengah kemampuannya”

Markesot berkata serius: “Saya bukan mau ajak kamu main sulapan-sulapan picisan, Mon. Saya ini protes pada beberapa Pasukan Jin yang memang benar-benar bekerja dan digaji untuk mengacaukan akal masyarakat manusia. Kalian main-mainkan intelektualitas manusia. Kalian jebak-jebak pandangan ilmu manusia, terutama manusia kalangan menengah modern yang merasa lebih maju dan lebih hebat dibanding masyarakat manusia pada umumnya”

Saimon juga menjawab serius. Dan ternyata panjang lebar.

“Saya juga tidak setuju pada pasukan-pasukan bayaran itu. Tetapi saya juga paham kenapa mereka setengah terpaksa menjalankan itu. Mereka golongan Jin yang tidak mau belajar pada urutan kasepuhan Jin di dalam peta waktu penciptaan makhluk-makhluk dan alam semesta oleh Tuhan.

Mereka tidak mengerti prinsip dasar tugas Buyut Iblis, akselerasi tahap-tahapnya, formula aplikasinya di setiap era sejarah, sehingga mereka salah identifikasi, salah pemetaan, dan akibatnya salah menempatkan diri juga. Tetapi saya juga berpikir salahnya manusia sendiri kenapa menyebarkan pandangan sampai berlaku global bahwa Iblis itu dongeng, Dajjal itu Buto, Ya’juj Ma’juj itu mitologi, bahkan Tuhan sendiri mereka remehkan.

Mereka tidak sungguh-sungguh merasakan Tuhan di dalam mekanisme kehidupan mereka, maka yang mereka temukan adalah tuhan-tuhan artifisial, bahkan tuhan menurut karangan dan prasangka mereka sendiri. Kurun peradaban manusia saat ini dipimpin oleh golongan manusia yang paling bodoh namun sombong sepanjang sejarah manusia….”