Catatan Ngaji Bareng Ponpes Agro Nuur El-Falah, Salatiga 2 Oktober 2016

Terang yang Bukan Pancaindra

Padang atau terang sing tenanan itu ada dua. Pertama, terang neng hatimu karena hatimu suci. Kedua adalah suci pikiran, dikarenakan pikiranmu yang jujur

Setelah kemarin kembali dari Banjarmasin, malam ini Cak Nun dan KiaiKanjeng sudah berada di Pesantren Agro Nuur El-Falah Pulungan Salatiga untuk memenuhi permohonan pihak pesantren yang tengah memperingati haul ke-25 ayah sang pendiri yaitu H. Ahmad Darmo Thahir. Acara berlangsung di kompleks SMP dan SMK Darma Lestari yang merupakan sekolah formal pesantren ini. Para ustadz, pengurus, dan santri semua hadir mengikuti Ngaji Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng. Masyarakat umum juga mendapatkan undangan.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Sejak isya’ ketika hujan telah sedikit reda, para jamaah mulai berdatangan terutama para ibu. Karena cuaca hujan, panitia men-setting lokasi dengan diberi atap, dan di bagian lantai yang terkonblok dilapisi papan-papan untuk menggelar tikar atau karpet supaya jamaah bisa duduk tanpa terlalu terembesi oleh air hujan yang membasahi area bawah. Penerangan di area jamaah cukup terang dengan lampu-lampu berkekuatan 100-an Watt.

Dan, pukul menjelang pukul 21.00, Cak Nun dan KiaiKanjeng sudah naik di panggung. Seperti dapat dirasakan, bagian permulaan merupakan bagian sangat penting karena berperan sebagai jalan pembuka menuju kualitas kadar dan chemistry pada tahap-tahap selanjutnya. Diperlukan padatan landasan ilmu, pengondisian rohani, dan pengaitan-pengaitan sedikit demi sedikit terhadap apa yang ada di tempat yaitu audiens, tema, narasumber, dan lain-lain.

Itulah sebabnya, Cak Nun serentak menyampaikan pesan terlebih dahulu di awal agar darma yang dilakukan oleh almarhum yang sedang diperingati ini diteruskan dan dilestarikan, dan tetap jangan njagakke atau mengandalkan siapa-siapa selain Allah. Membangun pesantren harus hanya njagakke Allah. Demikianlah semua itu supaya jariyah almarhum bisa lestari. Setelah itu, Cak Nun mengikat nilai dengan nomor Pambuko di mana Cak Nun sendiri yang melantunkan Assholatu Wassalamu ‘alaik dengan suara yang lantang dan khusyu’ serta menebarkan kekuatan do’a, ketawadhu’an, dan harapan yang murni kepada Allah.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Landasan berikutnya disemaikan kepada jamaah dan khususnya para pimpinan Pesantren yang ada di panggung. Bahwa terang yang kita lihat ini adalah terang dunia, terang pancaindra. “Padang atau terang sing tenanan itu ada dua. Pertama, terang neng hatimu karena hatimu suci, hatimu biasa diisi hal-hal atau niat yang suci, termasuk suci di pesantren ini. Kedua adalah suci pikiran, dikarenakan pikiranmu yang jujur…” Kemudian Cak Nun mengingatkan kita perlu memanifestasikan kesucian Allah di dalam perilaku hidup kita. Kesucian itu sendiri berkaitan dengan keseimbangan, titik berat, dedeg (tegak), dan gravitasi dalam setiap hal. (hm/adn)