Daur (267)

Temukan Firman di Jalanan

Tahqiq : “...Al-Quran adalah saudara bungsu sesudah alam, kehidupan, dan manusia dihadirkan oleh Tuhan. Memang banyak hal dalam perjalanan manusia diperlukan cara memandang berdasarkan mripat ilmu Al-Quran....”

“Sudah berapa kali dari anak-anak muda ini muncul ungkapan bahwa keadaan semakin darurat….”, Tarmihim memotong.

Tapi rupanya Jitul tidak begitu mendengarnya. Mungkin karena pikirannya sibuk dengan apa yang sedang diucapkannya.

“Dari kalimat Mbah Sot ini jelas  bahwa yang urgen adalah melihat apa yang sedang terjadi hari ini. Maksudnya sekarang-sekarang ini. Tahap yang harus dijalani saat ini adalah memahami titik-titik kasunyatan hidup yang aktual, dengan tujuan untuk bisa menentukan apa yang bisa dilakukan”.

“Kita tidak disarankan untuk mencari ilmu demi ilmu. Kita tidak membaca ayat-ayat untuk hanya memperoleh ilmu. Sebab ilmu harus buat kehidupan, dan kehidupan itu ada Pemiliknya. Kita tidak menyapa kehidupan berdasarkan kata-kata orang, entah ilmuwan, kiai atau siapapun. Kita tidak memahami hidup dengan berangkat dari teori dan penggambaran-penggambaran, yang sebenarnya merupakan prasangka-prasangka — sebenar apapun prasangka itu….”

“Jitul…”, Tarmihim mencoba memotongnya.

“Saya pernah mendengar Pakde Brakodin menyampaikan apa yang pernah didengarnya dari Mbah Sot. Bahwa pada sejarah manusia, alam dan kehidupan lebih tua usianya dibanding ilmu, meskipun alam dan kehidupan itu baru tampak wajahnya sesudah manusia menemukan ilmu di ruang kesadarannya. Kita tidak melakukan perjalanan menuju Allah dari terminal Al-Quran. Terminal keberangkatan kita adalah alam dan kehidupan, kemudian Al-Quran pergi menemani kita dalam perjalanan menuju Maha Pencipta dan Pemilik alam dan kehidupan….”

“Baiklah, teruskan…”, Tarmihim mengalah.

“Oleh karena itu Al-Quran mengawal kita untuk sewaktu-waktu kita menanyakan hal-hal yang tak mungkin kita ketahui dengan pencarian akal dan ruh kita sendiri. Al-Quran adalah saudara bungsu sesudah alam, kehidupan, dan manusia dihadirkan oleh Tuhan. Memang banyak hal dalam perjalanan manusia diperlukan cara memandang berdasarkan mripat ilmu Al-Quran. Tetapi Al-Quran bukanlah dihadirkan untuk terutama ditafsiri. Yang setiap saat harus kita tafsiri dan tafsirkan adalah alam dan bergeraknya kehidupan, di mana Allah memperbantukan Al-Quran untuk pekerjaan itu”

“Ya. Terus, Tul…”, Ndusin menimpali.

“Pada peristiwa yang berbeda, kita justru sengaja atau tak sengaja menemukan Al-Quran di tengah kehidupan. Kita dipertemukan oleh Allah dengan firman-Nya di jalan-jalan raya, di tengah hutan belantara, di tengah kehidupan kumuh kampung-kampung, di mengalirnya udara atau di derasnya banjir, di seluruh bumi dan langit serta di antara keduanya”

“Sip, Tul”, teman-temannya juga menambahi.

“Pada pengalaman yang berbeda lagi kita menemukan yang sebaliknya: alam dan kehidupan di tengah ayat-ayat Al-Quran. Alam dan kehidupan adalah sebuah lukisan yang tak tertandingi indahnya. Adalah orchestra musik yang tak terkirakan sedap dan nyamannya. Alam dan kehidupan bersemayam di dalam jiwa manusia. Alam dan kehidupan diamanatkan oleh Tuhan untuk ditata oleh akal kita. Kemudian di puncak keberadaban kehidupan inisiatif Allah Swt ini, Al-Quran menawarkan cakrawala kreativitas dan semesta ide untuk menyempurnakan lukisan dan aransemen yang tema dasarnya adalah cinta….”

Ternyata akhirnya Brakodin yang bisa menghentikan Jitul.

“Tul, Jitul”, katanya, “tadi kamu bilang kita tidak lagi perlu berenang-renang menyelam-nyelam…. Kamu sekarang berenang jauh sekali ke lepas lautan ilmu, kamu menyelam terlalu dalam ke lubuk pengetahuan….”

Jitul berhenti bicara dan tersenyum kecut.

“Kan apa saja harus tuntas, Pakde”, jawabnya, “tidak boleh setengah-setengah, tidak ada gunanya kalau tanggung-tanggung. Jadi saya biarkan saja mulut saya menyampaikan apapun dan seberapapun yang diungkapkan oleh pikiran dan jiwa saya….”

“Katanya keadaan semakin darurat”, Brakodin mengejar, “mana sempat kita menyelam-nyelam. Sejak semula saya tidak banyak mau terlibat pembicaraan, karena meskipun Tuhan menyukai manusia yang mencari ilmu, tapi lebih menyukai manfaat dari ilmu itu. Saya sudah puluhan tahun ikut mengembara Mbahmu Markesot, menyertainya menyelam sampai ke dasar kegelapan dan terbang sampai ke dekat batas cahaya, dan saya tidak membawa pulang apa-apa kecuali kebodohan dan ketidakberdayaan….”

Jitul tertawa. “Sekarang Pakde sendiri yang berenang-renang menyelam-nyelam….”

“Lho dengarkan dulu apa ujungnya…”, kilah Brakodin.