Reportase Lingkar Daulat Maiyah Tasikmalaya Juni 2016

Tasikmalaya Merdesa

Merdesa, kalau secara fisik dan materi tidak mungkin, tidak bisa terjadi. Tapi, kalau secara maknawi tidak ada yang mustahil, itu semua bisa terjadi.

Dari Tasikmalaya. Akhir-akhir ini, Lingkar Daulat Maiyah Tasikmalaya (LDMalaya) menjadi bahan perbincangan. Dipertanyakan keberadaannya. Edisi 26 Juni 2016, Bulan Ramadhan, menjadi edisi perdana bagi LDMalaya untuk melingkar skala besar. Pun menjadi jawaban kemesraan. Dibenarkan, berbulan-bulan LDMalaya hanya menggelar lingkaran kecil di pelataran mesjid setiap Malam Jum’at. Tidak berpola, pembahasan acak-acak. Namun, selalu berujung pada salah satu tema yang memerlukan pembahasan secara mendalam. Merdesa menjadi pilihan. Pun menjadi Awal untuk menghantarkan jamaah maiyah di Tasikmalaya mengenal jati diri. Secara personal maupun identitas.

Sejarah sebagai masa depan, menjadi pijakan untuk memilih tempat digelarnya maiyah bulanan. Tepatnya di Kudang Pasantren, Mitra Batik, Panglayungan, Cipedes, Kota Tasikmalaya. Dulu, tempat ini menjadi tempat berkumpulnya orang-orang untuk mengaji. Mencari ilmu. Tak sedikit ulama yang menganggap bahwa tempat tersebut memiliki sejarah dalam peradaban Islam di Priangan Timur. Sosok KH Muhammad Syuja’i, menjadi penabur dan penyebarnya.

Lingkar Daulat Maiyah Tasikmalaya edisi Juni 2016
Lingkar Daulat Maiyah Tasikmalaya edisi Juni 2016

Jamaah sudah mulai berkumpul sejak Pukul 15.00, tak disangka bisa bertahan sampai Pukul 24.00 WIB. Lingkaran dibuka dengan musik sambil menunggu adzan untuk berbuka. Perkenalan setiap jamaah menjadi pengisi waktu senggang. Terlebih, banyak jamaah yang belum kenal. Baru bertemu di lingkaran.

“Ini itu acara apa. Kok seperti ini, semua orang berhak bicara. Pematerinya pun duduk bersama-sama kita. Baru kali ini di Tasik ada. Sama rata. Tidak ada perbedaan. Semuanya berhak berbicara bertanya sesuatu diluar tema. Ini berbeda seperti yang dikampus-kampus atau di forum-forum diskusi yang ada. Dibilang pengajian kurang pas, dibilang ceramah juga sama, seminar apalagi. Baru kali ini saya tahu maiyah. Jadi ini yang disebut maiyah. Tidak terkekang. Terasa bebas. Mau pulang bisa kapan saja,” ungkap salah seorang jamaah, disela maiyahan.

Rehat. Setelah berbuka bersama, jamaah melakukan sholat taraweh. Setelahnya, acara dibuka dengan tadarusan. Wirid wabal. Doa tahlukah. “Berbicara Merdesa, kalau secara maknawi sudah tidak asing bagi orang Sunda. Semuanya tertanam sejak dulu. Hidup sopan. Santun. Beradab, itu lama-lama sudah kita lakukan. Di sunda; ada silih asah-silih asuh-silih asih, Sholat – Silat- Siliwangi, Iman-Ilmu-Amal. Trisula. Tiga cinta. Allah-Nabi Muhammad-Al Quran,” kata Aa Syaepul Milah, saat memberikan prolog.

Merdesakan Diri

Nomor Sisi Sunyi yang dibawakan Deu Panas Tiris, menjadi penghantar untuk menjelajahi Merdesa lebih mendalam. Merdesa, kalau secara fisik dan materi tidak mungkin, tidak bisa terjadi. Tapi, kalau secara maknawi itu semua tidak ada yang mustahil, itu semua bisa terjadi. “Soalnya yang menjadi mustahil itu atau penghalang untuk merdesa itu sebenarnya kesempitan berpikir kita. Hilangnya nilai-nilai ketuhanan. Kemanusiaan. Pola pemahaman dalam berketuhanan keliru,” terang Alfie Akhmad Sa’dan Hariri, saat memaparkan pemahamannya terkait Merdesa.

Diyakininya, musuh bersama bagi kita semua adalah kesempitan berpikir. Pemaknaan terhadap tuhan sempit. Sehingga, upaya penggiringan terhadap industriliasi menghegemoni. Tanpa ada pertanyaan. Keraguan. Kapitalisme meruyak. Tanpa ada pertimbangan. “Pedagang dengan kapitalis itu berbeda, kalau pedagang jualan barang, tapi kalau kapitalis memperdagangkan semua barang,” ungkapnya.
Karenanya, kajian ilmu seperti ini sangat diperlukan.Musuh number satu dalam kehidupan bisa dikalahkan. Bisa terkikis sedikit demi sedikit. Kebersamaan ini yang akan saling menutupi lubang-lubang. Memperluas cakrawala untuk membangun pemahaman. Bukan hanya sebatas mencari informasi. “Kedatangannya teman-teman club motor ini masih ada garis lurusnya dengan puasa maupun dengan merdesa. Sama-sama mencari kebersamaan dan ingin bertransformasi dari kejenuhan yang sudah ada. Anak motor dulu yang dikenal geng sekarang bertransformasi menjadi ormas itu karena jenuh. Jadi kebersamaan ini terjadi karena adanya pemahaman bahwa kita semua sudah jenuh. Perlu shof baru. Shof yang baik. Agar tidak hampa nilai. Terkait hubungannya dengan berkendara sama-sama ngegas dan ngerem. Tahu batasan. Kapan waktunya itu semua dilakukan,” kata Aa Syaepul Milah, disela pembicaraan.

Jadi adanya lingkaran ini, bermula dari kejenuhan yang sama. Sama-sama ingin beranjak dari kejenuhan. Menemukan sesuatu. Bukan perebutan atau perlombaan yang berkaitan dengan duniawi. Tapi, lebih ke masa depan. Upaya pengolahan diri dari kejenuhan menjadi sebuah kebahagiaan yang patut di syukuri. Kekuatan hidup. Sehingga terkait adanya ungkapan Desa kuno. Desa terbelakang, tidak tertanam dalam pikiran. Perang klaim terjadi karena diri sendiri yang mebentuknya. Pun yang menyepakati.

“Misal, Tuhan ada karena ada ciptaannya. Kalau tidak ada ciptaannya, apakah tuhan ada?. Tuhan akan tetap ada karena sebab adanya pertanyaan itu kita sebagai manusia. Untuk menemui Merdesa itu tidak bisa dengan suka atau tidak suka. Senang atau tidak senang. Bukan dengan nafsumu. Bukan dengan akal picikmu. Tapi dengan rasamu. Karena rasa akan berujung pada kepuasan. Kenikmatan. Begitupun dengan menemui Tuhan,” kata Pimpinan Ponpes Kudang pasantren itu.

Lingkaran ini bisa bertahan dari pukul 15.00 sampai dengan pukul 24.00 ini karena yang kita bingkai itu kebersamaan. Rasa kenikmatan. Asas kemanfaatan berupa immaterial. Bukan bersifat materi. Lapuk. Tiada. Habis. Lingkaran ini milik semua orang. Terbuka untuk umum. Tanpa ada sekat. Layaknya bak mandi yang selalu terbuka. Air apapun itu. Yang penting sama-sama air. Sama-sama mencari titik laillaha. Sehingga nantinya kita akan terhubung pada illalah. Tahu dulu kata tidak, baru ketemu dengan ya. Dari tidak tahu akan menjadi tahu.

“Semua pemahaman yang datang kepada kita itu harus diolah. Akan nantinya tidak mentah-mentah ditelan. Tidak langsung mengatakan bahwa tradisional itu kuno. Desa itu udik. Modern itu keren. Gaul. Orang jaman sekarang. Padahal dengan mengolah kita bisa lebih bersyukur. Pe golahan adalah ciri seorang khalifah. Walaupun DNA kita itu kebanyakan ketidaksukaan. Makanya ketika kita mengerjakan sesuatu yang tidak suka maka derajat kita itu akan meningkat,” kata Ibnu Abihi, pemantik lainnya.

Nyumput Buni Dinu Ca’ang

Pembahasan secara acak. Random. Sebagai upaya untuk membuka cakrawala pemahaman. Berpikir. Sengaja keluar dari tema. Tapi, tetap mencari persambungan-persambungannya dengan tema. Inilah yang mengindahkan maiyahan. Tanpa batas. Tapi masuk pada batas. Dari pemahaman nilai-nilai kemanusian, masuk keperkumpulan atau komintas, ke filsafat, bermusik. Kumplit. Tidak ada tujuan. Tidak ada pencapaian. Bukan membuat sebuah gerakan. Menyepakati satu kesimpulan yang nantinya harus dilakukan. Dilaksanakan. “Semua bebas mengolah. Semua bebas untuk memproduksi. Menjadi produsen konsumen. Bukan berarti juga yang ada di lingkaran ini manusia produsen informasi yang kuat, setidaknya bisa menjadi konsumen informasi yang cerdas. Bukan hanya pintar. Walau ketidakjelasan itu diperlukan. Agar kita terusa berjalan. Menanam. Bukan untuk memanen.,” tambah Ihsan.

Merdesa itu ibarat jalan sunyi. Sisi sunyi kalau seperti lagu yang dibawakan Band Deu Panis Tiris.
Jadi, rahasia Tuhan itu dapat kita raba dan menghasilkan rasa sehingga rasa setiap orang dimiliki itu berbeda-berbeda. Tapi sama-sama jalan untuk mencari ilallah dengan laillalah. “Tasawuf teh lain anjeun nyumput diluhur gunung. Jauh jeung tatangga. Tapi anjeuna bisa nyumput dinu caang. Tah eta elmu tasawuf teh. Jadi ningali jelema teh lain ku mata lahir, tapi kumata batin. Intina, anjeun ulah geuleuhan ka jelema. Can tangtung bener naon anu ku anjeun katingali,” kata Pimpinan Ponpes Kudang Pasantren, saat menjelaskan tentang pemahaman kerberagamaan.

Semua yang diungkapkan sekarang ini, tidak ada yang salah. Soalnya, kita disini bukan untuk memperebutkan itu. Karena salah dan benar bukan sepenuhnya urusan kita, yang menjadi urusan kita itu bagaimana cara menyampaikannya. Yang menjadi persoalan itu bagaimana Ahlak kita ketika menyampaikan informasi yang kita ketahui.

Kenapa maiyah Tasikmalaya bernama Lingkar Daulat, aking daulatnya ini lingkaran, diberi nama daulat. Ingin mengingatkan tentang kedaulatan.  Semua jamaah berhak memberi nama lingkaran ini sesuai dengan penemuanya. Berdaulat. Ketika teman-teman motor mengatakan bahwa ini tempat bertukar pikir terkait onderdil motor. Mangga. Tidak ada masalah. Yang penting kita bersama-sama. Menemukan onderdil-onderdil zaman akhir. Begitupun dengan komunitas lain yang hadir. Semua berhak berpendapat. Dihasilkan dari pengolahan. Acara ditutup dengan doa, mushofahah, dan dilanjut dengan makan sahur bersama. (Redaksi LDM/ Epul)