Daur (68)

Tarikat at-Takkim-iyah

Takkim itu membalik hakikat kebenaran bagaimana maksudnya?

Pada masa sebelum Muhammad Saw lahir, melalui Raja yang sangat berkuasa Takkim menyebarkan pembalikan dan pembiasan: manusia dilantik jadi tuhan, aqidah dijungkirbalikkan, iman rasional digantikan oleh indoktrinasi pemahaman tentang Tuhan, Kitab Suci dirusak, diubah-ubah, dikurangi ditambahi, dipalsukan, yang sakral diprofankan, yang halal diharamkan, yang haram dihalalkan, preman diumumkan sebagai suci, orang baik di-Nabi-kan, dan berbagai macam penghancuran ilmu dan iman.

Di masa Muhammad Saw dan sepeninggal Beliau hingga saat ini Takkim memupuk kemunafikan. Kalau permusuhan antara Muslim dengan Kafir, itu masalah sederhana dan relatif jelas garis-garis batas dan perseberangannya.

Tapi kalau yang dominan adalah atmosfir kemunafikan, maka kaum Muslimin dan kaum Kafirin tidak bisa lagi berperang satu sama lain, bahkan sekadar mendata, mengidentifikasi dan memverifikasi, pun tak bisa. Yang terjadi akhirnya adalah perang brubuh, permusuhan yang silang sengkarut, multi-polar. Sampyuh.

Kelihatannya utara ternyata selatan, dan setelah didata sebagai selatan ternyata barat, sesudah diincar sebagai barat ternyata timur, akhirnya tata ofensif dan defensif didasarkan pada fakta timur, ternyata utara. Merah bukan merah, hijau itu ungu, ungu samaran jingga, jingga berubah mendadak jadi kuning, kuning mengaku biru, biru diumumkan sebagai hijau, hijau ditutupi hitam, hitam dipasangi pemancar cahaya sehingga semua orang meyakini itu adalah putih.

***

Kaum Muslimin hari-hari ini sedang asyik-asyiknya menikmati permusuhan di antara mereka, salah satu produk adu domba program strategis Takkim global. Islam dan Indonesia, khususnya Jawa, adalah barang mainan yang paling menyenangkan para “Takkimun”.

Kaum Muslimin sangat lahap menjalani kebencian satu sama lain. Sangat merasakan sedapnya memaki dan mengutuk sesamanya. Sangat serakah menyelenggarakan travel biro pengiriman orang-orang Islam sesama mereka sendiri ke neraka. Sementara penduduk bumi yang bukan Muslim dibukakan jalan untuk membangun real estate di sorga.

Di masa hidup Muhammad Saw kemunafikan dipupuk oleh Takkim tokoh Musailamah. Sempat dijuluki al-kadzdzab, si pembohong. Tetapi justru keturunannya sangat banyak di kalangan kaum Muslimin sendiri, sehingga Markesot pergi mengambil jarak sangat serius dari Negeri Kemunafikan yang secara bergantian diperintah oleh anak turun Musailamah sang Idola.

Sepeninggal Muhammad Saw Beliau digambar-gambar citranya dengan ragam manipulasi. Dibangun sejumlah pengelompokan yang dipermusuhkan, sampai tingkat toh-darah dan nyawa ratusan ribu orang. Dan itu menimbulkan map dendam dan permusuhan sampai hari ini.

Kaum Muslimin hari ini sangat rakus melahap permusuhan mak nyuss di antara mereka. Sebab Sang Takkim sudah membekali mereka selama berabad-abad dengan satuan-satuan ilmu, metodologi dan strategi bagaimana mendangkalkan pandangan mereka tentang Islam, AlQur`an dan Nabi mereka Muhammad Saw.

Pembekalan untuk proyek pendangkalan dan penyempitan itu didasarkan pada idolatri dan pemujaan terhadap filsafat Yunani Kuno, ditemani Cina Kuno untuk fungsi ilustratif-estetiknya, serta dikawal Mesir Kuno diambil departemen Fir`aunnya.

Islam dan Nusantara dilarang bangkit, jangan sampai kebesarannya disadari oleh orang-orangnya. Jangan sampai bangsa penghuninya terbangun dari tidur lelapnya. Jangan ada di antara mereka yang mulai bertanya: “Ah, mosok begini ini Islam. Ah, yang begini ini bukan bangsa Indonesia. Bukan NKRI. Bahkan bukan Negara”

***

Kalau saya terus-teruskan omong yang begini-begini, nanti kalian makin banyak tanya-tanya ke saya”, kata Markesot suatu saat.

“Jangan main-main, Cak Sot”, salah seorang memprotes, “Kalau mengawali, wajib mengakhiri”

“Kalau bercerita harus tuntas dong”

“Tidak adil meninggalkan orang lain dalam keadaan otaknya terburai, protholprothol, karena tidak bisa menghimpun pemahamannya atas omongan Sampeyan”

Tapi Markesot tidak peduli. Ia malah kemudian menyerbu mereka dengan pertanyaan dan terus mengejar jawabannya.

“Apa gunanya kamu bertanya kepada saya. Seandainya saya bisa menjawab, tidak akan menghasilkan nilai apa-apa, tidak mengubah apa-apa. Tanya jawab dengan saya bisa merugikan kamu, tapi tidak memberi keuntungan apa-apa. Kenapa tanyanya tidak ke Tuhan saja, supaya langsung efektif terhadap hidupmu, nasibmu, masa depan anak-anakmu”

Tanya apa ke Tuhan?

“Ya banyak sekali”

Misalnya?

Markesot menemukan jalan untuk me-nylamur-kan mereka ke wilayah tema yang berbeda, sehingga mudah-mudahan mereka sejenak melupakan yang sebelumnya.

“Sepanjang kita dilibatkan dalam hidup yang ini”, katanya, “Tuhan sangat serius menegas-negaskan soal pentingnya iman, aqidah, akhlaqul karimah, shirathal mustaqim, barokah dan adzab, ibadah terus-menerus, sorga dan neraka. Tapi bersamaan dengan itu Tuhan memberi pernyataan bahwa kehidupan di dunia ini sebenarnya hanya permainan dan senda gurau. Gimana dong”

Sialnya Markesot sering mengemukakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, tidak lantas mencoba ikut menjawabnya. Ketika orang lain tidak merasa memerlukan jawaban atau penjelasan tentang sesuatu hal, Markesot malah menguraikannya panjang lebar.

Teroris sejati ya Markesot ini. Kerjanya mengganggu pikiran orang. Ngasih ‘pekerjaan rumah’ ke setiap orang yang berjumpa dengannya. Ninggali beban-beban pertanyaan, keraguan, penasaran, kebingungan, ganjalan, di dalam pikiran setiap orang.

“Manusia diwajibkan selalu bersyukur. Dan tema syukur itu diseberangkan atau dipertentangkan dengan kufur. Siapa tidak syukur berarti kufur. Jadi, sedikit saja kita lalai bersyukur, kita jadi kafir. Mudah sekali kita terpeleset menjadi kafir. Sekarang banyak orang dan kelompok yang rajin mengkafir-kafirkan orang atau golongan lain. Padahal tak usah dikafirkan pun kita sudah lama pandai dan terbiasa untuk terpeleset jadi kafir.”

“Saya sendiri ini contoh yang gamblang”, kata Markesot, “Kafir saya banyak pastinya, muslim saya belum tentu semua. Kalau orang mengkafir-kafirkan saya, malah mendapatkan tiga macam kerugian”

Kok aneh. Kan tindakan pengkafiran itu bisa merupakan bentuk nahi munkar, memberi peringatan, mengkritik dan menganjurkan perubahan dan perbaikan pada yang dikafirkan. Kok malah mendapat tiga macam kerugian.

“Pertama”, Markesot tidak peduli, “Kemungkinan besar Tuhan tersinggung perasaan-Nya karena ada makhluk yang mengambil alih hak-Nya. Kok lancang. Berani-beraninya. Melebihi Firaun”

“Kedua, karena tudingan pengkafiran itu ungkapan budaya dan formula komunikasinya kebanyakan merupakan makian dan kutukan, maka bisa-bisa malah mengurangi dosa orang yang dikafirkan”

“Dan ketiga, begitu saya dikafirkan, yang spontan muncul di hati saya adalah rasa geli, dan yang nongol di otak saya adalah rasa takjub kepada dekadensi pengetahuan orang yang mengkafirkan saya. Kok baru sekarang dia tahu bahwa saya kafir. Kekufuran adalah faktor dominan yang memenuhi hidup saya, sementara kemusliman merupakan minoritas. Itulah sebabnya tak berhenti saya berjuang untuk berbuat baik, demi mengimbangi dominasi kekufuran hidup saya”.