Daur (138)

Tarian Tali-tali Cahaya

Ta’qid : “...memberi pencerahan kepada rakyat, menyelenggarakan pendidikan politik di sana-sini, menyebarkan penyadaran sejarah, dan berbagai hal lain yang sudah jelas tidak ada gunanya semacam-semacam itu. Iya tho? Mon, iya to? Begitu kan pesan Kiai Sudrun kepadamu?”

Ada yang melintas-lintas di seputar arena itu, menebar kesejukan, tapi tak terlihat bentuknya. Ada yang gelombang. Bahkan ada berwarna-warni namun kaum manusia tak pernah dan tak akan pernah mampu melihat atau merumuskannya. Ada suara yang bening. Juga yang gemeremang.

Berjejal-jejal. Ada yang berasal dari masa silam, tak sedikit juga yang dari masa depan. Para sesepuh kehidupan. Para leluhur mereka yang hadir. Para Sunan dan Masyayikh, Ki Ageng, Ki Gede, rombongan Brahma murid Nabi Ibrahim yang segenerasi maupun yang anak cucunya.

Tetapi pada sangat banyak jenis dan bentuk makhluk yang bermacam-macam itu, ada satu yang sama. Yakni cahaya yang berdenyar-denyar antara titik pusat kehadiran masing-masing makhluk itu dengan langit. Beribu-ribu, mungkin berjuta-juta tali cahaya menyambung langit dengan arena itu. Cahaya yang di kandungannya terdapat sesuatu yang mengalir dan bergelombang-gelombang, ulang-alik langit-bumi bumi-langit.

Ribuan makhluk itu bukan pemancar cahaya, mungkin mereka penerima pancaran cahaya. Kemudian memantulkannya. Kemudian ditimpa pancaran lagi, memantulkannya kembali, demikian seterusnya. Masing-masing akhirnya hanya berwajah dan berujud cahaya. Atau lebih tepatnya mereka adalah bagian dari pesta cahaya.

Di antara mereka ada yang memahaminya sebagai tali cahaya tajalli. Ada yang menyebut tali cahaya hidayah. Atau tali cahaya ridla. Tali cahaya ‘isyiq. Juga ada yang menyederhanakannya sebagai tali cahaya mahabbah. Tapi ada juga yang menghayati dan menikmatinya sebagai tali cahaya cinta.

Saimon dan Markesot berdiri di bawah sebuah pohon, agak jauh di bagian belakang dari pusat arena, tanpa berbicara satu sama lain.

Markesot melirik ke wajah Saimon. “Kamu tampaknya heran dan agak kagum melihat suasana di arena ini”, katanya.

“Ingat lho Sot, saya yang mengajak kamu ke sini. Jadi jangan sampai bodoh menyangka bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang apa yang berlangsung di sini”

“Saya bukan menyangka. Saya hanya membawa wajahmu”

“Tai Jin kamu”

Markesot tertawa kecil. “Di dunia manusia untuk memaki tidak perlu sampai menggunakan tainya sendiri. Cukup tai kucing”

Saimon tertawa.

Semakin malam, pesta tarian beribu tali-tali cahaya semakin meriah, tetapi berlangsung dalam keheningan. Riuh rendah dan penuh pergerakan-pergerakan sangat indah, tapi dibungkus di dalam tabung raksasa kesunyian.

Hampir dua puluh tahun silam, yang berdenyar hanya beberapa utas tali, yang masih belum benderang wujudnya sebagai cahaya. Berikutnya dari bulan ke bulan bertambah menjadi ratusan, kemudian ribuan perayaan tali-tali yang makin terang kehadirannya sebagai cahaya.

“Mon, kamu dengan mantap menyeret saya ke sini ini”, kata Markesot, “tanpa kamu tahu bahwa kamu sedang menjebak dirimu sendiri”

“Menjebak apa?”, Saimon bertanya.

Markesot tertawa. “Sebenarnya saya juga melarangmu untuk bertanya, sebagaimana kamu melarang saya untuk bertanya. Tapi tak apa, saya mengalah…”

“Menjebak apa?”, Saimon mendesak.

“Baiklah saya jelaskan. Pelan-pelan. Dan jangan dipotong”

“Ya. Menjebak apa?”, Saimon tidak sabar.

“Kamu kan dipesan oleh Kiai Sudrun untuk mendesak saya agar kembali ke bumi, kembali menginjak tanah, mengurusi persoalan-persoalan nyata manusia, problem sosial, konstelasi dusta politik, kebohongan kekuasaan dan penyamaran penguasaan, mengkritisi kepengurusan Negara, memberi tenaga kepada mesin anti korupsi, menganalisis lapisan-lapisan ketertindasan rakyat, dan semua yang sejenis-jenis itu — kemudian diharapkan saya ikut memberi pencerahan kepada rakyat, menyelenggarakan pendidikan politik di sana-sini, menyebarkan penyadaran sejarah, dan berbagai hal lain yang sudah jelas tidak ada gunanya, semacam-semacam itu. Iya tho? Mon, iya to? Begitu kan pesan Kiai Sudrun kepadamu?”.