Tak Sekadar Bersalaman

Tak sekadar bersalaman atau cium tangan, tapi mencium penuh tawadhu’ dengan cukup lama dan penuh penghayatan: seperti mencucup sesuatu.

Mengikuti perjalanan Cak Nun adalah juga perjalanan menyaksikan suatu ungkapan emosi yang unik. Orang-orang yang menyadari adanya Cak Nun di satu tempat, dan segera mendekat, terlihat menunjukkan suatu passion dan ungkapan tersendiri.

Masuk di pintu boarding room Bandara Cengkareng siang tadi, tiba-tiba seorang pemuda berbusana rapi beranjak dan melangkah cepat menyongsong Cak Nun. Ia segera menyalami, dan mencium punggung tangan Cak Nun, sembari memperkenalkan diri.

Festival Gerhana Matahari Total 2016
GMT 2016. Foto: Adin.

Begitu pula saat tiba di Bandara Depati Amir, beberapa orang menyapanya, menyalami dan mencium tangan Cak Nun. Mengajak berbincang sejak dengan bahasa tubuh yang menandakan rasa hormat.

Di restoran tempat KiaiKanjeng makan siang di Pangkalpinang ini pun juga begitu. Selesai makan, mas-mas dan mbak-mbak pelayan minta foto bersama. Dan sesudah itu, mas-mas itu — yang boleh jadi baru kali pertama bertemu Cak Nun — menyampaikan terima kasih sembari menyalami dan mencium tangan Cak Nun.

Mereka tak sekadar bersalaman, tetapi mencium tangan penuh tawadhu’. Itu baru sedikit dan belum seberapa. Hal yang sama juga sudah tak terhitung kali bisa disaksikan setiap kali acara Maiyahan berakhir dan memasuki sesi berjabat tangan. Bahkan macam-macam detail ekspresinya. Tak sekadar cium tangan, tapi mencium dengan cukup lama dan penuh penghayatan: seperti mencucup sesuatu. Dan ekspresi-ekspresi lain yang mengandung kedalaman emosi dan muatan batin yang mungkin aneh bagi pandangan orang-orang modern.

KiaiKanjeng terus berjalan, menyusuri jengkal-jengkal ruang, sembari bertanya di dalam hatinya: di zaman kekinian ini, siapakah lagi yang memahami dan menghargai arti ketawadhu’an?