Daur (163)

Tak Ada Juara di Dunia

Ta’qid : “Semua manusia bukan adalah manusia. Manusia hanya ‘berperan sebagai’, tapi tidak pernah ‘menjadi’ dan tak akan pernah ‘adalah’....”

Sambil tengkurap meregang-regangkan tubuh, Barkodin bertanya: “Kira-kira masih berapa ratus lagi alasanmu untuk menolak dunia maya?”

“Sebenarnya satu saja”, jawab Markesot, “cuma di dalam satu terdapat titik-titik yang jumlahnya tak terbatas…”.

“Aduuuuuh… apalagi itu”

“Secara ruang tidak ada tepinya, secara waktu tak ada ujungnya”

“Gusti Allah paringono sabar

“Di antara para Ulama dan Sufi sepanjang sejarah, tidak ada yang sanggup menggambarkan itu melebihi Muhammad Ali”

“Muhammad Ali cerpenis Surabaya itu?”

“Muhammad Ali Cassius Clay”

“Oo yang petinju barusan almarhum…”

“Jangan pernah menyimpulkan Muhammad Ali adalah petinju”

“Lho kan memang petinju”

“Tapi bukan ‘adalah’ petinju”

“Aduh ruwetnya…”

“Muhammad Ali ditugasi oleh Tuhan menjadi manusia biasa, disuruh menjadi Salik atau pelaku thariqat, maqam atau mediumnya dunia tinju”

Monggo-lah…”

“Semua manusia bukan adalah manusia. Manusia hanya ‘berperan sebagai’, tapi tidak pernah ‘menjadi’ dan tak akan pernah ‘adalah’…”

Barkodin mulai berpikir untuk membiarkan dirinya mengantuk dan tidur. Persahabatannya yang sangat panjang dengan Markesot sudah tidak menyisakan sopan santun budaya apapun. Biar saja Markesot ngomyang. Ia tidak terikat etika untuk mendengarkannya. Etika dan sopan santun hanya berlaku bagi dua orang yang belum saling percaya dan pasrah satu sama lain.

Di antara Markesot dengan sahabat-sahabatnya sudah tidak berlaku semua itu. Ada sedikit kesepakatan diam-diam tentang privacy, tapi belum pernah terjadi. Andaikan satu di antara mereka mencuri atau bahkan merampok milik sahabatnya, pihak yang dirampok tidak marah, merelakannya, karena masing-masing sudah saling percaya secara mendasar bahwa semua tindakan mereka pasti ada alasannya.

“Muhammad Ali diperintah Allah untuk menyebarkan nilai-nilai-Nya dengan cara yang spesifik khusus untuk Ali. Ia tampak seakan-akan seorang jagoan tinju, humoris yang sangat cerdas, filosof yang unik dan komunikator yang luar biasa”

“Kalau dilihat-lihat dengan saksama jagoan tinju itu relatif. Ali pernah menjadi Juara Dunia tiga kali. Tapi juara itu hanya beberapa saat berlakunya, yaitu ketika ronde-ronde pertandingan berakhir, ia dinyatakan Juara dan mengangkat piala atau dikenakan sabuk di pinggangnya. Sesudah itu bukan Juara lagi. Sebab kalau sesaat kemudian ia disuruh tanding lagi melawan Sonny Liston, Joe Frazier atau George Foreman, belum tentu Ali menang lagi. Sonny, Frazier dan Foreman secara teoretis lebih kuat dibanding Ali. Tetapi kemenangan Ali karena komprehensi kesadaran dan totalitas tauhidnya. Di Manila 1975, dalam Fight of the Century, Thrilla in Manila, pada istirahat antara ronde 14 menuju 15, Ali sudah lumpuh. Ia berbisik kepada Allah: ‘Wahai Kekasih, mohon perkenan, izinkan jatah tenagaku besok pagi, aku pakai sekarang ini sedikit saja…’ – Ali siap berdiri lagi untuk ronde terakhir. Joe Frazier tidak bangkit dari kursinya, pelatihnya menyatakan petinjunya menyerah”

“Padahal sepulang dari stadion tempat pertandingan mereka, Ali masuk Rumah Sakit dan Frazier berdansa di klub malam. Maka Juara itu sesaat. Tidak ada Juara di dunia, karena kehidupan dunia adalah babak penyisihan. Juara adalah yang kelak diterima Allah dengan ridla. Itu pun juara atas kehidupannya sendiri. Menang melawan nafsunya sendiri. Tidak ada juara dalam posisi mengalahkan orang lain. Tidak ada menang dalam pengertian unggul atas orang lain. Kecuali Allah dan Rasulullah yang menyatakan dan melantiknya”

“Manusia yang mengejar kemenangan atas manusia lain, adalah manusia yang dimerdekakan oleh Allah tapi memilih kehinaan dengan meletakkan manusia sesamanya di kerendahan. Tatkala Muhammad Ali berteriak ke seantero dunia ‘I am the Greatest’, aku yang terbesar, ‘Ana Akbar’ – pandanglah yang tersembunyi di balik senyum kelakarnya: Ali bukanlah Ali. Sebab sejatinya Ali tidak ada. Apapun saja sejatinya tidak ada. Satu-satunya yang sejati ada adalah ‘Allahu Akbar’…”

Kemudian ternyata ketika Allah memanggil Ali, Ia membukakan fakta bahwa tidak ada ‘atlet’ yang dihormati, dicintai dan dijunjung oleh seluruh olahragawan, masyarakat, Dunia, Amerika, semua ras, semua kelompok dan golongan, semua pemeluk Agama-agama — melebihi Muhammad Ali.

Ternyata benar-benar ada juara dunia, fi ‘illatillahi wa hujjatillah….