Daur (56)

Tak Ada Cita-Cita Yang Tercapai

Markesot mencoba membangkitkan hatinya, dengan memunculkan kembali keyakinannya sejak lama bahwa dalam kehidupan di dunia yang sangat sejenak ini, belum pernah ada cita-cita yang tercapai.

Belum pernah ada, bahkan tak kan pernah ada. Tidak juga pada para Rasul dan Nabi. Bahkan tidak terjadi pada makhluk yang paling dicintai oleh Tuhan semesta alam.

Nanti dulu.

Kalau sekedar cita-cita menjadi presiden, pengusaha sukses, tokoh berprestasi, orang kaya dan yang semacam-macam itu, sangat mudah mencapainya. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana siapa saja dianggap pantas menjadi apa saja. Di zaman di mana ukuran yang berlaku adalah kepentingan pihak yang berkuasa, yang menguasai modal dan perangkat-perangkat sejarah.

Tetapi yang begitu-begitu itu namanya bukan cita-cita, melainkan ambisi. Jelasnya, ambisi pribadi. Kita punya seratus piring nasi hari ini dan jutaan piring nasi untuk makan sampai ke masa depan, sementara orang lain hari ini belum pasti akan bisa makan sepiring nasi — itu bukanlah pencapaian cita-cita.

Itu sukses karier pribadi. Dan karier pribadi itu memalukan di tengah sesama makhluk di jagat raya, apalagi di hadapan Maha Pencipta dan Pemilik Sejati segala sesuatu.

***

Bahkan seandainya pun sukses yang dicapai tidak hanya berlaku pribadi, melainkan berlaku se-Negara atau se-Dunia, tetapi terbatas pada kemakmuran, sandang pangan beres, transportasi lancar, papannya gedung-gedung pencakar langit, sampai pun bisa berkomunikasi dengan teman di kutub utara memakai jari-jari sambil buang air besar, ditambah merebaknya balon-balon maya di atas kepulauan Nusantara — itu bukan pencapaian cita-cita. Itu teknologi dan peradaban yang tidak berlaku lagi begitu jantung manusia berhenti berdetak.

Segala sesuatu yang dibatasi oleh mati, bukanlah sukses. Sukses adalah suatu pencapaian yang melampaui maut, yang abadi melintasi kematian, mengalir hingga titik simpul di mana awal dan akhir menyatu.

Dan peradaban ummat manusia, meskipun mereka berbekal Kitab-kitab Suci maupun khazanah-khazanah post-post-post-modernisme, yang batas pengetahuannya menyimpulkan bahwa yang disebut kehidupan adalah yang di dunia, dan yang di luarnya atau sesudahnya disebut kematian – maka merekalah makhluk yang paling gagal, atau minimal yang terendah pencapaian ilmu dan lelakunya.

Kemakmuran sungguh-sungguh tidak bisa menjadi parameter primer dari sukses kehidupan. Indonesia anak bungsu yang sedang online hari-hari ini, dibekali oleh Bangsa yang melahirkannya dengan pedoman sangat sederhana namun sanggup mengantarkan mereka menuju sukses sejati dan abadi. Yakni: Adil Makmur.

Bukan Makmur Adil. Kalau kemakmuran ditempuh sebagai tujuan utama, semua peradaban menjalaninya melalui jalan ketidakadilan. Sebaliknya jika keadilan yang ditempuh, maka kemakmuran akan menemukan karakternya yang lebih luas dan multidimensional bagi manusia dan kemanusiaan.

Keadilan adalah kemakmuran yang sejati. Kemakmuran yang berdiri sendiri, akan selalu melanggar keadilan, dan sibuk mengembangkan ilmu dan metode untuk mengkamuflase ketidakadilan supaya tampak sebagai keadilan.

Lelaku adil melampaui mati, kemakmuran sia-sia karena setiap orang hanya punya satu kepastian: menunggu giliran mati. Dan manusia benar-benar akan mati kalau ilmunya menyangka bahkan meyakini bahwa yang disebut mati itu sungguh-sungguh mati.

Maka Indonesia yang merasa sedang membangun kehidupan dengan mentuhankan kemakmuran, aslinya sedang menempuh kematian yang sejati, sebelum tiba si “ajal”, yakni yang mereka sangka kematian.

***

Markesot selalu tampak sangat santai, penuh kelakar dan senda gurau, sepanjang ia berada di tengah orang banyak. Tapi perhatikan begitu ia sendiri, Markesot tampak sebagai manusia yang hidupnya menangis.

“Kenapa Nabi Muhammad Saw yang amat sangat dicintai Allah, dijamin sorganya, menjadi orang agung yang sangat utama dalam sejarah ummat manusia, tiap malam berjam-jam menangis dalam sujudnya?”, Markesot pernah terpaksa menjawab pertanyaan seolah-olah ia seorang Kiai.

“Karena cita-cita pribadi itu sangat mudah tercapai, apalagi bagi beliau yang segala sesuatunya dijamin oleh Tuhan. Tetapi Kanjeng Nabi tidak pernah mengakui kepentingan pribadi itu sebagai atau menjadi cita-cita. Yang rasional untuk disebut cita-cita adalah akhlak mulia ummat manusia yang menghasilkan keadilan di bidang apapun di antara mereka. Dan beliau menangis tiap malam karena tahu persis bahwa cita-cita itu tidak akan pernah tercapai selama kehidupan di dunia”.

“Terjadi peperangan besar yang pangkalnya adalah istri dan menantu beliau, yang gelombang rasa sakitnya njarem sampai di zaman sekarang ini. Apa sejatinya rahasia dibalik ketentuan Tuhan bahwa makhluk masterpiece bernama Muhammad bin Abdullah ini justru dituliskan oleh-Nya untuk punya dua cucu, yang satu diracun istrinya sendiri dan yang lainnya dipenggal kepalanya, bahkan jenazahnya diseret menempuh jalanan bergerunjal yang sangat jauh?”

“Siapakah di antara kita, yang bukan Nabi bukan Wali bukan Ulama bukan Kiai bukan tokoh bukan siapa-siapa ini yang dianugerahi Allah penderitaan batin melebihi Baginda Muhammad? Apakah istrimu bertengkar dengan menantumu? Apakah cucumu diracun oleh istrinya dan satunya dipenggal kepalanya?”

“Masuk sorga itu pasti bagi Muhammad, tetapi ia mengisi malam-malamnya dengan tangis. Masuk sorga adalah pencapaian pribadi, dan Baginda Muhammad tidak bergembira-ria merayakan itu. Sebab hinalah bagi kepribadian beliau untuk bangga dan gembira oleh pencapaian pribadi. Yang disebut cita-cita oleh Baginda Muhammad adalah keadilan akhlak ummat manusia di Bumi, perkebunan luas rahmatan lil’alamin, yang buahnya adalah kemakmuran rohani dan bonus kemakmuran jasmani”.

“Tetapi beliau manusia mulia, dengan software rohani paling canggih, tak cukup dikostumi geniousitas, mengerti dan melihat dengan terang benderang bahwa tidak ada cita-cita yang tercapai selama hidup di dunia. Kakek Adam ditikam oleh derita melalui tangan Qabil yang membunuh Habil kakaknya. Dan Baginda Muhammad hampir tak punya muatan apapun di dalam dadanya kecuali dua hal. Pertama, Allah. Kedua, kesedihan yang sangat mendalam atas ummatnya di masa depan. Sampai detik-detik hijrah beliau dari alam yang ini ke alam berikutnya dihiasai oleh ratapan Ummatiii…ummatiii”

***

Markesot tidak pernah punya pencapaian sukses pribadi apapun dan ia memang tidak mempedulikannya. Malam ini ia berangkat mencari Kiai Sudrun untuk memproses cita-citanya.

“Apakah banjir yang menenggelamkan ummat Nabi Nuh adalah cermin kegagalan dakwah Nabi Nuh? Juga apakah bencana-bencana besar yang menghancurkan masyarakat Nabi Hud, Nabi Shaleh atau Nabi Luth adalah ‘raport merah’ yang membuktikan kegagalan perjuangan beliau-beliau?”

“Jelas bahwa cita-cita para Rasul itu tidak tercapai, tetapi itu tidak sama dengan kegagalan…”

Demikian tausiyah ‘Ustadz’ Markesot.

Jelasnya, demikian cara Markesot menghibur dirinya sendiri, membesar-besarkan hatinya yang layu.