CakNun.com

Tahlilan Tujuh Hari Wafat Mbak Dewi Islami

Redaksi
Waktu baca ± 3 menit

Setelah subuh tadi baru saja usai Maiyahan Mocopat Syafaat, malam ini Cak Nun dan KiaiKanjeng berada di rumah Mas Islamiyanto di Delanggu untuk mengikuti Yasinan dan Tahlilan memperingati tujuh hari wafatnya Mbak Dewi Islami.

Selain Cak Nun dan KiaiKanjeng, hadir pula sejumlah Jamaah Maiyah, terutama jamaah majelis Cahyo Sumebar, dan tentunya para tetangga Mas Islamiyanto. Sementara itu Letto hadir diwakili oleh drummernya yaitu mas Dedot yang belum lama ini mengakhiri masa lajangnya. Ruangan dalam rumah Mas Islami maupun di luarnya dipenuhi jamaah yang hadir.

Mas Islami dengan senyum, keramahan, dan kelembutan hatinya menyambut Cak Nun dan KiaiKanjeng serta para jamaah seluruhnya. Dan seperti saat pemberangkatan jenazah almarhumah, malam ini pun Mas Islamiyanto sendiri yang memimpin pembacaan surat Yasin dan Tahlil. Sebelumnya, dalam sambutannya menggunakan bahasa Jawa yang halus, Mas Islami memohon keikhlasan semua hadirin untuk ikut membaca surat Yasin dan Tahlil dengan harapan Allah berkenan memberikan ampunan atas dosa-dosa almarhumah semasa hidup, pahala atas amal ibadahnya, dan derajat yang tinggi kepadanya.

Cak menjelaskan makna kata ‘terputus amal’.
Cak menjelaskan makna kata ‘terputus amal’.

Setelah doa tahlil selesai dibaca, Cak Nun dan KiaiKanjeng serta seluruh hadirin berbincang santai dalam suasana tetap memberikan support kepada Mas Islamiyanto dan kedua anaknya. Tak lama kemudian acara dilanjutkan dengan pengajian yang disampaikan oleh Kiai Sadzili AR, SH.

Kiai Sadzili, dalam gaya khas kultural kiai NU, mengingatkan dan memaparkan empat kewajiban orang yang masih hidup kepada orang yang meninggal dunia serta tujuh rukun sholat jenazah. Rupanya, nilai-nilai atau tuntunan itu ada dikemas dalam sebuah tembang. Kiai Syadzili meminta ayahanda Mas Islamiyanto untuk menembangkannya. Tak hanya menyampaikan uraian, Kiai Sadzili juga melantunkan shalawatan-shalawatan.

Sementara itu ketika Kiai Sadzili belum tiba, Cak Nun diminta memberikan ‘urun ilmu’. Dalam kesempatan ini, Cak Nun menyampaikan ilmu dan dorongan kepercayaan kepada hadirin dan masyarakat mengenai tiga hal: tradisi Yasinan Tahlilan, tentang orang yang sudah dipanggil Allah, dan tentang dunia-akhirat yang selama ini terbalik-balik pemahaman kita.

Terlebih dahulu Cak Nun memberikan dasar pemahaman. Di dalam agama, ada yang namanya tuntunan (hidayah). Tuntunan itu ada yang berbentuk perintah (amar), anjuran, dan larangan. Seluruh perilaku orang Islam sesungguhnya berada di antara ketiga hal itu.

Kadang-kadang orang perlu menyadari dan memahami bahwa anjuran tadi lebih tinggi derajatnya, dalam arti sesuatu yang dilakukan itu tidak wajib hukumnya, tetapi dia mau dan ikhlas melakukan apa yang sebenarnya tidak wajib itu.

Kemudian perlu juga dipahami bahwa melakukan sesuatu tidak harus karena perintah. Bisa karena anjuran. Bisa berdasarkan tidak melakukan larangan. Artinya, ada yang boleh dilakukan meskipun tidak ada perintahnya tetapi tidak pula ada larangannya.

“Nggak Yasinan ya nggak apa-apa, tapi daripada mengenang orang mati tapi nggak jelas yang dilakukan, ya ada baiknya membaca al-Quran. Tapi kalau mbacanya seluruh al-Quran kan ya kok ampuh banget, maka dicari surat yang ‘cespleng’, lalu kita pilih surat Yasin. Pun demikian dengan tahlil. Dibaca lurus-lurus saja juga nggak papa, tapi kok nikmat pula dibaca sembari rengeng-rengeng dan berirama, ya baik juga. Jadi ini hasil atau komposisi dari ijtihad,” papar Cak Nun coba mendeskripsikan dalam bahasa yang mudah dipahami mengenai proses lahirnya tradisi yasinan atau tahlilan.

Yasinan dan Tahlilan merupakan hasil atau komposisi dari ijtihad.
Hasil atau komposisi dari ijtihad. Foto: Adin.

Selanjutnya, Cak Nun menjelaskan mengenai orang yang sudah meninggal. Nabi bersabda bahwa jika anak Adam mati maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal: ilmu yang bermanfaat, shadaqah jariyah, dan anak shaleh yang mendoakan orangtuanya. Cak menjelaskan kata ‘terputus amal’ di situ maksudnya adalah orang meninggal itu sudah tidak bisa melakukan sesuatu sebagaimana dia masih hidup, tetapi barokah dan ganjaran perbuatan dia masih terus berlanjut dan mengalir.

“Alhamdulillah ada orang tahlilan yasinan. Seandainya tidak sampai ke almarhum, kan tetap baik dan bermanfaat buat yang melakukannya. Dan kalau baik bagi yang melakukannya, logikanya juga baik pula buat almarhum, sebab Allah itu tidak pelit. Tur sopo iso mestikke (lagi pula siapa bisa memastikan), sebab manusia itu posisinya berdoa, berharap, atau semoga,” terang Cak Nun mengajak masyarakat berpikir mencari baiknya sesuatu, bukan menghakimi.

Terakhir, Cak Nun menguraikan bahwa kalau sesudah mati ya sudah selesai semuanya, untuk apa ada hidup. Karena itu, pemahaman akan dunia dan akhirat tidak boleh terbalik-balik. Orang bilang hidup cuma sejenak mampir minum. Itu berarti dunia tak selayaknya dijadikan tujuan utama, di mana habis hidup di dunia selesai segalanya, sebab masih ada yang bernama akhirat. Itulah sebabnya Allah mengingatkan agar manusia berusaha maksimal menggapai akhirat tetapi dalam proses itu hendaknya tidak lupa terhadap jatah di dunia. Sekarang banyak yang terbalik, mencari dunia sambil tak lupa akhirat. Dunia dinomorsatukan, akhirat dinomorduakan.

Usai seluruh rangkaian acara, Cak Nun masih meluangkan waktu ngobrol dengan teman-teman Cahyo Sumebar. Juga hadir malam ini di kediaman Mas Islamiyanto adalah Pak De Pur, salah seorang tokoh masyarakat dan sesepuhnya ‘wong cilik’ Solo yang sudah dari dulu sangat akrab dan mencintai Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Lainnya

Exit mobile version