Tadabburan Bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng

Kurang lebih dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Maiyahan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng seringkali menggunakan istilah “Sinau Bareng” atau “Ngaji Bareng”. Sebuah istilah yang sebenarnya tidak begitu asing di telinga masyarakat Indonesia. Istilah “Sinau” misalnya, dalam bahasa jawa istilah tersebut dapat dipahami dengan artian belajar, sehingga orang pun akan mudah menemukan alasan untuk hadir dalam sebuah Maiyahan, karena tema besarnya adalah belajar. Kata “bareng” sendiri sangat mafhum diartikan sebagai bersama.

Jika kita telusuri lebih jauh, dalam tradisi kehidupan pesantren, kata “Ngaji” sendiri merupakan sebuah terminologi yang sudah mengakar. Jika seorang santri mengatakan “Saya mau Ngaji kepada Kiai A”, misalnya, maka akan dipahami bahwa santri tersebut akan belajar ilmu pengetahuan tertentu dalam khasanah keilmuwan dunia pesantren kepada seorang Kiai yang dianggapnya menguasai ilmu pengetahuan tersebut.

Pada hakikatnya, kata “Ngaji” dan “Sinau” sebenarnya memiliki arti yang sama dalam bahasa budaya sehari-hari di Indonesia, yaitu belajar. Kata “Ngaji” bagi sebagian masyarakat di Indonesia memang diartikan lebih sempit: membaca Al Qur’an. Tetapi pada pelaksanannya, yang terjadi dalam sebuah forum pengajian bukan hanya membahas apa yang terkandung di dalam Al Qur’an, bahkan mampu meluas hingga ilmu pengetahuan modern. Dan inilah yang sejak lama sudah dilakukan oleh Cak Nun bersama KiaiKanjeng keliling ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan di beberapa negara lintas benua.

Setidaknya dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, istilah “Sinau Bareng” dan “Ngaji Bareng”, awalnya tidak begitu populer. Namun setelah dalam beberapa Maiyahan, Cak Nun dan KiaiKanjeng selalu mengangkat tema besar dua istilah tersebut kemudian diadaptasi oleh banyak pihak. Bahkan model forum Maiyahan yang selama ini lazim dilaksanakan oleh Jama’ah Maiyah bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng mulai diduplikasi, mulai dari ormas besar di Indonesia, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, hingga partai politik yang cukup populer di Indonesia.

Tadabbur bersama Cak Nun KiaiKanjeng
Tadabbur bersama Cak Nun KiaiKanjeng. Foto: Adin.

Animo masyarakat yang begitu besar terhadap forum Maiyahan yang berlangsung di beberapa kota di Indonesia, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya.  Sepertinya cukup menarik perhatian beberapa pihak sehingga mereka berniat ingin membuat forum, yang mana salah satu tujuannya adalah agar dihadiri oleh massa yang cukup banyak. Bukan sebuah keanehan sebenarnya, karena jumlah massa yang banyak yang hadir dalam sebuah forum tentu merupakan salah satu elemen penting dalam kehidupan demokrasi di Indonesia saat ini.

Bahkan, sudah sejak lama Cak Nun “difitnah” bahwa Maiyahan yang selama ini terlaksana di beberapa daerah di Indonesia, bahkan rutin setiap bulannya dan dihadiri oleh ribuan masyarakat, tidak hanya lintas rentang usia, namun juga lintas suku, agama, ras, hingga profesi, dianggap oleh banyak pihak bahwa Cak Nun sedang dalam rangka membangun kekuatan massa untuk kepentingan politik.

Penggunaan istilah “Sinau Bareng” dan “Ngaji Bareng” yang dipilih oleh Progress tentu bukan dalam rangka bahwa Cak Nun dan KiaiKanjeng adalah pihak utama dalam forum tersebut. Dengan menggunakan istilah tersebut, forum Maiyahan yang berlangsung dan berjalan sangat cair justru sangat diminati oleh masyarakat. Karena dengan menggunakan kata “Bareng” yang artinya bersama-sama, masyarakat akan memahami bahwa semua yang hadir dalam forum Maiyahan adalah dalam rangka belajar bersama-sama. Sehingga dalam forum Maiyahan sudah sangat mengakar bahwa tidak ada seorang pun yang merasa paling benar. Karena di Maiyah, yang dicari adalah “Apa” yang benar, bukan “Siapa” yang benar.

Tadabburan Bersama

Jama’ah Maiyah adalah orang-orang yang sudah melewati proses cukup lama untuk memahami bahwa yang terjadi dalam sebuah forum Maiyahan adalah “Sinau Bareng” atau “Ngaji Bareng”. Artinya, Jama’ah Maiyah sudah mampu memposisikan diri, bahwa ketika mereka hadir dalam sebuah forum Maiyahan, maka mereka benar-benar mempersiapkan diri untuk sama-sama “mengisi gelas kosong” yang mereka bawa.

Layaknya sebuah lembaga pendidikan, tentu dibutuhkan sebuah peningkatan standar keilmuan. Jika dalam bangku sekolah ada istilah kelas, sehingga setiap tahun ajaran diperlukan ujian untuk naik kelas. Maiyah bukanlah sebuah lembaga pendidikan yang sifatnya formal. Tidak ada Kepala Sekolah, tidak ada guru, tidak ada murid, tidak ada absen, tidak ada biaya SPP bulanan, bahkan tidak ada pendaftaran untuk menjadi Jama’ah Maiyah. Tetapi, Jama’ah Maiyah harus mampu memahami bahwa dalam tataran pembelajaran perlu adanya tahap hijrah berupa “naik kelas”.

Tadabbur merupakan salah satu proses yang bisa dikatakan lebih expert dari sekedar sinau atau ngaji. Seseorang yang sedang bertadabbur adalah orang yang melakukan perenungan yang menyeluruh untuk mengetahui sebuah makna dari suatu ungkapan atau pengetahuan secara mendalam.

Kita sering mendengar istilah “Tadabbur Alam” atau “Tadabbur Al Qur’an” dalam beberapa acara yang dilaksanakan oleh beberapa organisasi di Indonesia. Dapat kita pahami bahwa arti Tadabbur yang dimaksud dalam penggunaan istilah tersebut di sana, juga tidak jauh artinya dengan sinau atau ngaji, hanya saja memang terdengar lebih Arab istilahnya.

Cak Nun dalam forum Maiyah Padhangmbulan edisi Maret lalu menjelaskan bahwa Tadabbur adalah jebar-jebur, adus slulup ke kedalaman ayat-ayat Allah. Jama’ah Maiyah sudah memahami bahwa ayat-ayat Allah bukan hanya apa yang termaktub dalam Al Qur’an, melainkan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini juga merupakan ayat-ayat Allah. Sehingga, ketika kita bertadabbur maka yang terjadi adalah proses pengembaraan yang lebih dalam kedalam semua ketetapan Allah.

Bahkan di Maiyah sudah sejak lama diperkenalkan istilah yang lebih modern; linier, siklikal, zig-zag dan spiral dalam proses pembelajaran dan pemahaman terhadap sebuah persoalan. Hal ini menunjukkan bahwa yang diaplikasikan di Maiyahan adalah proses Tadabbur, sebuah proses pembelajaran yang tidak hanya menggunakan satu sudut pandang atau satu cara pandang, tetapi menggunakan banyak sudut pandang, banyak cara pandang, bahkan resolusi pandang yang lebih jernih.

Inti tadabbur adalah mementingkan apa keluaran kita sesudah memahami ayat, gejala, informasi, atau apapun, terlepas apa dan bagaimana metodologi-nya. Asalkan hasil dari tadabbur itu membuat hidup kita lebih baik, hati kita lebih bersih, pikiran kita lebih jujur, mental kita lebih tangguh, iman kita menjadi lebih kuat dan dalam, kedekatan kita kepada Tuhan dan kekasih-Nya semakin meningkat.

Dalam pijakan ini, Jama’ah Maiyah harus segera memposisikan diri untuk menjalani proses “naik kelas”. Mulai hari ini, tema besar yang akan diangkat dalam Maiyahan yang dilaksanakan di luar forum Maiyahan rutin setiap bulannya akan menggunakan istilah “Tadabburan Bersama”. Semoga, dengan tema besar yang baru ini, Jama’ah Maiyah juga semakin menyadari bahwa setiap individu manusia sejatinya adalah pihak yang masih perlu untuk terus belajar, masih sangat membutuhkan hidayah dari Allah untuk menuju kebenaran yang sejati.