Daur (260)

Surat Kehidupan

Tahqiq : “...Sesekali kita melakukan pengandaian bahwa kita mengambil jarak, tapi pada hakikatnya tidak pernah benar-benar mengambil jarak. Hidup tidak bisa kita kelupas dari diri kita, dan diri kita juga tidak bisa kita kelupas darinya....”

Brakodin membatalkan niat spontannya untuk memeriksa kamar mandi. Toh andaikan ia ke kamar mandi, dan di dalam ada tamu tua itu, ia juga tidak bisa memeriksa airnya. Bahkan Brakodin menahan diri untuk jangan sampai menampakkan gerak-gerik yang mencurigakan semua di sekitarnya. Ia kemudian duduk kembali dan berlagak tidak terjadi apa-apa.

Dilihatnya Tarmihim termangu-mangu dengan lipatan kertas di tangannya. Ia membukanya pelan-pelan. Membaca tulisannya, kemudian menoleh ke kiri dan kanan dengan wajah yang tidak jelas ekspresinya.

“Ini tulisan Cak Sot”, katanya pelan-pelan.

Semua mata menatap ke arah Tarmihim. Dalam hati ia bertanya-tanya, siapa orang tua yang membawa kertas ini? Kalau sesuatu datang dari Markesot, lantas ada orang tua yang terkait, mestinya siapa lagi kalau bukan Kiai Sudrun. Tetapi itu tadi bukan Kiai Sudrun. Tarmihim maupun sejumlah temannya pernah sekilas berjumpa dengan Kiai Sudrun, tapi orang tua itu tadi bukanlah beliau.

Tarmihim memandang Brakodin. Tangannya bergerak dengan petunjuk di wajahnya yang menunjukkan maksud agar Brakodin melihat tulisan di kertas itu. Brakodin beranjak dan pelan-pelan mendekat ke Tarmihim. Ketika melihat jenis tulisan tangannya, Brakodin juga langsung tahu bahwa itu tulisan Markesot.

“Siapa Mbah tamu itu?”, Tarmihim berbisik ke Brakodin, “Bukan Kiai Sudrun kan?”

Brakodin menggeleng.

“Tolong dibacakan, Pakde”, terdengar suara Junit.

Semua memperhatikan dengan saksama.

“Menurut pengalaman saya, kurang cespleng kalau melakoni ilmu dengan berangkat dari pemikiran dan teori”, Tarmihim mulai membaca, “ilmu akan lebih mengakar dan mendarah daging kalau kehidupan ditemui secara telanjang apa adanya, tanpa membawa pretensi, sentimen, stigma, optimisme maupun pesimisme. Atau diganggu dan dibebani oleh tolok-tolok ukur yang diperoleh dari teks, narasi atau wacana….”

“Itu kalimatnya Mbah Markesot?”, Jitul bertanya dengan suara agak keras sehingga mengagetkan semua.

“Bagitulah adanya”, jawab Tarmihim, “Pakde Paklik kalian ini mengenal benar jenis tulisan tangan Mbah Markesot”

“Kok bahasanya seperti bahasa anak sekarang. Kata, istilah, dan model nomenklaturnya seperti bukan orang kuno….”

“Yang bilang Mbah Sot orang kuno emangnya siapa?”, Junit menanggapi, “setahu saya kita semua sejak awal sudah memahami bahwa Mbah Sot bukan manusia masa silam, masa kini atau masa depan. Mbah Sot adalah orang yang mengalir….”

“Terus, teruskan bacanya, Pakde”, Toling menyela.

“Tinggal sedikit lagi”, kata Tarmihim.

“Ya. Selesaikan Pakde”, kata Toling lagi.

“Hidup bukanlah objek penelitian yang kita mempelajarinya berbekal teori dan parameter-parameter. Hidup bukan sesuatu yang berada di luar diri kita, justru kita berada di dalamnya dan dimuat olehnya. Sesekali kita melakukan pengandaian bahwa kita mengambil jarak, tapi pada hakikatnya tidak pernah benar-benar mengambil jarak. Hidup tidak bisa kita kelupas dari diri kita, dan diri kita juga tidak bisa kita kelupas darinya. Mungkin kita adalah kehidupan itu sendiri, atau kehidupan adalah kita ini sendiri….”

“Aduh…”, sahut Toling.

“Kita tidak berposisi gagah dan pandai untuk mempelajari kehidupan. Kita belajar kepada kehidupan, bukan mempelajari. Sebagaimana diri kita belajar kepada diri kita. Kehidupan itu sendiri tidak pernah dan tidak perlu belajar kepada diri kita. Karena mungkin sesungguhnya kehidupan itu tidak ada. Yang ada hanya kita dengan kesadaran kita, yang membuat kita menyadari, merasa, dan melihat ada kehidupan. Mungkin sekali yang kita sadari, kita rasa dan lihat itu hanya seakan-akan — hanya kita yang sebenarnya ada, itu pun sesungguhnya juga hanya diada-adakan oleh yang Sejati Ada”.

“Retak kepala saya”, kata Toling.

Jitul tiba-tiba melompat ke arah Tarmihim dan merebut kertas itu. Kemudian berlari keluar.

“He…he…?”, Tarmihim kaget tentu saja.

“Fotokopi”, teriak Jitul dari luar.

Memang harus dibaca pelan dan berulang-ulang, kalau ingin mendekat ke pemahaman yang saksama.

“Apakah yang dimaksud oleh Mbah Sot adalah bahwa usulan tema-tema yang kita himpun tadi itu cara yang keliru?”, terdengar Seger bertanya.

“Sebentar, sebentar”, Sundusin menyahut, “kita longgarkan dada dulu, hela napas panjang, kalau perlu rebahkan punggung….”

Brakodin sibuk sendiri. Tangan kanannya mendekat ke telinganya. Seperti mendengarkan atau mengamati sesuatu. Ya benar. Sudah tidak ada suara orang mandi. Brakodin loncat berdiri. Berlari ke belakang. Kamar mandi sudah terbuka pintunya. Ia melangkah ke dalam. Melongok ke baknya. Kosong. Ia melihat ke lantai. Tidak basah. Kering. Tidak ada bekas aktivitas orang mandi. Kemudian ia melongok ke sana kemari. Ke mana orang tua itu tadi?