Catatan Sinau Bareng Jogja Gumregah, Yogyakarta 4 Oktober 2016

Sunnatullah Gigi untuk Indonesia

Seraya membenarkan apa yang telah dikemukakan Cak Nun, Dokter Saifi menjelaskan bahwa segala sesuatu sudah ada aturannya, yaitu syariat atau sunnatullah.

Ada sedikit nuansa reuni karena malam ini ada sejumlah kawan lama Cak Nun hadir. Tetapi meskipun demikian, peristiwa ini ditarik ke makna yang lebih makro dan esensial sesuai dengan apa yang menjadi concern acara pada malam hari ini. Salah satu kawan Cak Nun itu adalah Dokter Gigi Saifi yang juga wartawan KR, asli dari Madura.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Ia bercerita kalau aktif mengikuti tayangan Maiyahan di layar ADiTV. Kemudia berkisah lagi, dulu dari Jember, ia melanjutkan studi ke Jogja. Tujuannya, supaya ketemu Cak Nun. Tetapi tatkala mau mengambil studi ilmu budaya di UGM, ia dilarang dan dimarahi ayahnya. Sebagai gantinya, ia malah diterima di Fakultas Kedokteran Gigi UGM, dan tetap bisa bertemu dengan Cak Nun yang kala itu sudan aktif sebagai wartawan dan penulis atau kolumnis. Malam ini Ia bertemu Cak Nun setelah kurang lebih dua puluh tahunan tak ketemu.

Seraya membenarkan apa yang telah dikemukakan Cak Nun, Dokter Saifi menjelaskan bahwa segala sesuatu sudah ada aturannya, yaitu syariat atau sunnatullah. Salah satunya adalah gigi manusia, yang ada kaitannya dengan makanannya. Gigi belakang kita sering tanggal dulu, dan kemudian goyah gigi-gigi lainnya, semua itu dikarenakan kita tidak makan sesuai syariat gigi. Gigi geraham berfungsi untuk mengunyah sayuran, sedangkan gigi taring untuk memakan daging. Pada sapi, kita melihat giginya geraham. Sedang pada harimau giginya taring. Sedangkan manusia komposisinya 20 gigi geraham dan gigi taringnya 4. Artinya, komposisi makanan yang dikonsumsi idealnya lebih banyak sayur ketimbang daging proporsional dengan rasio antara gigi geraham dengan gigi taring.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Di situlah, Cak Nun lantas merespons bahwa ini bukan soal gigi saja, tetapi berlaku untuk konteks hidup yang lebih luas, jika kita berpikir komprehensif. Demikianlah kita tahu kita tidak proporsional dalam melakukan sesuatu, umpamanya banyak hal yang kita jual, kita kapitalisasi, dan kita kapitalismekan. Kapitalisme menjadi fokus utama atau titik berat hidup kita. Situs Warungboto ini meskipun dipariwisatakan, tetapi melalui festival Jogja Gumregah ini menurut Cak Nun titik beratnya adalah budaya. (hm/adn)