Reportase Jamparing Asih Desember 2015

Sunda Mengasuh___

Reposisi kata Urang ngamumule budaya sunda menjadi Sunda Ngamumule Urang menunjukkan bahwa Sunda-lah yang sebenarnya ngamumule urang.

Sudah sejak pukul 18.00 penggiat Jamparing Asih berkumpul di gedung RRI. Kesibukan mulai terlihat untuk mempersiapkan Riungan Jamparing Asih edisi Desember 2015, tepatnya pada tanggal 19 Desember 2015 yang akan dimulai ba’da isya. Sudah menjadi tradisi Bandung bahwa malam minggu adalah malamnya kemacetan. Ribuan pemuda, pemudi, dan keluarga biasa menghabiskan waktunya untuk melakukan ritual “malam mingguan”.

Sebagai alternatif bagi masyarakat untuk menghabiskan malam minggu dalam kebersamaan, Jamparing Asih menyelenggarakan maiyahan dengan tema “Sunda Mengasuh___”. Pengangkatan tema tersebut dirumuskan atas beragam pertimbangan. Terutamanya adalah proses mencicil untuk pengenalan dan penggalian nilai kebudayaan Sunda dan pengidentifikasian kepengasuhannya guna menjawab tema SILATNAS Maiyah II di Magelang, tanggal 4-6 Desember 2015. Seperti apa yang dikatakan orang-orang terdahulu, “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Alangkah eloknya Maiyah di tatar Pasundan menjunjung kebudayaannya, lokalitas, dan nilai-nila adiluhung di tempat Jamparing Asih berpijak.

Setelah melaksanakan shalat isya, riungan Jamparing Asih dibuka oleh Aam sebagai penggiat yang mempersilakan Kang Cece untuk membacakan Al Quran. Kang Cece mengawali Riungan Jamparing Asih dengan pembacaan QS. Al-Hujurat. Sebagai bentuk segitiga cinta Maiyah dengan kecintaan kepada Rasulullah, Hirzan sebagai penggiat Jamparing Asih memimpin keluarga Unit Rebana ITB yang diketuainya untuk melantunkan shalawat. Hirzan kemudian berbagi dengan forum mengenai membawa visinya dalam membawa seni rebana di kampusnya. Hirzan dan kawan-kawannya yang bersergam serba hijau memiliki cita-cita untuk melantunkan shalawat di ITB. “Agar tidak gersang, maka kami mencoba menghijaukan ITB dengan shalawatan, warna seragam kami, serta pemahamannya.” Hirzan kemudian memperkenalkan kawan-kawannya di forum dan menceritakan kisahnya bersentuhan dengan Maiyah. “Yang pertama bersentuhan dengan Maiyah itu saya. Ketika saya ajak teman-teman, mereka menanyakan Maiyah iku opo? Saya jawab, awal katanya dari Ma’a, kebersamaan. Terus ngapain? Karena saya kalau saya jawab harus panjang lebar, jadi saya jawab, ikut aja karena satu visi dengan URI, Maiyah itu suka shalawatan.”

Meski beratapkan langit-langit gedung, hawa dingin kota Bandung tetap terasa seiring dengan angin yang semilir masuk melalui pintu masuk gedung auditorium RRI yang terbuka lebar. Riungan malam itu dihadiri oleh Dzat Maiyah yaitu Syekh Nursamad Kamba, ISIM Maiyah yaitu Gandhie, dan juga penggiat Kenduri Cinta. Para penggiat dan jamaah malam itu duduk melingkar di lantai beralaskan terpal. Budaya melingkar menjadi penting karena dalam lingkaran setiap orang dapat saling menatap wajah setiap yang hadir. Dalam lingkaran tidak ada kasta, orang yang berada di depan belum tentu lebih pintar dan mulia dari yang terlihat duduk di belakang. Dalam Maiyah sesungguhnya semua orang adalah murid. “Maiyah adalah rumah kita, tempat curhat kita, untuk nilai apapun yang menjadi urgensinya, nilai kedalamannya. Kalau di luaran susah untuk mengutarakan pendapat, disini adalah tempatnya yang tidak ada sekat”, papar penggiat Jamparing Asih.

Caritaan Sunda dan Kepengasuhan

Aam kemudian menyerahkan microphone kepada Iwa sebagai moderator malam itu dan Kang Wawan sebagai salah satu sesepuh Jamparing Asih. Diskusi diawali dengan pernyataannya akan krisis identitas yang dialami oleh manusia Nusantara. Secara sadat atau tidak sadar, masyarakat Nusantara banyak yang semakin tidak mengenal dirinya sendiri. Banyak pula dari masyarakat Sunda yang yang tidak mengetahui perbedaan antara Pasundan, Pajajaran, Sunda, ataukah Priangan. “Apakah yang benar itu tatar Sunda, tatar Priangan, atau apa? Saya pun sebenarnya merasa belum paham diksi mana yang tepat untuk ditempatkan di tiap kalimat”, ungkap Iwa. Kemudian Iwa mengangkat tandangnya Cak Nun beberapa hari sebelumnya di Purwakarta yang menyampaikan bahwa salah satu kebudayaan Nusantara, termasuk Sunda adalah kemampuannya dalam mengasuh. Iwa mengidentikkan mengasuh dengan menggendong dan menerima semuanya. Menurutnya, orang yang mampu menerima adalah orang yang memiliki keluasan hati. Iwa kemudian mengusulkan agar teman-teman Jamparing dan jamaah dapat mulai mencicil untuk mendata apa yang dialami dan dilihat berdasarkan pengidentifikasian kesundaan yang mampu membuat Sunda terasa indah, islami, dan universal.

Wawan yang memiliki pengetahuan tentang kesundaan angkat bicara. Ia mengawalinya dengan pernyataan bahwa untuk mendapatkan suatu jawaban bukan dilihat dari asas mana yang benar, melainkan mana yang kemungkinannya benar. “Pasundan itu seperti menyebut pesantren, pesantrian. Pasundan itu pasundaan. Seperti pasarean, pasunda-an tempat orang sunda. Sunda pun bisa menjadi nama suku, wilayah, ataupun keraajan”, papar Wawan. Iwa kemudian melanjutkan bahwa di luar benar atau salah pendapat mengenai keterkaitan tatar Sunda dengan Sundaland, Cak Nun pernah menyampaikan bahwa Nusantara itu salah satu daerah tua dunia. Iwa mengibaratkan tuanya peradaban Nusantara dengan usia mereka berdua. Ketika itu Iwa mencoba memperbandingkan usia Iwa dengan Wawan. “Usia Kang Wawan yang lebih tua dari Iwa menandakan Wawan sudah hidup di dunia lebih lama yang artinya pengalaman, kematangan, kedalaman, keluasan cara pandang Kang Wawan akan jauh lebih luas dibandingkan dengan saya. Kalau misalnya Sunda sebagai bagian dari Nusantara adalah sebuah kebudayaan tua yang lebih tua dari kebudayaan Eropa, Afrika, Amerika, artinya kita memiliki kedalaman dan keluasan yang lebih jauh dari mereka”, pungkasnya.

Budaya Sunda dikenal sangat kental dengan budaya lisan dan bertutur. Atas pemahaman tersebut, Iwa menyampaikan gagasan-gagasannya dengan menceritakan kisahnya sehari-hari untuk dapat menghantarkan jamaah ke gerbang tema kepengasuhan Sunda. Iwa menceritakan pekerjaan sehari-harinya sebagai seorang petani yang menggarap sawah di Jampang Kulon, Sukabumi. Iwa berbagi cerita bahwa dirinya adalah orang kota yang kemudian berpindah domisili ke kampung dan belajar bercocok tanam dari nol. Suatu ketika di perjalanan pulang dari bertani Iwa berpapasan dengan salah seorang tetangganya, Uwa Empud yang sedang beristirahat di saungnya. Melihat keadaan sawah Uwa Empud, Iwa kemudian menanyakan sawahnya yang tampak jangal karena pada hari sebelumnya di sawahnya tampak terdapat banyak ikan, namun kini ikan-ikannya tidak lagi tampak. Uwa Empud kemudian bercerita bahwa ikan-ikannya habis dimakan oleh berang-berang atau yang di daerah sunda disebut sero. Raibnya ikan-ikan miliknya dikarenakan Uwa Empud tidak mengetahui cara menanggulingi sero yang dianggap warga sebagai hama pengganggu.

Dari obrolan tersebut, kemudian Uwa Empud bercerita kepada Iwa mengenai salah seorang tetangganya, seorang petani tua yang memiliki ladang di dekat alur sungai besar di hutan. Menurut Uwa Empud, apapun yang ditanam kakek itu tidak pernah ada gangguan, padahal di daerah hutan tersebut diketahui terdapat banyak babi, macan, dan kucing hutan berkeliaran. Namun ladang dan kolam ikan yang beliau miliki tidak pernah mengalami gangguan. Uwa Empud menyampaikan pesan tetangganya yang berkata bahwa, “apabila mau  melaksanakan sesuatu apapun, menanam sesuatu, menjaga sesuatu, kuncinya adalah jangan ada keraguan di hati.” Secara singkat yang dipegang teguh oleh kakek itu adalah keyakinan.

Kisah itu membuat Iwa tertegun dan merefleksikan cerita yang didapatnya dengan keadaan dirinya sendiri. Mendengar cerita tersebut membuat Iwa yang pernah mondok di pesantren, mendapatkan pelajaran agama islam dari TK sampai berkuliah, dan mengikuti banyak pengajian merasa imannya masih jauh dibandingkan sang kakek yang notabene seorang warga kampung yang tergolong tidak begitu memahami agama secara formal. Namun bagaimanapun petani tua tersebut telah menginternalisasikan keyakinannya pada pengalaman.

Mengenal kembali leluhur dan nenek moyang adalah cara agar kita bisa tahu dan memahami siapa diri kita sebenarnya. Iwa kemudian memaparkan stereotip yang didapatkan mengenai masyarakat Jampang yang masih merupakan bagian dari wilayah Sunda. Iwa mendapatkan cerita dari kakeknya tentang bagaimana masyarakat di daerahnya yang begitu disegani. Iwa kemudian memperbandingkan stereotip yang terbentuk antara orang-orang yang berasal dari Jampang dengan Banten. Menurutnya ada pandangan umum yang terbangun, terutama di masyarakat Jawa Barat yang merujuk masyarakat Banten sebagai ahli silat, ahli kanuragan, dan ahli kelimuan lainnya. Keseganan masyarakat terhadap orang Banten itu nyatanya akan dialami orang Banten kalau mereka bertemu dengan orang Jampang. Kakeknya pernah bercerita bahwa setiap kepala keluarga di Jampang Kulon dikenal memiliki kemampuan khusus. Bahwa di dalam 1 kampung akan memiliki ahli-ahli yang khusus mengurusi beragam hal yang menjadi masalah sehari-hari masyarakat, seperti ahli mengobati luka akibat bisa ular, tertusuk tulang ikan, tertusuk serat bambu, bahkan terkena pacul logam akan ada spesialisasinya tersendiri. Bahkan ada seorang nenek tua yang masih hidup di kampungnya yang terkenal akan kemampuannya mengobati luka dalam dengan tanpa bekas.

Kisah Iwa tersebut dapat mengingatkan kembali kepada buah ilmu Maiyahan Jamparing Asih edisi Agustus 2015 yang mengusung tema “Medar Kadaulatan”. Bahwa bangsa kita sepertinya sudah terlalu banyak mengalami ketelanjuran. Bangsa kita terlanjur menganggap apa yang kita dapatkan dari teori kesehatan barat sebagai cara bertindak dan cara pandang yang mainstream sedangkan yang terlahir dari nenek moyang sendiri sebagai alternatif. Beberapa kisah tersebut menunjukkan adanya kesimpulan bahwa Nusantra khususnya Sunda memiliki kebudayan yang tinggi. Iwa berpendapat bahwa kebudayaan Nusantara yang sudah islami jauh sebelum islam hadir di Nusantara, sesungguhnya sudah memiliki kedalaman kepercayaan atau iman yang nyatanya jauh lebih tinggi dibandingkan kebanyakan manusia modern yang memiliki pengajaran formal dalam hal keagaamaan. Mungkin hal tersebut akan terdengar awam di telinga masyarakat modern, terlebih lagi bagi orang Bandung yang merupakan masyarakat urban. Tapi begitulah adanya yang dialami oleh Iwa dan setiap orang pasti memiliki pengalamannya sendiri-sendiri. Maka dari itu Maiyah melingkar agar setiap jamaah dapat saling berbagi pengalamannya masing-masing dan penuturan kisah-kisah hikmah selayaknya budaya bertutur yang telah lama menjadi budaya Sunda dapat terus terjalin. Iwa juga merasa bahwa ada baiknya jamaah Maiyah dapat mulai memetakan bersama kebudayaan atau aktivitas harian apa yang ditemukan sehari-hari bagi masyarakat yang menetap di Bandung dan tatar Pasundan untuk dapat bersama-sama memperkaya makna Sunda Mengasuh.

Eksplorasi tema lebih lanjut dipandu oleh Wawan. Menurut Wawan untuk menjadi sebuah kalimat utuh, sebagai sebuah judul “Sunda mengasuh ___” biasanya diberi subyek, predikat, obyek. Wawan memaparkan, “Kita terbiasa mencari obyek dalam pola komunikasi kita. Itu baik sekali, tetapi dengan kebiasaan komunikasi kita itu, seperti mengutip Nietzsche maka kita akan memiliki “Mentalitas Tuan”. Kita akan menganggap orang lain sebagai budak. Jadi kita akan selalu mencari obyek. Menurut Wawan penyembunyian obyek menjadi “Sunda mengasuh ___” adalah pilihan yang tepat sehingga pengelaborasian makna kepengasuhan dapat menjadi lebih cair. “Karena sebenarnya, kata-kata yang tidak selesai mungkin saja menyimpan makna yang lebih mendalam”, sambungnya. Wawan kemudian memberi contoh ketidakselesaian kalimat dengan nama salah seorang kawannya, yaitu “Khoirul Ummar” yang artinya “sebaik-baiknya pemimpin”. Seperti juga “Mahkamah Kehormatan”yang sudah tepat apabila tidak dipasangi keterangan tambahan lagi. “Sehingga akan lebih menarik apabila obyek dihilangkan yang akan membuat bertanya-tanya apa nih selanjutnya?”, sambungnya. Untuk kedua contoh terakhir, menurut Wawan, kata yang paling tepat untuk disandingkan setelahnya adalah “apabila”. “Mahkamah kehormatan (apabila)….”, “Sebaik-baiknya pemimpin (apabila)….”, sehingga akan membuat orang berpikir. Begitu pun dengan tema malam itu yang akan dapat disisipkan kata hubung menjadi “Sunda mengasuh (apabila)….”.

Reposisi kata dalam kalimat “Urang ngamumule budaya sunda” menjadi “Sunda Ngamumule Urang” menunjukkan justru ada kemungkinan lain, bahwa “Sunda-lah yang sebenarnya ngamumule urang. Bahasa Sunda-lah yang sebenarnya memelihara kita sehingga kita sehingga kita dapat hidup seperti ini sekarang. Maiyah itu belajar, basis belajarnya adalah pengalaman. Itu yang membuat awan punya pengalaman, kalau ternyata pengalaman yang dipaparkannya salah. Itu tidak menjadi masalah karena setiap orang memiliki pengalamannya sendiri.

Sunda Bihari, Kamari, dan Kiwari

Wawan memaparkan teori budayawan Sunda Ayip Rosyidi tentang kesundaan. Ia membagi Sunda menjadi 3 fase, yaitu sunda bihari, kamari, dan kiwari. Sunda bihari itu sunda yang sudah lama, seperti Prabu Siliwangi, Kejaan Tarumanegara, dan Kerajaan Galuh. Sunda kamari memiliki arti Sunda kemarin, dapat dicontohkan dengan figur Otto Iskandar Dinata dengan gelarnya sebagai si jalak. Wawan kemudian mengingatkan kembali jasa beliau, “Pak Otto-lah yang banyak menginspirasi pergerakan Indonesia dan pertama kali menggumakan pekik merdeka. Tidak dengan tangan terkepal melainkan dengan tangan terbuka.” Wawan melanjutkan, “Kemudian ada pula Raden Wiranatakusumah, Bupati Cianjur yang sangat dicintai rakyatnya, sampai ketika beliau pindah ke Kabupaten Bandung beliau ditangisi oleh masyarakat Cianjur.”

Berdasarkan hikayat, ketika Raden Wiranatakusumah melakukan perjalanan dari Subang menuju Baleendah, ia kemudian kehausan dan beristirahat di alun-alun. Ketika beristirahat, pengikutnya kehausan kemudian beliau menancapkan tongkatnya, begitu tongkatnya dicabut air memancar dari tempat beliau menancapkan tongkat. Itulah yang konon merupakan awal mula “Sumur Bandung” yang terdapat di daerah alun-alun, tepatnya di dalam kantor PLN.

Menurut Cak Nun ada dua perbedaan antara menangis dan menangisi. Menangis memiliki sifat individu, sedangkan menangisi memiliki lingkup pandang secara sosial. Rasulullah tidak menangis, ia menangisi, Orang-orang Maiyah tidak menangis, mereka menangisi. Kisah Raden Wiranatakusumah menunjukkan bahwa kepergian seorang pemimpin yang ditangisi oleh rakyatnya karena asas cinta, bukan keterpaksaan dapat menunjukkan dimana letak dirinya di dalam hati rakyatnya.

Seseorang baik sebagai seorang pemimpin maupun bukan, haruslah memiliki ketawadhuan. Sikap ketawadhuan menurut Wawan dapat dicontohkan oleh Kyai Haji Hasan Mustofa yang hidup di tatar Pasundan pada abad ke-18. Beliau dikenal sebagai ulama yang tidak mengobral fatwa. Sebagai contoh apabila ada yang menanyakan apa hukumnya memakan kura-kura, maka jawaban beliau adalah “Memangnya ikan habis?”. Menurut Wawan apa yang dilakukan oleh Kyai Hasan Mustofa adalah bentuk kearifan, karena daripada membuat fatwa dan tidak diikuti, lebih baik bagi beliau untuk tidak berfatwa. Karena pada dasarnya banyak persoalan-persoalan krusial yang  membutuhkan lebih dari sekedar fatwa dan fatwa pun kerap tidak adil. Seperti ada contoh fatwa pemilih golput sebagai haram, tapi tidak pernah ada fatawa pemimpin yang terpilih dan mengingkari janjinya sebagai sesuatu yang haram. Tidak pernah ada fatwa haram bagi bupati yang ingkar dari janji kampanyenya. Menurut Wawan, karena di dalam fatwa terdapat banyak persoalan, maka Kyai Hasan Mustofa jarang sekali membuat fatwa.

Pembabakan berikutnya adalah sundah kiwari, seperti Doel Sumbang, Darso, Wawan yang juga merupakan seorang tokoh nasional, Pak Deddy Mulyadi bupati Purwakarta, dan lain-lain. Banyak orang yang terpesona kepad Sunda bihari, hingga terlupa bahwa ada pembabakan lainnya, yaitu Sunda kamari dan kiwari.

“Apabila seorang pemimpin mau berkiprah kepada orang-orang Sunda, baiknya ia pandai memecahkan persoalan-persoalan Sunda kiwari. Contohnya adalah dengan mengentaskan permasalah-permasalaha Jawa Barat, seperti angka kematian ibu tertinggi, rawan gizi buruk bayi tertinggi, pengidap HIV Aids tertinggi, radikalisme agama tertinggi, dan sawah-sawah yang konon padinya sudah tidak dapat dimakan karena terkena limbah pabrik. Adalah sebuah hal yang harus diingat bagi tokoh Sunda untuk dapat memcahkan persoalan-persoalan sunda kiwari dan tidak hanya terpesona dengan Sunda bihari”, saran Wawan.

Di lain kesempatan, Cak Nun mencoba mengarifi pola perjalanan manusia dengan dimensi waktu yang berkaca kepada peristiwa Nabi Musa dan Nabi Khidir. Dari peristiwa tersebut poin pentingnya adalah bahwa rute perjalanan kehidupan manusia berjalan dengan siklus masa kini — masa depan — masa silam. Menurut Cak Nun setiap orang mempunyai naluri dan metodologi untuk mengolah jaman dan sejarah berdasarkan siklus masa kini, masa depan, masa silam. Dengan ilmu waktu, kita dapat menata kehidupan yang menghubungkan antara kekinian, ke-besok-besok-an, dan ke-masa lalu-an.

Masyarakat Cocok Tanam

Geneologi cara seseorang berbudaya dan cara orang sekarang hidup dapat dilihat dari cara makan manusia purbanya dulu. Manusia purba ada yang makan dengan bercocok tanam dan ada pula yang berburu. Kebanyakan dari orang timur terutamanya Asia dan Indonesia memiliki budaya bercocok tanam. Dia baru bisa makan kaalau sudah menumbuhkan kehidupan. Sedangkan cara bertahan hidup orang barat adalah dengan berburu. “Maka dari itu”, menurut Wawan, “di barat sudah terbiasa dengan konflik. Mereka baru bisa makan kalau sudah membunuh binatang. Secara kasar dapat disimpulkan bahwa bagi mereka kalau ingin hidup, matikan yang lain. Maka munculnya teori  konflik yang diusung Marx di Jerman dan bukan di Ciamis adalah sebuah kewajaran. Karena Jerman memang memiliki dinamika yang seperti itu.” Dari caranya bercocok tanam, Prof. Jakob Soemardjo kemudian mengklasifikasikan dua perbedaan yang dipaparkan Wawan. “Budaya bercocok tanam orang Indonesia terklasifikasi menjadi dua, yaitu budaya menyawah dan berladang. Menyawah dilakukan bagi masyarakat yang hidup di masyarakat yang datar, seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sementara, masyarakat purba Sunda itu makan dengan cara berladang di lereng-lereng gunung. Bertaninya pun dengan padi kering atau huma seperti yang masih dilestarikan masyarakat Baduy”.

“Pola berbeda antara masyarakat yang bercocoktanam dengan cara berladang dan menyawah. Orang yang cara hidupnya bersawah itu butuh kepemimpinan karena sawah  harus di organisasi dengan baik. Harus ada pengaturan air irigasi dan dibutuhkan pemimpin kolektif dan otoritatif. Karena dalam persawahan ada pembagian tugas, dari pembajak, penanam, hingga penuai saat panen. Batas-batas kepemilikan juga harus tegas. Distribusi hasil harus ada mekanismenya dan seterusnya sehingga masyarakat sawah memiliki fenomena keteraturan kota.  Masyarakat sawah secara teoretis memang membutuhkan pemimpin yang berwibawa dan karismatik demi keteraturan lingkungan dan kehidupannya. Maka biasanya di kawasan jawa timur dan jawa tengah memiliki figur-figur pemimpin yang berkharisma, seperti Gus Dur dan Cak Nun”, papar Wawan panjang lebar.

Wawan menambahkan bahwa menurut para arkeolog alam pikiran Sunda adalah alam pikiran masyarakat ladang.  Ladang dapat dikerjakan sendiri-sendiri, setidaknya hanya oleh keluarganya. Dalam sebuah keluarga pada masyarakat ladang, jika anaknya ada yang menikah kemudian membentuk keluarga baru, dia kemudian akan membuka lahan perladangannya sendiri. Begitu seterusnya. Maka, kepemimpinan dalam masyarakat ladang adalah kepemimpinan pada lingkupnya yang kecil itu, yaitu lingkup keluarga atau kelompoknya saja. Maka tidak ada kepemimpinan kolektif dalam jumlah yang luas.

Orang Sunda tinggal di lereng gunung sehingga tidak tahu arah mata angin karena hanya tahu ka hilir dan ka girang, ka tonggoh dan ka lebak, ke atas dan ke bawah. Itulah yang menyebabkan spiritualitas Sunda dari bawah ke atas. Bawah, tengah, atas. Sementara, orang Jawa sudah terbiasa dengan arah mata angin, yaitu utara — selatan — barat — timur, dan di tengahnya terdapat pancer, meskipun cara berpikir tersebut juga berpengaruh di Sunda karena Kerajaan Mataram pernah lama datang cukup mempengaruhi tatar Sunda. Salah satu pengaruh Mataram adalah bahwa Sunda memiliki undak-usuk atau yang biasa dikenal sebagai kromo inggil dari segi tata bahasa, seperti abdi tuang – bapa neda, abdi dongkap — bapa sumping. Di samping kultur tersebut, Wawan kemudian memaparkan sebuah fakta sejarah, “Pada abad ke-15 ada sebuah dokumen yang mengatakan bahwa kepada rajanya sendiri orang Sunda menyebut sia bukan paduka. Hal tersebut menandakan sunda memiliki budaya egaliter yang dapat dilihat pula dari arkeologinya di Baduy. Bahkan, masyarakat Baduy menggunakan kata ganti Tuhan dengan si Eta dengan alasan tidak kuasa menyebutkannya karena terlalu agung. Budayawan Sunda, Saini Karna setuju sekali dengan adanya undak usuk karena keindahan bahasa. Sementara, Ayip Rosyidi tidak setuju karena akan memundurkan dan membuat anak-anak muda Sunda menjadi takut untuk berbicara bahasa Sunda”, tutur Wawan.

Faktor kepemimpinan merupakan bahasan berikutnya yang diangkat oleh Wawan. “Metode kepemimpinan masyarakat berladang adalah sistem kualitas.  Dalam memilih pemimpin, masyarakat Sunda berpedoman pada sebuah pantun, cangkang reujeung eusi, kudu sarua lobana yang berarti wadah dan isi harus sama kualitasnya. Masyarakat adalah wadah, dan pemimpin adalah isinya. Jadi, relasi pemimpin dan yang dipimpin dalam masyarakat jenis ini adalah relasi kualitas. Orang yang berkualitas akan dihormati oleh kelompok-kelompok ladang yang tersebar itu. Kepemimpinan di sini bukan dalam soal kebutuhan akan pengaturan, sebagaimana pada masyarakat sawah, tetapi lebih pada figur. Oleh sebab itu, pemimpin adalah panutan sebab ia berkualitas. Cara memiliih pemimpin sesuai dengan apa yang dianggap dengan kualitas asalkan bisa mempengaruhi definisi kulaitas itu apa. Yang perlu ditekankan adalah kekuatan apa dan siapa yang nantinya akan ‘menggeser-geser’ pengertian kualitas”, paparnya.

Tatar Para Hiyang

Diskusi kemudian berlanjut kepada Sunda yang dikenal sebagai Bumi Parahyangan. Wawan menjelaskan mengenai asal mula pengistilahan kata-kata Hyang tatar Sunda. “Hyang memiliki arti Tuhan”, jelasnya. Hal tersebut berkaitan dengan batara-batara dan proses akulturasi Islam di tatar Pasundan. Wawan berpendapat bahwa Sunda memiliki proses tajjali dengan Hyang yang luar biasa. Masyarakat Sunda pun menyebut orang yang sudah meninggal dengan sebutan Nga-Hyang. “Orang sunda dekat sekali dengan Tuhan, bertajalli. Maka dari itu disebut Parahyangan. Parahyangan itu Para Sanghyang, sehingga menyebut orang Sunda sebagai Sang Hyang”, jelas Wawan.

Untuk mengakhiri diskusi termin awal, Iwa memungkasi dan mempertanyakan mengenai proses pembentukan nilai. “Setiap aktifitas manusia sebagai bagian dari output itu dipengaruhi oleh nilai. Nilai terhadap sesuatu. Proses terjadinya nilai sampai ada istilah-istilah undak usuk, prosesnya seperti apa. Nilai dulu yang dibentuk sebagai hasil dari olah pikir manusia atau bagaimana. Apakah interaksi mereka terhadap alam maka menghasilkan nilai-nilai? Dan apakah itu terjadi pula di kebudayaan-kebudayaan lainnya. Ataukah bersifat sebagai patron-klien. Apa kata raja, maka itu yang dipakai nilainya. Karena sesungguhnya yang menjaga dan menyelamatkan manusia adalah orang desa. Orang-orang yang selama ini kita anggap awam dan tradisional. Harus ada dekonstruksi pemikiran terhadap anggapan tradisional. Kita punya keterbatasan kata. Istilah yang disebut tradisional, modern, primitif itu sesungguhnya produk dari luar.  Menemukan diksi paling tepat untuk mengetahui yang mana yang disebut modern, tradisional, dan maju. Karena mungkin saja sesungguhnya, orang-orang yang lebih disayang oleh Allah adalah orang-orang yang kita anggap awam”, jelas Iwa. Orang-orang yang saling mencintai dan mengasihi secara tulus dan apa adanya.

Isi Hati

Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB. Untuk menyemarakkan malam minggu, Maiyahan malam itu diselingi oleh genjrengan gitar Iwan dan Yudha, dua orang punggawa yang tergabung dalam sebuah komunitas bernama Kelompok Penyanyi Jalanan. Masyarakat umum terbiasa memandang penyanyi jalanan atau pengamen dengan cara pandang yang negatif di mata masyarakat. Karena Maiyah adalah sarana untuk saling mendengarkan, memperluas cara pandang, dan perspektif yang seluas-luasnya, maka setiap orang bebas hadir, berbicara, dan mengeluarkan isi hati akan beragam pandangan yang kadung terbentuk secara maisntream. Iwan kemudian mengawali kisahnya dengan menceritakan perjalanannya mengamen di jalanan dari tahun sejak tahun 1985. “Dengan mengamen saya bisa berkarya, bisa sekolah, bisa nikah, bisa punya anak. Anak pun bisa kuliah. Negatif atau tidak itu tergantung pelakunya. Kalau bisa membawa diri, pilih-pilih lingkungan, Insya Allah positif. Istilah pengamenpun banyak oknumnya,” cerita Iwan panjang lebar. “Teman-teman pengamen sebatas dipandang gondrong, caludih, dekil, mabok. Kelihatannya memang seperti itu, tapi seharusnya bisa lebih dalam mengerti kehidupan mereka. Mereka juga memiliki solidaritas yang tinggi”, pungkas Iwan menekankan pernyataannya.

Iwan kemudian menceritakan sejarah KPJ yang menadi tempat bernaung dan wadah bagi para penyanyi jalanan. Lebih lanjut lagi, Iwan mencurahkan isi hatinya yang juga mewakili teman-teman pengamennya mengenai peristiwa yang dialaminya di Bandung saat kiwari. Iwan berkisah bahwa baru-baru saja teman-teman pengamen ditangkapi, difoto, didata, dilepaskan kembali, kemudian berita-beritanya dimuat ke dalam koran dengan judul Razia Pengamen. “Itu bukan solusi,” belanya, “malah tambah rariweuh. Terlebih lagi apabila pengamen-pengamen akan diberantas, dikurung, gitar dihancurkan, diduruk (dibakar –red). Pemerintah seharusnya tidak melakukan itu. Kalau mau pengamen itu ditangkap, lalu dibina, bukan dibinasakan! Diberi pengarahan, diberi kerajinan, kalau punya keahlian jadi montir atau menjahit, misalnya, dibantu oleh pemerintah. Kalau memang senang bernyanyi, ya dibarkan dan diberikan solusi untuk mereka dapat bernyanyi. Bukan ditewak, dipotoan, dikaluarkeun deui. Bandung jadi sareukseuk (tidak enak dilihat –red) atuh mun kitu mah. Bukan solusi”, ungkap Iwan panjang lebar.

Malam itu jamaah Maiyah ditemani oleh lagu-lagu ciptaan Iwan Fals yang dinyanyikan oleh KPJ. Lagu ciptaan senior KPJ itu berjudul Sangkala terdengar menggema di penjuru ruangan RRI dengan hentakkan irama gitar yang mantap dimainkan. Lagu-lagu yang dibawakan oleh KPJ membuat jamaah sejenak berpikir dan berkaca terhadap beragam realita yang tengah terjadi di negeri ini. Lagu berjudul Matahari merupakan track selanjutnya yang dimainkan oleh KPJ malam itu. Lagu tersebut diawali dengan lirik, “Keinginan adalah sumber penderitaan”. Pernyataan di awal lagu tersebut akan sangat dimahfumi oleh orang-orang yang telah mengalami dan mengerti rumusan-rumusan kehidupan. Dan sepertinya orang-orang yang hidup di jalanan jauh lebih memahaminya. Manusia tidak ada yang pernah benar-benar mengetahui siapa yang telah lebih betul dalam memahami dan mengerti pemaknaan-pemaknaan kehidupan. Maka dari itu, berbagi kisah-kisah hidup dan pengalaman merupakan kuncian di Maiyah agar satu sama lain dapat terus saling belajar kepada yang lainnya. “Hidup adalah proses jadi keinginan hanya ada dalam mimpi. Kalau mau berusaha mau ikhtiar insya Allah Tuhan akan memberikan jalan bagi kita semua”, tambah Iwan ketika mengakhiri lagunya.

Sesaat setelah Iwan memungkasi nyanyiannya, Wawan langsung berdiri menyampaikan hormat tanda apresiasi kepada Iwan. Wawan menyampaikan ketakzimannya sembari menggenggam dan memperlihatkan jemari Iwan. “Kang Iwan dari tahun 85 bergelut dengan gitar, penuh dengan bekas-bekas gitar”. Ada kisah saat Rasulullah melihat jari seorang bapak. Lalu Rasul menanyakan kenapa jari-jarinya seperti itu. Kemudian bapak tersebut menjawab, “Saya bekerja untuk anak istriku, ya Rasulullah. Dan Rasul pun menjawab sembari mencium jemarinya, inilah jari yang tidak akan pernah tersentuh oleh api neraka.”

Kemudian Wawan menceritakan kepada jamaah tentang sosok Iwan di mata Wawan. “Mungkin Kang Iwan tidak mengenal saya, namun Kang Iwan memiliki andil terhadap kisah romansa dengan istri saya. Jadi, istri saya suka sekali Iwan Fals. Kang Iwan ini biasanya naik Damri UIN, di kampus saya. Setiap kali lihat Kang Iwan, kalau kami sedang marahan, maka marahannya langsung selesai karena lihat Kang Iwan main di bis.” Curahan hati singkat Wawan disambut oleh tawa hangat oleh Kang Iwan dan jamaah yang hadir. Dari pengalaman sederhana tersebut sebenarnya dapat membuat manusia saling merefleksikan cara Allah dalam menitipkan kebermanfaatan bagi manusia. Terkadang tidak disadari bahwa manusia satu sama lain memiliki peran dan kebermanfaatannya tersendiri terhadap yang lainnya, meski secara kasat mata tampak sederhana sekalipun.

Iwan mengakhiri sumbangan petikan gitarnya dengan doa dan harapan kepada Jamparing Asih, “Mudah-mudahan dari Maiyahan Jamparing Asih kita bisa mendapatkan manfaat dan bisa mendapatkan energi bagi kita semua. Karena niat baik itu belum tentu hasilnya baik, tapi ketika dalam hati kita melangkah dari rumah, Insya Allah doa kita didengar oleh Allah Yang Maha Esa.” Tepuk tangan jamaah kemudian menghantarkan kepergian teman-teman KPJ keluar dari forum.

Spirit Kepengasuhan Silat Sunda

Malam semakin larut, diskusi pun dilanjutkan kepada pemaparan-pemaparan nilai selanjutnya. Peran pemapar ilmu dan pembagian kisah-kisah berikutnya dilakoni oleh Syekh Nursamad Kamba dan Andityas yang malam itu tampak menggunakan ikat kepala khas dari Sunda. Nissa, penggiat Jamparing Asih mengawali diskusi dengan memperkenalkan Syekh Nurshomad Kamba sebagai dzat Maiyah yang memiliki latar belakang tasawuf dan Andityas, penggiat Jamparing Asih yang telah terjun ke dalam dunia persilatan atau Maenpo yang merupakan khasanah kebudayaan yang sangat penting di tatar Sunda kepada jamaah. Nissa menghubungkan Maenpo Cikalong yang telah ditekuni Andityas yang erat kaitannya dengan nilai-nilai tasawwuf dengan nilai kepengasuhan diri dan sesama manusia. “Seni bela diri atau seni olah raga ada banyak sekali macamnya. Dari luar negeri kita mengenal Jiu Jitsu, Boxing, dan lain-lain, tapi seni bela diri tersebut biasa digunakan sebagai usaha untuk self-defense. Dari banyak bela diri yang diketahui, satu sama lain terbiasa memposisikan diri sebagai lawan tandi. Namun, tidak melihat diri kita dan orang lain, terutamanya partner tanding kita sebagai suatu kesatuan.”

Nissa kemudian mencoba memperbandingkan antara bela diri dipandangnya sebagai sesuatu yang berlandaskan kekerasan dengan seni silat di tatar Sunda. Pandangan pribadinya menilai bela diri seperti boxing sebagai sesuatu kekerasan atau lebih jauhnya mengarah kepada kekasaran. Di sisi lain, seni bela diri Silat dikenal dengan segala jurus dan gerakannya tampak dibuat sangat apik dan indah. Nissa tertarik untuk mengetahui nilai dan proses yang diusung oleh seni silat, terutamanya Maenpo Cikalong hingga bisa menjadi salah satu proses atau jalan untuk internalisasi spiritualitas dalam diri.

Tyas mengatakan bahwa dirinya baru sebentar belajar Cikalong. “Tingkatan saya masih bisa disamakan dengan SD, karena kalau belajar silat tradisional itu waktunya seumur hidup”, aku Tyas. Silat memiliki keistimewaan dan kekhasan. Kalau diliat dari dunia yang paling banyak alirannya itu Cina, Jepang, dan kebudayaan Nusantara. Di Nusantara, setiap daerah dari Aceh sampai Papua memiliki aliran seni bela diri. Tyas kemudian melemparkan cara pandangnya terhadap kebudayaan Silat yang ditarik dari konstruksi waktu zaman dahulu hingga kini. “Sejak zaman dahulu silat menyatu dengan kehidupan. Kalau konstruksi zaman sekarang itu, silat atau bela diri seolah terbatas pada hobi atau kebutuhan karena terancam. Tetapi kalau dipelajari, dari seni budaya tradisional Indonesia di Nusantara, silat adalah bagian dari kehidupan.” Tyas kemudian memberi contoh dengan pola kehidupan masyarakat Minangkabau. “Orang Minang anak laki-lakinya adatnya harus tidur di surau. Kenapa? Pertama dia harus belajar ngaji, malamnya akan belajar silat. Tak hanya di Minang, di makassar, dan Bugis pun adat seperti itu sudah mendarah daging.” Kalau di Minangkabau, gerakan tari berhubungan dengan gerakan silat. Kalau ada yang mempelajari tari Minang, maka pasti akan belajar silat. Maka rata-rata pesilat Minang bisa menari dan penari minang harus bisa silat.

Bila dipandang dari budaya yang sudah lama ada di Nusantara, menurut Tyas, silat bukanlah sarana atau ajang untuk membela diri atau kekerasan. Perkara berkelahi, tidak setiap orang akan berkelahi. Silat yang ditekuninya memiliki nilai sebagai sarana pendidikan. Tyas melihat bahwa konsep pendidikan di Nusantara itu terlihat dari kebudayaan yang begitu menyatu. Maenpo Cikalong pun lahir dan tumbuh dari budaya seperti itu.“Di Cianjur ada semboyan “Ngaos, Mamaos, Maenpo.” Semboyan itu adalah 3 pilar budaya yang akan menjadi nilai ideal, terutama di zaman dahulu. “Ngaos artinya mengaji. Mamaos itu nembang sunda pakai iringan kecapi suling. Kalau zaman dulu orang yang dianggap intelek di Cianjur tidak dapat melantunkan lagu-lagu, maka dia akan malu. Maenpo itu pengistilahan silat yang digunakan di Cianjur.”

Tyas melanjutkan pemaparan tema dengan nilai tritangtu yang dikenal di Kebudayaan Sunda. “Orang-orang Sunda ditemukan cara berpikirnya secara tiga serangkai. Ada silih asih, silih asah, silih asuh. Ada rama, prabu, resi. Ngaos, mamaos dan maenpo pun sebenarnya juga adalah tritangtu. Silih asah itu ngaos yang berada di tataran pikiran dan intelek. Ngaji Al-Quran bagaimanapun erat hubungannya dengan intelektual. Silih asihnya adalah mamaos, karena berhubungan dengan rasa”, papar Tyas mencoba merumuskan. “Kalau belajar kecapi suling, memetik kecapi kalau rasanya belum lembut, suara yang dihasilkan akan jelek. Kalau dipetik kencang-kencang malah akan menghasilkan suara yang tidak menenangkan. Tapi kalau memetik ketika pengasahan rasa sudah terbentuk, petikannya akan lembut dan suara yang dihasilkan bagus.”

Tyas melanjutkan dengan mensinergikan antara nilai kepengauhan Sunda dan Maenpo. “Silih asuh itu adalah maenpo. Dengan Maenpo seseorang dapat mengasuh tubuh. Dari hal itu kita sebenarnya bisa melihat bagaimana nenek moyang kita telah memiliki metode pendidikan yang sangat-sangat bagus. Kalau di sekolah modern sekarang, yang ditekankan melulu kepada otak. Olah raga dilihat sebagai pendidikan yang terpisah. Nilai-nilai yang diturunkan nenek moyang seperti di Minang, Sunda, Jawa, semuanya sudah menyatu.” Tyas berpendapat bahwa pendidikan ataupun ilmu didapat bukan hanya lewat diskusi. Melainkan lewat seni dan olah tubuh yang nanti akan secara tidak sadar kita akan mendapatkan ilmunya mesipun tanpa menggunakan kata-kata.

Tyas kemudian memaparkan sejarah dari Maenpo Cikalong dari Cianjur. Maenpo Cikalong adalah silat buhun yang diciptakan pada abad ke-19 oleh Raden Haji Ibrahim. Salah 1 keunikannya terciptanya maenpo Cikalong adalah karena sebelum menciptakan maenpo Cikalong Raden Ibrahim adalah seorang pendekar silat yang telah belajar kepada lebi dari 20 guru. Di Cianjur beliau sudah tidak ada tandingannya. Setelah beliau naik haji dan belajar tasawuf beliau merenung dan menyadari bahwa ilmu silatnya bila digunakan biasanya menyebabkan lawan mati atau setiidaknya celaka. Kemudian beliau berpikir, apakah ilmu silat itu hanya akan membuat orang celaka? Apakah tidak ada cara lain untuk menyelesaikan sebuah konflik? Oleh karena itu beliau merenung, khalwat, sampai akhirnya mendapat ilham dari Allah. Beliau akhirnya menciptakan ilmu silat yang tidak mencelakakan lawan dengan tujuan utamanya adalah menyelamatkan diri dan menyelamatkan lawan.

“Ada perbedaan antara latihan di Cikalong dengan bela diri pada umumnya. Kalau di beladiri lain, membuat partner kesakitan atau jatuh, maka pelatih akan memujinya karena dapat mengalahkan lawan. Namun kalau dengan guru saya, kalau kemudian saya membanting dengan keras. Maka yang akan ditanya adalah yang dibanting. “Tadi dibanting sakit nggak? Kalau yang dibanting tidak merasa kesakitan berarti ilmunya sudah bagus. Apabila yang terjadi adalah kebalikannya, maka pesilat tersebut harus mengulangi terus sampai yang dibanting tidak merasa kesakitan.” Salah satu nilai kearifan Cikalong terletak pada nilai yang ditanamkan bagi para murid silat untuk dapat menghentikan niat jahat lawan tanpa menyakiti lawan.

Kearifan juga terletak ketika melakukan sesuatu dengan tidak semata mengutamakan kekuatan fisik, melainkan rasa. Perbedaan ilmu pencak silat dengan ilmu bela diri lain adalah rasa. “Sulit untuk menjelaskan lewat kata-kata.” Kemudian Tyas meminta Faqih, salah seorang penggiat bertubuh cukup besar untuk menjadi relawan untuk membantunya memperagakan Maenpo Cikalong di hadapan jamaah yang datang. Keduanya kemudian saling duduk berhadapan dan memperagakan tata cara silat dan beberapa jurus maenpo Cikalong. “Bahkan ketika bertamu pun dengan Guru saya, kami biasa diajak latihan sembari duduk berhadapan.” Sembari peragaan, Tyas memaparkan keunikan-keunikan lain dari kependidikan Maenpo Cikalong. Tyas mengibaratkan Cikalong sebagai tarekat.

“Cikalong seperti tarekat tanpa kata-kata. Guru saya biasanya tidak pernah memberi wejangan-wejangan, melainkan melalui latihan dan latihan terus menerus.” Ketika memperagakan silat, maka seorang pesilat akan meminta bantuan kepada badannya, minta bantuan kepada bumi. Pemecahan masalah terkadang tidak harus dengan rumusan-rumusan identifikasi masalah yang kaku, tapi dapat pula dilakukan dengan menggunakan rasa. Kita terbiasa menghadapi kekerasan dengan perlawanan yang lebih tingi lagi tingkatannya untuk dapat mengalahkan yang lainnya. Tapi, kekerasan lawan kekeraasan itu pilihannya 2, yaitu saya kalah atau dia menang. Dengan penyelesaian konflik yang diajarkan oleh leluhur maka kebijaksanaan akan terjaga. “Saya selamat dam niat jahat dia berhenti. Itu saya cukup, tidak perlu dibilang menang. Saya selamat, dia jangan celaka, tapi niat jahat dia sudah berhenti.”

Pada konsep pendidikan Cianjur buhun semuanya berjalan secara holistik. Bermain musik, mendengarkan musik, berlatih beladiri atau tari adalah bentuk dari ilmu yang akan membuahkan olah rasa yang baik, kelembutan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi orang lain. Dalam kaidah persilatan Cikalong ada istilah ‘berehan’ yang artinya dermawan. Nilai keikhlasan pun ditanamkan betul. Kegagalan murid terjadi ketika ia belum ikhlas menerima ketika diserang orang. Di balik kesederhanaan terhadp khasanan tradisional ada kedalaman yang membuat cara pandang kita  harus didekonstruksi ulang. Kita perlu melihat khasanah kebudayaan kita dengan kebijakan yang baru. “Kalau perlu kedepannya di Jamparing Asih ada kecapi suling sehingga kita belajar Sunda dari cara mreka menghayati nada. Sesungguhnya kita dapat belajar dari sesuatu yang tidak bisa dikatakan, dari seuatu yang tidak bisa dirumuskan. Sesuatu yang tanpa kata-kata”, pungkas Tyas.

Untuk mempelajari sesuatu secara holistik kita perlu mengetahui segala sebab akibat. Nissa kemudian mencoba mengangkat kisah latar belakang kelahiran Maenpo Cikalong oleh Raden Ibrahim. Pada saat itu Raden Ibrahim mengalami kegelisahan ketika menyadari bahwa ilmu silat yang ditekuninya bersifat menyakiti orang lain. Pada tahap tersebut beliau mengalami kotemplasi, uzlah, dan kemudain menemukan apa yang bisa disebut sebagai pencerahan. Dan sejatinya memang hanya Nur Allah  yang dapat menuntun dan membimbing siapapun juga keluar dari kegelapan menuju cahaya Min al-dhulumat ila an-nur. “Di titik itu kemudian Raden Ibrahim menyadari bahwa beliau dapat membawa ilmu silatnya kepada penyempurnaan yang menuju kepada pengejawantahan keihsanan. Di tahap tersebut, beliau mengalami penyadaran kembali, bahwa saya sebagai diri saya harus melakukan sesuatu terhadap apa yang telah terjadi dan kemudian terjawab dengan nilai-nilai tasawwuf dan spiritualitas yang membuahkan rahmat dan kasih sayang kepada sesama”, Nissa mencoba memaknai. Kemudian Nissa mencoba menghubungkan sebab akibat tersebut dengan fenomena beragama yang terjadi saat ini. Nissa berpendapat bahwa fenomena keberagamaan yang terjadi saat ini adalah pandangan bahwa agama semata sebagai suatu keharusan yang baku. Fenomena agama diidentikkan dengan perintah dan perintah, kamu harus begini, kamu tidak boleh begitu, dan lain-lain, sehingga kurang begitu mengawinkan faktor keberagamaan dengan faktor-faktor psikologis, spiritualitas, dan sosial.

Tyas kemudian menambahkan dengan perenungannya terhadap riwayat-riwayat hidup para pendekar. Pencipta Cikalong itu pesilat dan belajar tasawwuf namun dia tidak kemudian meninggalkan silatnya untuk mempelajari kitab. “Musashi mencapai pencerahan sampai akhirnya ilmunya sama-sama tidak menyakiti. Jadi kalau dia ditantang sama orang, maka orang lain lawannya pakai katana atau pedang tajam sementara dia pakai pedang kayu jadi cuma dilumpuhin saja. Musashi filsafatnya Zen dan dia mengibaratkan atau membahasakan pencerahan dengan Zen. Kita dapat mencapai pencerahan dengan ilmu pedang, musik, ilmu patung, dan lain-lain. Jadi, tarekat itu punya jalannya masing-masing.”

Tyas kemudian mencoba menganalisis Cak Nun sebagai serang sastrawan dan pelaku teater. Rumi mengalami pencerahannya lewat puisi dan tari, ada yang menemukan tarekatnya dengan aktifitas ekonomi, biologi, teknik, dan lain-lain. Kalau kita memiliki cara pandang yang tepat, maka menggali bidang apapun insya Allah akan bertemu jalan dan pencerahannya”, sambung Tyas.

Kesundaan Maiyah

Syekh Kamba berikutnya memaparkan percikan-percikan keilmuannya. Beliau menyampaikan rasa syukurnya akan kehadiran Maiyah di tatar Pasundan. “Saya sujud syukur karena Maiyah Bandung sudah ada. Maiyah dan Sunda secara esensi dan substansinya. Dengan bukan semata melihat faktor kehadiran Cak Nun.” Syekh Kamba memaparkan pembacaannya terhadap keterkaitan antara Maiyah dan Kesundaan. “Maiyah itu sebenernya Sundawi. Maiyah memiliki karakteristik sunda yang kental. Hubungan antara Maiyah dan Sunda itu sangat erat. Maka seharusnya gagasan Maiyah harus muncul dari Sunda karena berakhir di tatar Sunda.” Syekh Kamba kemudian mengelaborasi dengan fase-fase penggunaan kata Maiyah yang menurut beliau diakhiri oleh Syekh Yusuf di Padalarang. “Dalam sejarah keilmuan, penggunaan kata Maiyah dalam literatur sufisme pertama kali diawali pada masa Rasulullah bersama Sayyidina Abu Bakar di Gua Tsur. Innallaha ma’ana. Jangan bersedih karena Allah ma’ana. Berarti kalau orang bermaiyah itu tidak ada yang sedih. Kedua oleh Syaikhul Akbar Ibn’ Arabi. Ketiga oleh Syekh Yusuf Al Bantani Al Makassari. Beliau memimpin pemberontakan di Kesultanan Banten, dikejar belanda, masuk ke Banten, masuk ke Cianjur lewat puncak sampai akhirnya masuk ke Padalarang dan beliau pun ditangkap disana.”

Menurut pembacaan Syekh Kamba, peristiwa penangkapan pun bukan karena alasan ditangkap melainkan karena Syekh Yusuf sudah menginginkan dirinya untuk ditangkap. Karena setiap kali dikepung, Syekh Yusuf kerap menghilang. Menurut Syekh Kamba, Syekh Yusuf memiliki isyarat-isyarat simbolik. “Kalau Syekh Yusuf bangun kembali dan ditanya, kenapa Tuan Guru melarikan diri dan bergerilya ke Jawa Barat, ke tatar Sunda — tidak ke Jawa?

Peristiwa gerilya itu dapat dilihat dengan pembacaan bahwa jalur yang menghubungkan antara Jakarta, Cianjur, dan Bandung melewati Puncak sebenarnya adalah jalur yg dibuat oleh Belanda untuk mengejar Syekh Yusuf. Itu adalah jalan pertama yang dibuat. Betapa besar jasa Syekh Yusuf bahwa beliau melakukan perlawanan agar supaya Belanda membuat jalan yang menghubungkan antara Jakarta ke Bandung. Begitulah isyarat-isyaratnya dan di dalam tasawwuf orang harus jago isyarat. Kemudian oleh Cak Nun yang pertama kali saya temui di Kairo dengan mengusung judul Perjalanan Cinta Maiyah, kisahnya.

Syekh Kamba berkali-kali menekankan keterkaitan erat antara Maiyah dan kesundaan. “Salah satu alasan mengapa Syekh Kamba sangat berharap dengan Bandung adalah karena Maiyah dengan Sunda itu sangat erat kaitannya.”  Berdasarkan keilmuan tasawuf klasik terdapat 7 karakter yang terbentuk dari tasawuf klasik, antrara lain kehalusan dalam perkataan dan budi pekerti, penampilan yang simpatik, menjadi teman yang mnyenangkan, bermuka gembira, toleran, pemaaf, melupakan kebaikan sendiri, serta mengabaikan pebruatan jahat org lain. “Kalau dibandingkan dengan beragam suku lainnya, seperti Bugis, maka Bugis yang kasar dan keras karena hidup di daerah pesisir bisa dibilang jauh dari karakter itu. Sedangkan Sunda yang memiliki peradaban ladang, bukan peradaban pesisir sehingga erat dengan sifat-sifat tersebut. Maka antara tasawuf dan kesundaan itu ada keterkaitan yang erat.”

Pengaruh dari esensi dan substansi Islam sangat mengakar di dunia nusantara. Mengakar dari nilai tata krama dan pergaulan hidup. Hal itu sejalan dengan tugas Rasulullah dengan Islam yang sesungguhnya diutus untuk menyempurnakan akhlak dan budi pekerti luhur, Innama buitsu liutamimma makarimal akhlaq. Islam datang ke Nusantara masuk ke daerah Jawa, Bugis, Sunda mudah diterima karena memang kecenderungan dan karakteristik di Nusantara memiliki kedekatan kepada islam yang ditawarkan. Islam yang belum dipilah-pilah. Misalkan dari sisi pencerahan. Dari mana saja bidang hidup itu bisa memperoleh pencerahan ilahi, karena esensi dari agama adalah hikmah. Syekh Kamba kemudian melanjutkan mengenai nilai-nilai kebijaksanaan dan kearifan. “Bijaksana, yaitu ma’rifat itu bahasa modernnya disebut sebagai kecerdasan spiritual. Untuk kecerdasan spiritual, psikologi modern belum sampai. Tapi di Maiyah kita sudah tahu bahwa psikologi modern itu akan sampai kepada ilmu Maiyah yang disebut sebagai kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual itu adalah kemampuan utk memaknai hidup. Apa saja. Kemampuan untuk memaknai.”

Syekh Kamba memngilustrasikannya dengan kejadian sehari-hari, “Jadi kalau keluar rumah tiba-tiba bawa motor dan ketemu angkot parkir di pinggir jalan itu tidak marah-marah karena punya kecerdasan spiritual. Alhamdulillah ada angkot berhenti di pinggir jalan sehingga bapak tua tidak perlu berjalan jauh. Sedangkan dirinya yang sedang naik motor bersyukur karena tidak perlu naik angkot”.

Kepada Intuisi dan Kemurnian

“Inti dari agama itu sebenarnya adalah membentuk Yu’ til hikmata may-yasyaa-u wa may-yu’tal hikmata faqad uutiya khairan katsiiraa. Yaitu Allah memberikan kebijaksanaan hikmah kepada setiap siapa yang dikehendakiNya. Dan orang yang diberikan Allah kebijaksanaan itu, sesungguhnya telah diberi kebajikan yang banyak. Secara teoritis dan akademis, hikmah itu bisa diperoleh dengan apa yang di dalam psikologi disebut intuisi. Seluruh pemain seluruh ahli yg punya skill apapun itu menapai taraf pencerahan itu kalau dia mencapai taraf intuisi. Seperti silat dengan mempelajari dulu ilmunya, jurus-jurusnya, gagasan-gagasannya, berbagai makna yang terkait dengan itu di luar kepala. Itu adalah ilmu. Dengan ilmu luar kepala itu belum tentu dia bisa mencapai intuis, maka dia harus latihan. Latihan… latihan… latihan… sampai latihan itu membuat dia lupa ilmu. Jadi sesungguhnya dia sudah tidak memerlukan ilmu itu lagi. Karena kalau seseorang atlit-atlit yang juara, contohnya, mereka itu mengalami dan mencapai titik intuisi dalam ilmu. Artinya dia refleksinya sudah secara otomotis merespon sesuai dengan ilmu itu, tapi dia sudah tidak terpikir dengan ilmu itu. Jadi kalau diserang, kalau masih berkutat pada teori, kalau menurut teorinya, yang harus dilakukan itu adalah ini, dia akan terluka duluan. Tetapi kalau sudah mencapai taraf intuisi, sebelum menyerang dirinya sudah tau bahwa lawan akan menyerang di titik yg sudah dia bayangkan secara intuitif”, papar Syekh Kamba panjang lebar.

“Ketika ilmu tentang agama masih bicara soal tata cara-tata cara, yang kita perhitungkan itu tata cara shalat, wudhu, dhikr, dan semua ilmu-ilmu yang hanya dihafalkan, maka tak akan sampai pada intuisi. Tidak akan kita melakukan shalat secara refleksionis, secara reflektif, secara resposnif, itu yang dalam tasawwuf disebut fana’. Dalam tasawuf fana’ bukanlah pingsan, dia adalah terhapusnya rumusan-rumusan pengetahuan yang diketahui, terganti oleh intuisi rasa, karena saking seringnya dilakukan. Karena seringnya melakukan latihan, mau latihan apapun juga, kalau mencapai titik intuisi, maka rasa yang berbicara.”, jelas Syekh Kamba. “Maka rasulullah mengatakan, ada 3 hal yang kalau kalian memilikinya maka kalian akan merasakan kenikmatan, yaitu ketika seseorang itu lebih mencintai Allah dan Rasulnya daripada yang lain; bila encintai saudaranya karena Allah; dan ketika tidak ingin kembali menjadi kufur, tidak menginginkan Allah SWT. Jadi iman itu harus dirasakan, bukan didiskusikan, apalagi diperdebatkan, yang hanya akan menghasilkan kegaduhan. Agama itu diletakkan sampai kepada tahapan hikmah, mencapai taraf intuisi.”

Setiap gerakan silat memiliki pemaknaannya untuk diinternalisasi ke dalam diri. “Kenapa waktu membasuh muka itu tidak menggunakan filosofinya? Kenapa waktu berkumur-kumur tidak mengalami pencerahan?”, pancing Syekh Kamba bertanya. Dalam sebuah risalah, Du’tsurah datang dengan menghunus pedang yang hampir membunuh Rasulullah, tiba-tiba pedangnya terjatuh ketika baginda Nabi mengucapkan nama Allah saat ditanya siapa yang melindunginya. Itu adalah ilmu persilatan Rasulullah.” Untuk memahami hikmah-hikmah itu baiknya mencoba merekonstruksi dan mereformasi beragam peristiwa demi memandangnya secara murni. “Bukankah segala sesuatu itu lebih baik memasukinya secara murni?” Syekh Kamba kemudian memaparkan kemurnian dengan mencontohkannya secara ringan dan mengibaratkannya dengan pertalian kasih. Ibarat seseorang yang memiliki kekasih, kalau sudah pernah ada kekasih terdahulu, maka kekasih terdahulunya harus dihilangkan dan dihapuskan dari memori sama sekali. Sehingga dapat mengalami sesuatu yang baru secara murni. “Kan nggak mungkin dong kita punya kekasih baru tapi masih harus ingat yang sebelumnya, kan nggak. Artiya kalau mau memasuki sesuatu, kita harus mengejar kemurnianya dulu. Terlebih lagi sikap kita kepada Al Quran. Mbok ya kita masuk Al Quran itu dimurnikan dulu, dijernihkan dulu, seluruh sikap kita terhadap Al Quran jangan ada sesuatu apapun yang mempengaruhi pikiran kita untuk memahami Al-Quran. Jadi kalau bisa kita dengan hati kita sendiri dapat memahami Al-Quran secara langsung. Itu bisa dilakukan. Bisa karena kalau kita melakukannya itu kan memang teorinya ada epistemologinya ada. Tidak mungkin Allah menurunkan Al Quran hanya untuk dipahami oleh sekelompok orang, hanya untuk dibaca oleh sekelompok orang. Seharusnya setiap orang punya tarekatnya sendiri untuk menuju Allah. At-turuqu ilallahi kanufusi bani adam. Jalan menuju Allah ada sebanyak nafas anak cucu Adam.”

Mengenal dengan Hati dan Cinta

Syekh Kamba meneruskan penyampaian ilmunya kepada pengenalan diri. Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu. Sebenarnya maknawinya adalah sadar diri adalah sadar tuhan, sesoang yg mnaydari dirinya itu adalah mnyadari Tuhan. Tidak ada yang mampu mengingkari tuhan kalau dia sadar dirinya. Dia sadar diri. Para sufi dapat merasakan sesuatu datang dari Allah  dapat diekspresikan. Maka dari itu, kita mengatakan pengetahuan yang berifat ma’rifat itu adanya di hati, di qalbu. Pengertian qalbu pun masih bisa didiskusikan. Bahkan ilmu neurologi pun belum bisa menentukan itu karena dianggap bahwa itu semua adalah pekerjaan otak kita. Tapi yang jelas bahwa koneksi, konektifitas kepada tuhan itu ada melalui mekanisme yang ada di dalam diri kita.”

Dalam Al Quran dikatakan Qul in kuntum tuhibbunallah fattabi’uni yuhbibkumulLah. “Maka asas dari keberagamaan itu sesungguhnya adalah cinta. Kenapa dengan cinta? Karena hanya dengan cinta anda bisa merasakan Allah. Dapat berkoneksi dengan rasa dan kita harus merasakan hadirnya. Cara merasakan kehadiran cinta adalah dengan meyadari bahwa dia yang kita cintai adalah dominan, maka dari itu kita menggunakan kata cinta.” Syekh Kamba meneruskan, “Maka orang yang tidak pernah merasa memiliki seseorang yang dicintai, tidak bisa mencintai Allah. Setidaknya, ia tidak akan bisa menjelaskan kepada orang lain apa arti dari dirinya mencintai Allah. Karena kalau anda mencinta, maka kekasih akan dominan di dalam dirimu. Segala sesuatunya itu adalah kekasihmu, pasti. Mengingatkanmu kepada kekasih.”

Kisah pertalian cinta dipaparkan oleh Syekh Kamba dengan kisah Layla Majnun. “Kisah Majnun akan Layla adalah simbol dari cinta yang menunjukkan kekasihmu dominan dalam dirimu. Ketika Majnun memandang tiang listrik maka yang dilihat adalah Layla, ketika memegang pasir di pantai yang terasa adalah tangan Layla, dan ketika melihat luasnya samudera dia melihat hatinya Layla yang begitu luas. Melihat apapun maka yang terlihat adalah Layla.” Syekh Kamba menyambungkan, “Kalau orang mencintai Allah, maka Allah adalah yang dominan. Maka dari itu agama harus didasari kepada cinta supaya Allah dominan. Ketika Allah dominan, baru kita bicara nurani. Jangan bicara soal nurani, kalau Allah tidak pernah dominan dalam dirimu. Nurani muncul itu kalau anda melakukan peniadaan diri. Fana’. Ada pengosongan, mengosongkan diri supaya jangan mengejar kepentingan-kepentingan pribadi.”

“Diri itu ada dua, ada diri subyektif dan ada diri obyektif. Ada diri yang memikirkan hasrat kepentingan, maka dari itu benar adanya yang dinyanyikan KPJ tadi bahwa ‘keinginan adalah sumber penderitaan’. Keingingan adalah siksaan, karena itu merupakan diri subjektif. Sedangkan diri objektif berada pada pemikrian bahwa ‘diriku adalah dirinya’, diriku adalah dirinya Nissa, dirinya Aam, diri orang-orang lainnya.” Penggambarannya kemudian disampaikan Syekh Kamba dengan  hadits Nabi, bahwa perumpamaan orang beriman itu adalah dalam kasih sayang mereka itu sama dengan satu raga. Kalau salah satu anggota tubuh sakit, maka yang lainnya ikut merasakan. “Itu artinya ketika yang lain disakiti maka yang lainnya akan merasa sakit, itu kenapa? Karena aku cinta. Kalau kekasihmu disakiti orang, pasti kau ikut merasa sakit. Kecuali bila kau yang menyakitinya.” Tentang diri, Syekh Kamba mengatakan bahwa diri yang menjadi obyektif  adalah sumber nurani seseorang. Seseorang harus melepaskan diri subyektifnya untuk bisa menemukan jati dirinya. Dimana dalam dirinya yang sesungguhnya terdapat hikmah, terdapat ma’rifat. Dalam literatur disebutkan bahwa refleksi asmaul husna ke dalam diri seseorang, adalah jika seseorang mampu mengejawantahkan sifat “Rabb” menjadi Tuhan sebagai pengasuh. Ajaran-ajaran islam sebenarnya supaya membimbing manusia supaya mendapatkan hikmah kebijaksanaaan dan kearifan.

“Supaya nuraninya bangkit seseorang harus mematikan hasrat-hasrat kepentingan pribadinya. Maka nuraninya akan bangkit, ketika nuraninya bangkit maka dia akan menjadi khalifah yang mengasuh. Maka Rasul itu berkata, “addabani rabbi” bukan “addabani ilahi”. Seperti yang juga dipaparkan Cak Nun bahwa pengenalan Allah lewat Kekuasaannya adalah ‘Ilahi’, sedangkan peran Allah dalam kepengasuhan kasih sayang dan pengayom adalah ‘Rabbi’. “Yang mendidik itu adalah Rabb, pengasuh.. kepengasuhan.”, pungkas Syekh Kamba. Yang kita ketahui sebagai kepengasuhan itu adalah hikmah kebijaksaanaan yang diperoleh seseorang dalam tirakat, dalam perjuangan dan memaknai hidup.

Kepemimpinan Bernurani

Syekh Kamba melanjutkan pemaparannya mengenai tips mencari pemimpin. Baginya Cak Nun adalah sosok pemimpin. “Beliau mengejawantahkan nurani yang bangkit. Peniadaan diri, tidak mengejar apa-apa, tapi hanya memberi. Refelksi dari kekuasaan Allah SWT di dalam diri seseorang adalah bahwa dia selalu memberi tanpa pamrih.” Syekh Kamba kemudian mengajakan jamaah membayangkan kasih sayang Allah, “Coba saja, Allah yang memiliki segalanya, membuat segalanya, membuat kemampuan apapun tapi semuanya tidak digunakan untuk Dirinya.”

“Seorang pemimpin yang dikatakn oleh Rasulullah itu adalah Khairukum anfaukum linnas. Seseorang itu akan menjadi terbaik bila dia lebih banyak bemranfaat pada umat manusia. Ituah yang menjadi alasan bagi kita yang memilih pemimpin dengan pemimpin yang memiliki nurani.” Seharusnya memilih pemimpin yang punya nurani, ada track recordnya bahwa dia tidak membuthkan apa-apa. Maka untuk menjadi pengasuh, seseorang harus selesai dulu dengan dirinya.  Dia harus berada di atas kepentingan-kepentingan itu untuk bisa mengasuh. Kalau masih memperebutkan beragam kepentingan maka dia tidak bisa mengasuh. Syarat seseorang menjadi pemimpin menurut Syekh Kamba adalah jangan melibatkan diri dari kepentingan-kepentingan. Seorang pemimpin harus melepaskan diri dari kepentingan pribadi maupun kelompok untuk bisa mengasuh Indonesia. Kalau tidak bisa melepaskan hasrat pribadinya, maka ia tidak bisa menjadi pemimpin, karena nanti akan saling ikut kepada berebutan dunia. “Itu yg disebut bernurani. Nurani beasal dari bahasa Arab yang berarti 2 cahaya, cahaya dari Tuhan dan cahaya dari dalam hatimu bertemu, sehingga hatinya menjadi terang benderang. Itu yang disebut pencerahan.”

Pemaparan keilmuan kemudian berjlanjut kepada konsep paseduluran. Sejak zaman dahulu di tradisi-tradisi Nusantara, baik di Minang, Sunda, dan Bugis slelau ada konsep-konsep persaudaraan, paseduluran kesejatian, dan itu tasawwuf. Syekh Kamba menghubungakn konsep tersebut dengan konsep Malamatiyah dalam tasawwuf yang ajaran atau konsep utamanya adalah itsar atau altruisme. “Seperti kisah para pemuda Ashabul Kahfi. Innahum fityatun amanuu birabbihim wa zidnaahum hudaa. Mereka adalah pemuda-pemuda sakti, mereka yang itsar, altruisme, mereka yang menrgobankan kepentingan dirinya untuk kepentingan orang lain. Mengobrankan kepentingan diri, untuk kepentingan yang lebih besar”. Hal tersebut yang dapat mendorong para pemuda seperti halnya yang diceritakan dalam Al Quran.

Malam kian larut. Waktu saat itu telah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Berbeda dengan Maiyahan di kota-kota lainnya yang dapat dilakukan hingga pukul 02.00 atau bahkan pukul 03.00 dini hari, Maiyahan di Bandung harus diakhiri pukul 00.00 WIB dikarenakan keterbatasan kondisi pemberlakuan jam malam. Untuk mengejar waktu yang tak berlari dan memungkasi diskusi, Syekh Kamba melontarkan pernyataan dan harapannya agar dapat berlanjut kepada sesi diskusi. “Ilmu adalah mempertanyakan sesuatu dan berusaha menjawabnya. Mungkin anda tidak menemukan jawaban, tapi proses mencari jawaban itu adalah ilmu yang sesungguhnya.” Syekh Kamba melanjutkan, “Syekh Hasan Mustofa adalah tokoh sufi yang dikenal di Sunda karena beliau adalah murid Ibn’ Arabi. Sangat disayangkan bahwa orang-orang kurang perhatian kepada beliau padahal beliau adalah ulama syekh besar, murid Ibn’ Arabi dan memiliki karya. Beliau menciptakan karya besar puisi dengan diiringi berkesenian bambu. Filosofi bambu beliau pun lebih luas dibandingkan dengan Rumi. Maka jika Maiyah itu adalah gagasan sufistik, maka seharusnya Maiyah itu harus cemerlang di Bandung dan di tatar Sunda. Karena memang aslinya klop, aslinya gagasan-gagasannya nilai-nilainya, ajaran-ajarannya saling terkait dan saling mendukung.”

Kesadaran Internal

Diskusi antar jamaah terjadi untuk saling berbagi tanya dan jawab. Sesi itu diawali oleh pertanyaan dari Ully yang berasal dari Tegal. Ully menanyakan mengenai cara manusia mempelajari Al Quran sendiri. Ia pernah mendapat petuah dari gurunya bahwa ketika belajar sendiri maka gurunya adalah setan. Sehingga selama ini ketika mau membaca terjemah Al Quran pun dirinya tidak berani karena takut tidak benar. Pertanyaan Ully tersebut kemudian dijawab oleh Syekh Kamba dengan pertanyaan lainnya, “Lebih baik muridnya setan tapi pintar atau bodoh tapi bukan muridnya setan?” Syekh Kamba kemudian melanjutkan dengan pernyataan, “lebih baik tahu daripada tidak tahu. Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin. Ungkapan sekalian alam itu untuk setiap orang. Bukan hanya untuk orang-orang yang tahu”.

“Dalam psikologi atau antropologi ada proses internalisasi, eksternalisasi, sosialisasi. Sesuatu kita bisa pahami, terapkan, aplikasikan kalau dia mengalami internalisasi. Tanpa mengalami internalisasi maka perilaku kita tidak akan menggambarkan perilaku atau gagasan-gagasan itu, melainkan hanya sekedar imitasi. Dan imitasi bukan karakter manusia karena kita punya proses, akal diberikan Allah untuk melakukan processing. Kita kerap melakukan suatu kebaikan bukan karena internalisasi tapi hanya dorongan dari faktor luar diri kita atau faktor tradisi. Hal tersebut menyebabkan kita tidak memilih suatu perilaku berdasarkan kesadaran diri kita dan itu yang membuat kehidupan kita sesungguhnya palsu karena kita tidak memiliki kehidupan yang bermakna. Hal tersebut diakibatkan karena kita hanya melakukan sesuatu yang sudah mentradisi. Kita hanya melakukan perbuatan baik kepada tetangga itu karena kalau tidak berbuat baik nggak enak; bukan karena kesadaran kepada tetangga bahwa berbuat baik itu adalah sesuatu yang baik. Itu berbeda. Oleh karena itu jika seseorang tidak bisa mempelajari sendiri maka dia tidak bisa mengalami internalisasi, jadi harus mempelajari sendiri. Belajarlah kepada Kyai, ustad, siapapun itu tapi pelajarannya harus diproses dan diukur oleh anda sendiri”, babar Syekh Kamba. “Hal ini penting, supaya ummat ini jangan lagi menjadi generasi seperti yang diungapkan oleh Abdul Hadi W.M., bahwa kebodohan ummat adalah keberkahan bagi para pemimpinnya.”

“Jangan mengenali kebenaran hanya karena ketokohan seseorang, kenalilah kebenaran agar kamu dapat menentukan siapa yang seharusnya menjadi tokoh. Anda harus mempelajarinya kalau memang bisa dipertanggungjawabkan secara objektif. Harus menimbang dan melakukan internalisasi sendiri, ketika kita sudah mengetahui secara internalisasi, maka apresiasi kita terhadap tokoh-tokoh itu akan menjadi lebih besar.” Jangan sampai atas nama Al Quran kita mau berkuasa kepada yang lain. Seharusnya Al Quran diinternalisasikan ke dalam diri. Al Quran adalah petunjuk kepada diri sendiri dengan memperbaiki diri dulu sesuai dengan ajaran-ajaran Al Quran. Karena yang terpenting dari agama adalah Bu’itstu li utami-ma makarimal akhlaq. Itu yang dipahami leluhur-leluhur kita. Maka itu yang dapat membangun peradaban-peradaban karena bukan kulit-kulitnya yang diutamakan”, pungkas Syekh Kamba menjawab pertanyaan.

Identitas Kultural

Diskusi dilanjutkan oleh pertanyaan Kang Inin dari Majalengka. Inin merasa bahwa paparan Syekh Kamba mengenai Tasawwuf klasik mengingatkannya kepada tokoh kabayan. “Saya curiga jangan-jangan Kabayan adalah imam besar sufi di Jawa Barat atau bahkan mungkin di Nusantara.” Inin mengingatkan kembali jamaah kepada kisah dan film Kang Kabayan. Contoh perilaku Kabayan  yang diangkatnya adalah bahwa bagaimanapun dirinya dimusuhi oleh abah, namun di balik keluguannya ia tetap menjadi orang yang simpatik dan baik. “Hampir bisa di bilang sifat-sifat tasawuf menempel di diri Kabayan”, rangkum Inin. “Apakah Kabayan hanya tokoh fiksi yang diangkat dari nilai-nilai Kesundaan atau Kabayan hanya tokoh yang memang digambarkan hanya sebagai dirinya sendiri, atau jangan-jangan dirinya adalah personifikasi seorang sufi, bahkan mungkin beliau adalah personifikasi Syekh Hasan Mustofa.”

Inin kemudian melanjutkan lontaran bahan-bahan diskusinya. Menurutnya orang Sunda sangat menyenangi pelesetan seolah Sunda tidak bisa melihat nama yang bagus. “Saya punya teman yang bernama Wawan atau Iwan panggilannya pasti berubah menjadi Ciwong. Apakah ada yang melatarbelakangi hal semacam itu? Di sisi lain Sunda biasa diidentikkan dengan ramah tamah, tutur kata sopan santun, seperti yang dikatakan Cak Nun sunda ramah, sunda sopan santun. Namun, di Sunda akrab dengan kosa kata ‘anjing’ dan ‘anjing’ dilihat sebagai pergaulan, ‘Njing, aing lapar euy. Njing, jauh euy.’ Maka, ‘anjing’ di sini maknanya bagaimana? Apakah sama seperti asu dan jancuk. Sepintas tata bahasa itu kasar dan bertolak belakang dengan kesundaan, tapi bukankah kalau semakin dekat kita dengan orang biasanya semakin bebas untuk berbicara seperti itu?”, telaahnya.

Wawan kemudian merespon pancingan diskusi dari Inin. “Mengenai fiksi atau tokoh Kabayan, pada dasarnya Sunda tidak terbiasa memiliki budaya tulis yang baik. Sunda turun-temurun melalui budaya lisan. Bahkan pantun yang menjadi referensi tentang pemikiran Sunda buhun pun baru ditranskrip oleh Ayip Rosyidi tahun 70 an. Budaya penuturan kisah di Sunda adalah dengan juru pantun, biasanya seorang yang tidak bisa melihat bercerita sambil memegang kecapi dan bercerita mengenai kisah Prabu Siliwangi, dan lain-lain. Jangankan tokoh Kabayan, Tokoh Siliwangi saja masih dalam perdebatan dan perbincangan budayawan-budayawan Sunda. Ada yang berkata bahwa Siliwangi itu personal, ada yang bilang itu gelar bagi Sri Baduga Maharaja karena perilakunya yang silih wangi, saling mewangikan menurut tulisan Ayatrohaedi.” Wawan menekankan “Tidak penting itu fiksi atau non fiksi, yang terpenting adalah ceritanya sampai kepada kita. Artinya ada.”

Mengenai Kabayan, Wawan menyarankan untuk tidak melihat Kabayan sebagai tokoh fiksi atau non fiksi namun melihatnya dan memahaminya sebagai indentitas kultural masyarakat Sunda. Terlepas dari fiksi atau fakta, Kabayan sudah menjadi cara bagi orang Sunda untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai Kabayan yang penuh paradoks. Kabayan kalau mengajarkan itu penuh paradoks, seperti kosong itu isi, isi itu kosong, keabadian itu sementara, sementara itu abadi. Maka jatuhnya di orang-orang yang tidak terbiasa berpikir sebagai sesuatu yang lucu. Karena kelucuan-kelucuan itu sebetulnya merupakan pelesetan dari cara berikir yang linear, yang lurus. Sebenarnya, bagi Kabayan sendiri itu tidak lucu, karena dirinya sudah terbiasa beprikir seperti itu.

“Berkaitan dengan plesetan, ada penelitian teori masyarakat bahwa Sunda sudah sering sekali dijajah, belanda, jepang. Saking lamanya dijajah, teknik perlawanan orang Sunda itu mempelesetkan itu. Menurut penelitinya, Iip, bentuk perlawanannya seperti itu karena orang Sunda itu lembut. Menurut teori Pak Mansyur, peristiwa tersebut merupakan bagian dari akulturasi, seperti dari Amin atau Mukmin menjadi Mimin”, jawab Wawan. Ia melanjutkan bahwa tokoh anjing populer di tanah Sunda karena ayah Sangkuriang, si Tumang, adalah seekor anjing. Dalam tradisi lisan dan mitos-mitos tokoh anjing sangat dikenal. “Cara membaca mitos berbeda dengan cara membaca berita. Kalau cara baca berita apa yang diutarakan adalah fakta, kalau mitos pembacaannya adalah apa getar batin yang kita rasakan setelah membaca atau mendengar mitologi itu”, sambung Wawan, “Di mitos Sunda, sejauh-jauh Sangkuriang merantau, dia akan kembali lagi ke Dayang Sumbi, dia akan jatuh hati lagi kepada ibunya, dia akan jatuh hati lagi kepada kebudayaannya yang dalam mitosnya Sangkurinang mengejar Dayang Sumbi ke Soreang. Dalam banyak mitologi banyak menyamarkan manusia dan binatang, seperti lutung kasarung, mundinglaya dikusumah, dan kidang pananjung. Mungkin saja orang Sunda yang menyukai anjing itu karena dalam khasanah kebudayan Sunda tokoh anjing kental dibahas. Dan di Sunda banyak yang bersifat anonim karena tradisi lisan lebih kuat daripada tradisi tulisan. Untuk makna nilainya maka dibutuhkan kajian ilmu komunikasi, dari makna sebuah simbol, seperti jancuk yang menjadi barometer keakraban.”

Syekh Kamba merespon diskusi tersebut bahwa di literatur Arab dikenal banyak tokoh sufi seperti ada Abu Nawas dan Guha. Tokoh tersebut tidak ditulis begitu saja kemudian dia tidak ada secara historis. Orang seperti Kabayan yang kita tahu dari segi kelucuan-kelucuan itu penuh dari sisi filosofis, visi-visi, dan pandangannya yang dia bangun sebagai filosofi kehidupan. Dan kalau mau mlihat satu-persatu tokoh sufi masa lalu, pembaca akan langsung percaya bahwa Kabayan itu bagian dari mereka. Menurut pandangan Syekh Kamba, Kabayan sebenarnya menggambarkan perilaku-perilaku sufi. “Penampilannya yang apa adanya pun menunjukkan bahwa tak perlu pandangan orang lain supaya dia dikatakan hebat dan tahu agama kemudian harus menggunakan baju koko, sorban, dan lain-lain. Dan di dalam prinsip tasawwuf dikatakan bahwa seseorang dikatakaan memiliki maqam yang tinggi itu adalah seperti Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang ketika selesai Mi’raj bertemu Allah dan mengalami banyak hal yang menunjukkan ketinggian spiritual, beliau kemudian malah berkeliaran ke pasar. Orang tidak bisa mengukur kedekatan dan pendekatan spiritual seseorang degan Allah SWT lewat penampilan-penampilan. Innallaha la yanzhuru ila ajsamikum wa la ila shuwarikum walakin yanzhuru ila qulubikum. Hati itu tidak bisa ditampil-tampilkan”.

Menurut Syekh Kamba, Kabayan itu tidak ahistoris dan sebenar-benarnya tidak ada pula yang dapat membatalkan teori untuk memperdebatkan historisitas atau ahistorisitasnya karena tokoh tersebut telah hadir sejak masa lalu. “Seperti perkataan Imam Ghazali, tidak meyakini sesuatu bukan berarti sesuatu yang tidak anda yakini itu tiada. Boleh jadi anda tidak meyakini sesuatu itu padahal esensinya ada. Segala sesuatunya bisa terjadi dan yang terpenting adalah bagaimana gagasan dan ilmu itu bisa memberikan efek ke dalam hidup kita secara positif. Yang terpenting adalah mengambil hikmahnya dan memberikan pemaknaan”, jelas Syekh Kamba menutup diskusi forum malam itu.

Sebab keterbatasan waktu, pertemuan Jamparing Asih edisi desember harus diakhiri. Sesaat sebelum jarum jam mendekati angka 00.00, Unit Rebana ITB menutup forum dengan lantunan sholawat indal qiyam. Kemudian bersamaan dengan iringan musik rebana, jamaah berjajar melingkar untuk kemudian saling bersalaman.

Terima kasih untuk Allah, Rasul, malaikat, staf Allah, orang tua, para guru, warga bandung, tanah pasundan, jamaah maiyah, Pak Hasto dan RRI, serta semua pihak yang telah membantu dan mendukung pertemuan malam ini baik yang tertangkap oleh indera maupun yang tidak terlacak lewat logika. Pertemuan yang amat singkat dan padat ini semoga menjadi energi untuk menjalankan laku hidup dan bekal kerinduan untuk pertemuan berikutnya. Pada Jamparing Asih edisi selanjutnya yang akan dilaksanakan di minggu terakhir bulan Januari 2016. [Jamaparing Asih]