Daur (194)

Sistem Aurat

Ta’qid : “Allah berhak mematikan siapa saja, kapan saja, di mana saja, berapa saja. Tapi jangan pernah simpulkan bahwa Allah adalah Maha Pembunuh Berantai atau Allah Maha Pembunuh Massal”

“Kamu, Him, kan sudah semakin tua”, kata Markesot kepada Tarmihim, “apa masih suka pada pornografi?”

“Kok pornografi?”, Tarmihim balik tanya.

“Lha yang kamu pegang itu?”

“Lho handphone saya tidak ada isi gambar telanjang”

“Tulisan-tulisan dan bahan-bahan lain yang tadi kamu bukakan kepada saya itu penuh ketelanjangan dan tindakan-tindakan menelanjangi”.

“Wah ndak ngerti saya, Cak Sot”

“Kamu mengerti aurat kan?”

“Ya”, jawab Tarmihim, meskipun sebenarnya agak ragu.

“Aurat itu aturan Pemilik Kehidupan tentang sebagian prinsip yang harus dijaga oleh makhluk-Nya”

“Aurat itu sesuatu yang harus ditutupi”, sahut Tarmihim, “sejauh itu saya agak paham, Cak Sot”

“Sesuatu yang harus ditutupi oleh makhluk-Nya itu tidak tergantung apakah ia baik atau buruk, indah atau jelek, benar atau salah. Letak benarnya, baik dan indahnya adalah pada tindakan menutupi itu”

“Mulai agak ruwet, Cak Sot”

“Payudara gadis-gadis itu indah, tetapi kalau dibuka dan dibawa ke mana-mana jadi berkurang keindahannya. Bahkan para lelaki sekali dua kali bisa menikmati keindahan payudara yang dibuka, tapi beberapa saat kemudian akan kehilangan kenikmatan dan menyimpulkan gadis yang membiarkan payudaranya terbuka itu pasti orang gila. Kesimpulan tentang gila itu mencampakkan rasa senang melihat payudara menjadi rasa jijik dan iba”

“Agak mengerti, Cak Sot”

“Ternyata letak keindahan tidak pada payudara gadis itu, melainkan pada kondisi waras atau gilanya di pandangan orang yang melihatnya”

“Benar juga”

“Ada barang jelek yang dikategorikan sebagai aurat sehingga harus ditutupi, misalnya dubur manusia”

Haqqul yaqin”, Tarmihim terus menyahut-nyahut sesuai dengan perkembangan respons pikiran dan perasaannya.

“Ya. Cukup haqqul yaqin. Tidak perlu ‘ainul yaqin untuk menyadari bahwa itu adalah aurat yang harus ditutupi dari pandangan orang lain. Tetapi ada sesuatu yang baik yang juga aurat yang harus ditutupi, misalnya amal salehmu jangan dipamer-pamerkan. Kalau aurat itu tidak kamu tutupi, hasilnya adalah riya`, takabbur, pamer, sok”

“Sering saya samar-samar berpikir seperti itu juga, Cak Sot, tapi belum pernah bisa merumuskannya secara tepat”

“Ada kebenaran yang juga harus ditutupi”

“Lho kok?”

“Kalau waktu kecil dulu kamu bertanya kepada Ibumu mana tempat kamu dilahirkan, Ibumu tidak lantas membuka pakaiannya dan menuding tempat dari mana kamu keluar dan menjadi bayi”

Tarmihim tertawa.

“Tapi ada juga kebenaran yang harus justru dibuka. Misalnya kebenaran tentang pejabat Negara yang melakukan korupsi. Itu wajib dibuka karena bukan aurat. Korupsinya adalah kebathilan, tapi fakta bahwa ia korupsi adalah kebenaran fakta. Kalau korupsi tidak dibuka dan tidak dihukum, maka kebathilannya menjadi ganda, alias salah kuadrat. Kalau koruptor dihukum, maka ia berposisi menghapus kebathilannya menjadi kebenaran”

“Pengertiannya berlipat-lipat dan berputar-putar, Cak Sot”

“Kecuali Allah. Allah punya hak mutlak untuk menutupi aib hamba yang Ia kehendaki. Kalau hak Allah jangan sekali-sekali dipertanyakan, coba dipahami saja terus-menerus semampu-mampunya. Allah bukan hanya punya hak absolut untuk membuka atau menutupi, mensorgakan atau menerakakan, menelanjangi atau melindungi. Allah berhak mengambil nyawa kita beberapa manit lagi, bahkan berhak mengkiamatkan waktu dan ruang seluruh alam semesta ini nanti malam. Allah berhak mematikan siapa saja, kapan saja, di mana saja, berapa saja. Tapi jangan pernah simpulkan bahwa Allah adalah Maha Pembunuh Berantai atau Allah Maha Pembunuh Massal”

Tarmihim tersenyum, tapi sebenarnya isi kepalanya berputar-putar.

“Mengadakan dan mentiadakan, membuka atau menutupi, memuliakan atau memperhinakan, semua itu hak mutlak Allah, karena segala sesuatu ini bikinan-Nya dan semata-mata milik-Nya. Tapi manusia tidak berposisi seperti Tuhan. Manusia ini dibikin, maka ia perlu memahami dan mematuhi apa saja yang diregulasikan oleh yang membikinnya. Isi handphone-mu, setidak-tidaknya tulisan-tulisan dan bahan-bahan yang kamu tunjukkan tadi banyak sekali membuka hal-hal yang seharusnya tidak dibuka, menutupi sesuatu yang seharusnya tidak ditutupi. Subjek informasi yang memasok bahan-bahan ke dalam handphone-mu itu tidak lagi memperhatikan prinsip aurat”

Tarmihim bengong.

“Itulah sebabnya saya tadi tanya apakah kamu masih suka pornografi. Sebab prinsip aurat tidak hanya menyangkut tubuh manusia, tapi juga hal-hal lain. Selamatnya manusia dalam berkebudayaan bergantung pada kesetiaannya untuk mematuhi prinsip-prinsip aurat. Kalau dunia internet membuka pintu total untuk boleh membuka apa saja, melempar apa saja, memanipulasi apa saja, mengklaim apa saja, tanpa batas-batas kewajiban dan hak — itu namanya pornografi total. Dengan internet, ummat manusia bertelanjang bulat. Kebudayaan adalah sistem aurat, juga moral, bahkan pun peta rohani”

“Wah agak munyer, Cak Sot”, keluh Tarmihim.

“Tetapi itu tidak berarti saya menafikan manfaat silaturahmi dan lain-lain yang kamu dapatkan dari barang di gengamanmu itu”