Daur (99)

Sirno Ilang Kertaning Jawi

Sesungguhnya Saimon sangat menyayangi Markesot. Mereka sudah sangat lama kenal satu sama lain, saling monitoring dan share di antara dua kehidupan mereka.

Saimon datang menemui Markesot tidak lain untuk menemaninya dalam keprihatinan. Mencoba menghiburnya. Semua yang Saimon ungkapkan sebenarnya adalah muatan pikiran dan hati Markesot sendiri. Ia sengaja mengungkap itu karena ia tahu Markesot tidak mungkin curhat kepadanya. Markesot tidak punya karakter untuk mengeluh, kecuali berembug di antara para Markesot sendiri, yang akhirnya mereka menyatukan diri kembali dan menyampaikan keluhan kepada Tuhan.

Hanya saja terkadang Saimon bersikap agak berlebihan. Dia pikir Markesot bisa menjadi sesedih yang ia bayangkan. Sebenarnya hanya satu Markesot yang memang agak penyedih dan sedikit cengeng. Tapi biasanya langsung diejek oleh Markesot-Markesot lainnya.

Keakraban Markesot dengan Saimon tidak terjadi begitu saja. Mereka masing-masing berpikir panjang dan menghitung-hitung baik buruknya. Kalau dua makhluk dari dunia yang berbeda berinteraksi satu sama lain, masing-masing harus sangat waspada, cerdas dan peka untuk jangan sampai menimbulkan bias-bias di dunianya masing-masing.

Baik Saimon maupun Markesot sangat sadar untuk bertahan merahasiakan hubungan mereka dari pengetahuan kaumnya masing-masing. Pergaulan mereka menjadi mantap sesudah mereka membaca anjuran Tuhan kepada kaum Jin dan manusia, kalau bisa, silakan berikhtiar untuk menembus lapisan-lapisan langit dan bumi.

“Kalian tidak akan sanggup melakukannya kecuali dengan sulthan”, demikian statement Tuhan. Maka dalam waktu yang sangat lama, masing-masing Saimon maupun Markesot saling berbagi informasi dan data-data tentang apa ‘sulthan’ itu gerangan, berdasarkan laku dan hasil penelitian di dunia mereka masing-masing.

***

Tatkala Markesot terbangun, ia melihat Saimon tidak duduk di sampingnya lagi, melainkan sedang berjoget-joget menari dan bernyanyi di bawah pohon.

“Sinta landhep dhep dhep dhep dhep
Mukir kurantil til til til til
Tolu gumbreg breg breg breg breg
Warigalit wariagung gung gung gung gung
Julungwangi sungsang sang sang sang sang
Galungan kuningan ngan ngan ngan ngan
Langkir madhasia sia sia sia sia
Julungpujug Pahang hang hang hang hang
Kuruwelut marakeh keh keh keh keh
Tambir medangkungan ngan ngan ngan ngan
Maktal wuye ye ye ye ye
Manahil prangbakat kat kat kat kat
Bala wugu gu gu gu gu
Wayang kulawu wu wu wu wu
Dhukut watugunung nung nung nung nung….”

Sangat jelek suara nyanyi Saimon, dan gerak tariannya sungguh-sungguh adalah seburuk-buruk tarian.

Markesot tidak bisa menahan tertawanya. Ia bangun. Berdiri dan melampiaskan gelak tawanya sampai terjungkal-jungkal.

“Tuhan Maha Indah dan tarian Jin sungguh bertentangan dengan segala dimensi keindahan”, katanya sambil tak bisa berhenti tertawa, “Kalau saya bawa kamu ke Jakarta, ke stasiun tivi, dan saya suruh kamu nyanyi, demi Allah mustahil gedung-gedung tidak menjadi ambruk, karena benar-benar tidak bisa menerima dan merelakan bahwa ada tarian dan nyanyian seburuk itu dalam kehidupan yang hanya sekali dan sangat singkat ini”

Saimon berhenti nyanyi dan nari. Berdiri bertolak pinggang.

“Tidak fair untuk membandingkan konsep keindahan di antara dua dunia yang berbeda”, katanya, “Taste-nya berbeda, rasa estetikanya tidak sama, aspirasi dasar menganai nada, gerak dan iramanya juga sendiri-sendiri. Tidak bisa dipertandingkan atau diperlombakan. Yang terindah di dunia kami, kamu bilang itu terburuk di dunia manusia. Tetapi yang terindah di dunia manusia, bagi kami itu lucu dan gila”

***

Markesot masih tertawa tetapi berusaha mengakhirinya. Tapi Markesot tidak mencoba membantah Saimon, karena tahu ia sekadar berupaya untuk menemani dan menghiburnya.

Yang disebut-sebut oleh Saimon dalam nyanyiannya itu adalah istilah-istilah Wuku atauPakuwon Jawa, yang merupakan rumusan perhitungan waktu dengan Siklus 210-harian.

Saimon sangat mendukung harapan-harapan mendalam di hatinya Markesot, bahwa yang selama 7 abad dikubur oleh kekuasaan informasi Tiga Peradaban Kuno di luar Nusantara, sudah saatnya sekarang digali, dientaskan dan dibangkitkan kembali.

Sang Wali Penyamar menyebut kuburan peradaban itu dengan tetengerSirna Ilang Kertaning Bumi”. Sesungguhnya bahasa lebih jelasnya adalah “Sirna Ilang Kertaning Jawi”. Beliau mengantisipasi selama empat tahun tak terhindarkannya kuburan itu dengan sengaja mengubur sejumlah rahasia inti, yang kelak diharapkan anak-cucu akan menemukan sandinya.

Peradaban baru yang beliau rintis melalui transformasi Bedhol Negoro, dari pedalaman ke pesisir, untuk mengawali bangunan baru kesadaran manajemen peradaban ‘Banawa Sekar’, berjodohnya kembang dengan perahu — yakni setelah penguburan sandi itu — sesungguhnya sudah dimanipulasi lagi oleh para pelancong dari Negeri Utara, sehingga pengetahuan sejarah Bangsa Jawa hari ini didasarkan pada informasi manipulatif itu.

Dan anak turun para manipulator dari Negeri Utara itu hari-hari ini, sejak dua tahun yang lalu, menggunakan hasil panjang manipulasinya untuk hampir sepenuhnya menguasai Negeri Nusantara Khatulistiwa. Negeri yang bangsanya sudah didustai pengetahuannya, sudah dimabukkan hatinya, sudah dirapuhkan mentalnya, sudah dibikin tak percaya diri kebangsaannya, serta sudah dibodohi alam pikirannya.

Catatan manipulatif para pelancong Negeri Utara itu meyakinkan Bangsa ini bahwa hancurnya Majapahit dan jatuhnya Brawijaya terakhir adalah karena didurhakai dan dikalahkan oleh putranya sendiri, yang kemudian mendirikan Kesultanan pengganti Kerajaan Majapahit. Mindset pengetahuan sejarah semacam ini melahirkan dendam yang mendalam di antara dua golongan besar Bangsa Nusantara Khatulistiwa.

Dendam mendalam yang berkepanjangan. Perjalanan waktu berabad-abad tidak bisa mengikisnya, apalagi menyembuhkannya. Dan sukses adu domba inilah landasan kekuatan anak turun Negeri Utara untuk semakin absolut menguasai Negeri Nusantara Khatulistiwa. Seluruh strategi rahasia maupun metoda-metoda pragmatis politik mereka untuk berkuasa, berlandaskan sukses pemecah-belahan yang berabad-abad lamanya.

Hari ini seluruh Bangsa Nusantara Khatulistiwa itu dikurung rapat oleh kebingungan dan kegelapan. Markesot masuk hutan, menegaskan dan meneguhkan sejumlah hal. Nanti saatnya ia akan mengunjungi Pesanggrahan Raja yang diberitakan oleh Negeri Utara bahwa ia diberontak dan dijatuhkan oleh anaknya sendiri.

Padahal sama sekali tidak demikian yang terjadi.