Daur (129)

Singgasana Cinta

Markesot tidak benar-benar bisa dengan saksama mendengarkan serbuan kata-kata Kiai Sudrun. Sebab ia sungguh termangu-mangu oleh yang dialaminya.

Ia memang memutuskan untuk pergi mencari Kiai Sudrun. Sejauh apapun akan ia tempuh. Menelusuri jalanan, lorong dan tepian yang tak dilewati orang. Ia masuk dan keluar, turun dan naik, muncul dan menghilang, menempuh lorong-lorong, rel kereta, sungai, hutan, gelap dan kesenyapan.

Keluar masuk dirinya, menyisir nuansa, meraih-raih cakrawala, menempuh segala satuan sunyi dan sepi, mencari Kiai Sudrun, untuk melarikan diri, agar mendapatkan jalan untuk kembali. Sungguh tak diduganya bahwa di sini Kiai Sudrun memergokinya, dan membentak-bentaknya.

“Untuk apa kamu buang-buang waktu ke sini”, Kiai Sudrun memarahinya lagi.

“Karena sudah cukup lama waktu saya di Bumi terbuang-buang percuma juga”, jawab Markesot.

“Kamu boleh menjawab”, kata Sudrun, “sepanjang saya memperbolehkanmu menjawab. Tapi kamu tidak boleh menjawab kapan saja saya melarangmu menjawab”

“Baik, Kiai”

“Sekali lagi tidak ada hak atau kewajiban di sini, apalagi demokrasi yang miring dan maniak hak, tanpa mengungkap bahwa kewajiban lebih utama dan merupakan asal-usul haknya hak”

“Paham, Kiai”

“Di sini bukan wilayah dialektika antara kewajiban dan hak. Di sini pasca kewajiban dan hak. Di sini bukan arena perjuangan, melainkan tempat yang lebih tinggi yang diperuntukkan bagi makhluk-makhluk Tuhan yang sudah menyelesaikan dan lulus menjalani perjuangan”

“Terima kasih atas penjelasannya, Kiai”

“Di sini bukan wilayah. Di sini adalah semesta walayah, arena haqqullah, tanpa dialektika dengan bathil. Tidak ada kebatilan. Tidak ada perjuangan menyebar kebenaran dan mencegah kebatilan. Itu sudah harus selesai di Bumi. Dan itu adalah arena tugasmu yang belum selesai. Kamu harus segera kembali ke Bumi”

“Mohon perkenan Allah agar suatu saat saya dibukakan pemahaman atas hal itu, Kiai”

“Kamu masuk ke arena yang meskipun kamu bisa sedikit memahaminya, tetapi belum diizinkan dan belum saatnya untuk memiliki pemahamannya”

“Tidak mengerti, Kiai”

“Andaikan pun kamu mengerti, jangan dulu mengerti”

“Lebih tidak mengerti lagi, Kiai”

“Kamu belum berada pada tahap untuk diperkenankan mengerti, sehingga semengerti apapun, kamu belum mencapai sejatinya mengerti”

“Saya merasa terlempar, Kiai, di antara kemungkinan mengerti dengan tidak mungkin mengerti”

“Di semesta yang kamu mencuri untuk datang kemari, tidak ada lagi yang namanya kemungkinan. Yang menghampar di sini adalah kepastian. Di sini tidak ada rentang ruang dan waktu untuk mengambil pilihan, karena di sini adalah ujung segala pilihan. Di sini tidak ada kemerdekaan memilih, karena kemerdekaan hanya diperuntukkan bagi makhluk yang masih berproses mencari kepastian”

“Yang ini agak samar-samar, Kiai”

“Bahkan di sini tidak ada keadilan. Tidak ada kedholiman atau diktatorisme. Kedholiman dan diktatorisme hanya sebuah kutub, yang berseberangan dengan kutub kemerdekaan. Sedangkan di sini hanya ada satu kutub yang namanya Haqqullah. Di sini tidak diperlukan keadilan, karena keadilan adalah jalan yang harus ditempuh oleh makhluk yang masih sedang berjuang. Sedangkan di sini Sang Maha Adil sudah bersinggasana dalam kepastian yang absolut”

“Bisa membayangkan, Kiai”

“Di semesta ini penduduknya tidak lagi memerlukan perjalanan untuk mencapai keadilan, kebenaran, kebaikan atau keindahan. Setiap koordinat dan posisi yang manapun yang dihuni oleh siapapun di sini, adalah adil, benar, baik dan indah. Ini adalah Singgasana Cinta, dan kamu, Markesot, baru awal belajar bercinta”

Sebelum Markesot menanggapi, tiba-tiba terdengar suara Kiai Sudrun membentak sangat keras dan lantang:

“Pergi kamu dari sini!”

Serasa sirna Markesot dari dimensi.