Catatan Sinau Bareng "Hari Jadi Kab. Gresik" 01 April 2016

Sinau Syukur

Sesedih apapun Anda, temukan segala sesuatu yang membuat Anda tersenyum dan syukur. Dan caranya adalah dengan menemukan Allah.

Ribuan orang datang memenuhi halaman DPRD Gresik untuk mengikuti Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. Malam ini malam istimewa buat masyarakat Gresik. Mereka tengah memperingati hari jadi kota Gresik ke-529 dan HUT Pemda Gresik ke-42. Dan semakin istimewa karena puncak peringatan ini dihadiri oleh Cak Nun dan KiaiKanjeng. Acara ini diprakarasai oleh kerjasama DPRD Gresik dan seluruh media massa di Gresik. Jauh-jauh hari mereka sudah mempersiapkan untuk menghadirkan Cak Nun dan KiaiKanjeng agar peringatan hari jadi Gresik ini dapat memberikan manfaat dan ilmu bagi segenap masyarakat Gresik.

Suasana santri sangat terasa di kota Gresik ini. Sejak awal, ribuan hadirin sudah diajak menikmati persembahan kesenian Zafin atau Marawis yang menghadirkan lagu-lagu yang menjadi khasanah budaya santri. Mereka sangat atraktif membawakan nomor-nomor yang enak diikuti. Di antaranya mereka bawakan lagu legenda Timur Tengah Umi Kultsum. Keta’dhiman juga menjadi ciri lain. Saat Cak Nun berjalan memasuki panggung bersama Ketua DPRD dan pejabat pemerintahan lainnya, mereka menyambut dengan gembira. “Guru kita, Kiai kita,” kata mereka.

Gresik Sinau Syukur
Gresik Sinau Syukur. Foto: Adin.

Gresik Sinau Syukur. Demikian tema puncak peringatan hari jadi kota Gresik malam ini. Rasa syukur itu tampaknya memang pantas dijadikan tema, karena Gresik sendiri melalui acara ini memberikan contoh sesuatu yang patut disyukuri. Di antaranya kekompakan antara Bupati, Wakil Bupati, DPRD, Media Massa dalam menciptakan ruang bagi masyarakat Gresik untuk menghikmati ulang Gresik ini. Menariknya, semua pejabat tersebut tidak satu pun yang mengenakan busana formil sama sekali layaknya pejabat pada umumnya. Mereka justru memakai peci Maiyah, berbaju takwa putih, dan bahkan mengenakan sarung. Kesiapannya adalah ngaji bareng bersama segenap masyarakat yang dipimpinnya kepada Cak Nun dan KiaiKanjeng. Bahkan saat Wakil Bupati Pak Qasim menyampaikan sambutan, secara spontan dan mengalir-dekat dengan masyarakat melantunkan shalawat Ahmad Ya Habibie dan Sidnan Nabi. Pada Sidnan Nabi yang digunakan adalah aransemen KiaiKanjeng yang kontan langsung diiringi musik KiaiKanjeng. Jamaah pun mengikuti.

Kharisma, kedalaman ilmu, keindahan komunikasi, dan kedekatan batin Cak Nun dengan masyarakat membuat suasana di awal tatkala Cak Nun sudah naik ke panggung menjadi penuh kekuatan, ya spiritual, budaya, dan rasa keagungan akan sebuah pertemuan atau perjumpaan. Orang-orang sedemikian banyak ini hatinya telah berpaut dan menunggu Cak Nun dan KiaiKanjeng untuk menyampaikan ilmu dan membawa mereka ke dalam pengalaman yang amat langka dan bernilai.

Sangat enak Cak Nun memulai berbicara kepada jamaah. Menyapa mereka, pelan-pelan merasakan pancaran wajah-wajah mereka, dan memantulkannya dalam kalimat-kalimat yang dekat, dan bermuatan ilmu yang diantarkan secara sedikit demi sedikit. Pada saat bersamaan Cak Nun juga mengapresiasi dan merespons Pak Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD, dan yang lainnya. Cak Nun mengajak mereka untuk pertama-tama mencatat dulu hal mendasar dalam mengelola kehidupan bernegara. Yaitu adil makmur. Manakah yang lebih dulu: Adil baru makmur. Atau, makmur dulu baru adil. Pada tingkat pertama, jamaah diajak menyadari bahwa kemakmuran tidak bisa menjamin keselamatan, maka harus adil. Tidak cukup gemah ripah loh jinawi dan baldatun thayyibatun, melainkan juga harus robbun ghofur. Allah memberikan pengampunan.

Di dalam Maiyahan Sinau Bareng Cak Nun malam ini tiba-tiba terasa bahwa perbedaan identitas pemerintah dan masyarakat seperti mencair. Tak lagi terasa semua identitas sosial itu. Senyum, tawa bahak, dan sorot senang semua hadirin termasuk bapak-bapak yang dipanggung mengikisnya, karena semuanya berfokus pada bareng-bareng menimba ilmu, bersyukur, dan sama-sama ikhlas menenggang demi kebahagiaan bersama malam ini. Dengan jalan itu pesan-pesan akan semangat dan kesadaran ke-Gresik-an dapat diterima dengan mudah. “Gresik adalah gerbang masa depan. Di sinilah sumur air para wali berada. Gresik punya sejarah yang sangat panjang. Malam ini HUT ke-529 dan saya tidak percaya seperti itu, karena menurut saya pasti lebih tua dari itu meskipun belum disebut Gresik.”

Peci Maiyah makin digemari. Entah mengapa. Mungkin seiring dengan semakin banyak orang-orang yang merasa nyaman, tenteram, dan yakin dengan menimba ilmu dari Cak Nun dan fenomenologi yang istiqamah dihadirkan melalui Maiyah. Memahami, merasakan, dan mengalami berislam secara otentik dan murni di tengah kecenderungan pendangkalan pemahamaan keagamaan dan penunggangan atasnya. Tak hanya Pak Bupati dan jajarannya, bahkan semua kru TV9 yang menayangkan acara malam ini mengenakan peci Maiyah. Kali ini dengan warna putih hijau, diselaraskan dengan warna seragam mereka.

Manakah yang lebih dulu: Adil baru makmur. Atau, makmur dulu baru adil.
Manakah yang lebih dulu: Adil baru makmur. Atau, makmur dulu baru adil. Foto: Adin.

Setelah Cak Nun mengantarkan dua poin mengenai keadilan-kemakmuran dan sejarah Gresik, KiaiKanjeng tadi telah menghadirkan kekuatan musik melalui nomor Pambuko, doa Khotmil Qur’an, dan One More Night Maroon 5. Barusan pula Pak Qasim Wakil Bupati didapuk berduet menyanyikan lagu Melayu Beban Kasih Asmara. Terutama anak-anak muda yang bisa dikatakan mayoritas yang hadir malam ini semuanya bergembira. Terlihat di kanan panggung, seorang anak ikut melambaikan dan menggerakkan kedua tangannya saat awal kali suara Mas Imam mengalun panjang dan indah.

Di Maiyah, jamaah dilatih untuk siap hati dan pikiran kalau misalkan pas berjalan acara hujan turun. Tetapi juga selayaknya bersyukur jika keadaan memang enak dan kondusif. Seperti malam ini yang cukup terang. Padahal siang hari tadi hujan sangat lebat mengguyur Gresik dan sekitarnya. Semua disyukuri. Jamaah benar-benar memadat. Tak ada celah. Bahkan dari panggung terlihat di sisi timur berdiri beberapa orang di atas pondasi yang tinggi di bawah pohon-pohon yang berada di kompleks DPRD Gresik. Semua betah, enjoy, dan menikmati, sampai waktu benar-benar tak terasa sudah masuk ke pukul 23.23, saat dialog tengah berlanjut dan jamaah mendapat kesempatan mengemukakan pikiran dan pertanyaan.

Metode menyampaikan ilmu atau sampainya di dalam Maiyah sangat banyak. Salah satunya yang dalam beberapa pertemuan belakangan diintrodusir Cak Nun. Anda tak perlu langsung paham dan mengerti. Catat dan ingat-ingat saja dulu. Suatu saat akan loading dan Anda mendapatkan manfaat darinya. Karenanya pada poin-poin tertentu Cak Nun hanya memberikan kata-kata kunci atau peta sederhana dan sedikit saja penjelasan. Pengalaman hidup Anda nanti akan meneruskan prosesnya. Begitulah tadi Cak Nun memperkenalkan kepada masyarakat semisal konsep “mempelajari” dan “belajar dari”, tafsir dan tadabbur. Juga mengenai tema Sinau Bareng malam ini. “Anda mempelajari syukur atau belajar dari syukur. Nah, karena syukur bukan subjek atau orang, maka bisa kedua-duanya,” Cak Nun memberi contoh.

Selain itu, Cak Nun juga menyinggung sedikit mengenai instrumen yang digunakan untuk bersyukur yaitu hati. Ada tiga jenis hati. Hati yang dalam pengertian populer disebut Qolbu. Adapun kedalaman hati yang sangat indiviual disebut Fuad. Sementara hati dalam pengertian global bernama Shodrun. Nabi Sulaiman berbicara dengan tumbuhan dan binatang dengan menggunakan hati. Tiga jenis hati dikaitkan dengan surat an-Nur ayat 35. Cak Nun berharap agar kita mendapatkan cahaya untuk tiga jenis hati kita. Dari ayat itu, jamaah diminta mencatat dulu saja tiga kata di dalamnya: misykat, mishbah, dan zujajah. Pesan Cak Nun berkenaan dengan rasa syukur ini adalah, “Sesedih apapun Anda, temukan segala sesuatu yang membuat Anda tersenyum dan bersyukur. Dan caranya adalah dengan menemukan Allah.”

Dalam kehidupan nyata dan riil, tak sepenuhnya manusia dapat mengandalkan kebenaran obyektif. Jika dihadapkan dengan prinsip manfaat dan out put, terdapat sintesis yang saat ini tengah menjadi butir utama ilmu Maiyah. Yakni, dari informasi-informasi yang datang dari jauh masa silam, jangan habiskan waktu untuk membuktikan secara obyektif, tapi olahlah agar ia menjadi jalan datangnya manfaat atau output yang baik. Seperti itu pulalah salah satu mekanisme lahirnya rasa syukur. Ialah kemauan dan keihklasan manusia untuk menghasil out-out pun yang dari input seperti apapun. Itulah tadabbur.

Senyum, Tawa dan Sorot Senang
Senyum, Tawa dan Sorot Senang. Foto: Adin.

Maiyahan atau Sinau Bareng Cak Nun terbuka bagi siapa saja dengan latar belakang apapun, asalkan yang dibawanya adalah kejujuran dan kemurnian. Malam ini, turut hadir dan duduk bersama Pak Bupati dan lain-lain adalah Ibu Pendeta dari Gresik. Sampai pukul 00.30 ia masih bertahan mengikuti acara Sinau Syukur ini. Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya karena diterima di sini, di acara Sinau Bareng Cak Nun. “Saya mendapatkan sesuatu yang luar biasa yang bermuatan persaudaraan sejati,” tuturnya.

Seperti pada Maiyahan-maiyahan di mana pun, jamaah, masyarakat dan orang-orang yang hadir ini tak ada tanda-tanda ingin segera pulang. Empat jam lebih mereka duduk atau berdiri tak bergeser. Pindah sedikit bisa terisi tempatnya oleh orang lain. Cak Nun ingin fenomenologi ketahanan dan kesetiaan ini untuk dialektif berbuah manfaat dan keuntungan bagi mereka. “Kesehatan tidak terutama terletak pada makanan. Kesehatan sangat bergantung pada kejujuran dan kemurnian hati Anda. Anda duduk di sini berjam-jam. Anda membawa kejujuran. InsyaAllah Anda lebih sehat sekarang.”

Sebelum memasuki penghujung acara, seturut dengan makin intensnya elaborasi keilmuan, Cak Nun berpesan tiga hal untuk Gresik yang tengah berultah ke-529. Pertama, belajar dari pengalaman persahabatan KiaiKanjeng yang sudah awet bahkan ada yang sudah empat puluh bersahabat dan sampai saat ini masih langgeng, Cak Nun menjelaskan sebab awetnya KiaiKanjeng adalah karena musik diperlakukan bukan sebagai musik saja, tetapi selalu dikaitkan dengan kehendak-kehendak baik. Niscaya akan awet Gresik, jika pemimpin dan masyarakatnya mengaitkan langkah-langkahnya dengan kehendak-kehendak baik.

Kedua, carilah selalu kebaikan, niscaya Anda akan ‘menang’ dan dibutuhkan oleh orang lain. Apalagi saat ini dibutuhkan pemimpin Indonesia yang berkaliber dunia. Sebab Indonesia pada waktunya akan memimpin dunia. Oleh karena itu, teruslah belajar kepemimpinan dari wacana-wacana yang luas, termasuk kepada pendahulu-pendahulu nusantara yang hidup dan berjasa pada abad-abad terdahulu.

Gresik, Sumur Air para Wali
Gresik, Sumur Air para Wali. Foto: Adin.

Ketiga, gareng adalah filosof, dan Indonesia tak punya filosof. Kebijakan-kebijakan diambil dengan mengabaikan kondisi-kondisi yang sebaiknya membatalkan kebijakan yang diambil tersebut, diganti dengan kebijakan yang lebih holistik, menyeluruh, saling memperhitungkan segala sisi, dan integral.

Memasuki pukul 01.00, Cak Nun mengajak semua jamaah untuk mengonsentrasikan diri, dan dalam waktu kurang lebih sepuluh menit memasuki semesta kekhusyukan dengan bersama-sama melantunkan beberapa shalawat. Dan di puncaknya, Cak Nun memimpin langsung do’a penutup. Jamaah dituntun mengucapkan do’a-do’a sebagaimana yang diucapkan oleh beliau. Pak Bupati dan jajarannya beserta segenap masyarakat yang istiqamah malam ini semuanya khusyuk mengamini.

Dalam satu angle bisa dirasakan bahwa Maiyahan itu berisi wajah-wajah yang tersenyum. Wajah-wajah yang sumringah. Wajah-wajah yang segar. Wajah-wajah berbinar gembira karena ilmu dan kebahagiaan yang mereka dapatkan. Senyum-senyum yang bertebaran dan menjadikan rasa syukur tak pernah berhenti dipanjatkan. Senyum-senyum itu saat ini juga masih tersungging dalam deretan panjang jabat tangan jamaah dengan Cak Nun, Pak Bupati, Pak Wakil Bupati, dan lain-lain.