Catatan Ngaji Bareng HUT TNI ke-71 dan Sumpah Pemuda, Blora 28 Oktober 2016

Simulasi Sumpah Pemuda Masa Kini

Tidak soal apakah itu semua akan menjadi sumpah pemuda yang meluas, tetapi sekurang-kurangnya itu merupakan tabungan nasionalisme dan kebangsaan tersendiri.

Malam ini sangat banyak segmen masyarakat yang datang. Di panggung ada Komandan Kodim, Sekda Blora, Kapolres, Pimpinan ADM Perhutani Blora, dan tokoh-tokoh lainnya. Selain jamaah pada umumnya, tua muda, ibu-ibu dan bapak-bapak, hadir pula jajaran SKPD, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, wakil-wakil ormas, pondok pesantren, para santri, dan tentu saja para prajurit TNI. Suasana lengkapnya segmen masyarakat ini sudah terasa sejak Cak Nun tiba di kantor Makodim. Silih berganti orang datang, masuk, dan berjabat tangan dengan beliau.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Semua berkumpul menjadi satu, menyimak setiap fase dan tahap muatan dalam acara ini. Sebuah acara yang memberikan gambaran bahwa kebersamaan di antara rakyat itu mungkin, dan perlu ditradisikan agar pengalaman kebersamaan nasionalsme itu dapat dirasakan, ditumbuhkan, dan diteguhkan terus-menerus. Kepempinan politik seharusnya dapat menciptakan forum-forum penjagaan dan pelestarian nilai-nilai nasionalisme yang di masa penjajahan global ini makin urgen diperlukan.

Sesuai dengan dorongan hati nurani di balik acara ini, yakn Hari Sumpah Pemuda, Cak Nun tidak berceramah mengenai sejarah dan makna Sumpah Pemuda, melainkan menggali atau jajak pendapat kepada para pemuda untuk simulasi menyusun Sumpah Pemuda dengan kesadaran baru. Dalam pemahaman Cak Nun, pemuda masa kini yang hidup pada masa yang berbeda dengan tahun 1928-an perlu merumuskan sumpahnya meskipun secara substansial tidak boleh bertentangan dengan Sumpah Pemuda 1928. Mereka perlu menyusun kesadaran baru untuk menjawab tantangan masa kini. Para partisipan ambil bagian. Dalam pengelolaan dan panduan Cak Nun yang selalu segar dan menyegarkan komunikasi dan proses simulasi ini berlangsung dengan menggembirakan dan penuh harapan. Salah satu sumpah terumuskan oleh satu generasi muda: Kami Putra Putri Indonesia Berjanji Berperilaku Mulia, Berjiwa Besar, Jiwa Kesatria.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Masih ada beberapa usulan Sumpah Pemuda lainnya, dan sesudah semuanya dikemukakan, Cak Nun meminta partisipan lain untuk berpendapat atau menilai sumpah-sumpah yang barusan dibacakan itu. Tidak soal apakah itu semua akan menjadi sumpah pemuda yang meluas, tetapi sekurang-kurangnya itu merupakan tabungan nasionalisme dan kebangsaan tersendiri. Dan, metode Cak Nun menggali muatan peringatan Hari Sumpah Pemuda ini pun unik, berjiwa pendidikan dan pembangunan mental generasi muda, dan jarang dilakukan orang. (hm/adn)