Catatan Ngaji Bareng Suronan, Gemolong Sragen 8 Oktober 2016

Simulasi buat Pemimpin dan Masyarakat

Secara global, jawaban untuk persoalan darurat budaya ini cukup jelas bagi Cak Nun. Yaitu, setiap orang mau menyumbangkan "menjahit" di tengah masyarakat.

Darurat Budaya. Demikian tema Ngaji Bareng malam hari ini. Apa maksudnya? Teman-teman penyelenggara menjelaskan bahwa kerukunan masyarakat di sini sedang dalam situasi yang kurang kondusif. Sehingga manusia yang secara patrap budaya mestinya saling menjaga perasaan menjadi hilang karakter budayanya. Itulah darurat budaya.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Sebagaimana pada setiap kali hadir di dalam masyarakat, Cak Nun kerap mengajak naik ke panggung para pemuka masyarakat, apakah itu Bupati, Camat, Kiai, atau tokoh lainnya. Dalam praktiknya, terdapat dua hal yang terjadi. Pertama, para pemuka masyarakat itu ikut belajar kepada Cak Nun tentang bagaimana berkomunikasi dengan rakyat atau masyarakatnya. Kedua, Cak Nun akan melibatkan mereka untuk mencari solusi atau jawaban atas persoalan yang dibahas.

Seperti Ngaji Bareng malam ini, dengan panduan logika dari Cak Nun, masyarakat dan pemimpin disambung dalam satu tali pencarian jawaban bersama. Sebagai contoh, bila ada orang melakukan suatu praktik budaya atau keagamaan yang oleh orang lain dianggap keliru, sesat, atau kufur, maka bagaimana semestinya yang berlangsung. Usai Pak Camat menyampaikan upaya-upaya yang sudah ditempuh pemerintah setempat, Cak Nun memberikan simulasi. Kalau ada orang merasa orang lain melakukan hal-hal bid’ah, dan yang mungkin menggangu kebersamaan masyarakat, orang tersebut tidak boleh langsung menghujat atau nyacat yang bersangkutan. Dia harusnya lapor ke MUI, misalnya, untuk menginformasikan bahwa praktik orang yang dikeluhkan itu bertentangan dengan ajaran agama, supaya MUl yang mengkajinya dan memberikan masukan. Atau dia seharusnya lapor ke Pak Camat yang punya otoritas untuk meng-hakim-i atau memutuskan secara kemasyarakatan. Pak Camat dan pemuka lainnya yang punya kewajiban untuk menjahit apa yang sobek-sobek di tengah masyarakat. Itu yang paling maksimal dilakukan orang tersebut. Kalau tidak, alias langsung mencela kepada yang bersangkutan, maka situasi yang terjadi yang pertengkaran atau pertikaian.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Secara global, jawaban untuk persoalan darurat budaya ini cukup jelas bagi Cak Nun. Yaitu, setiap orang mau menyumbangkan “menjahit” di tengah masyarakat. Sebuah solusi yang diambil dari pesan dalam tembang Lir-Ilir. Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. (hm/adn)