Catatan Setelah Tiga Hari Bermaiyahan)

Si Mbah

Si mbah, demikian biasa mereka menyebut, hanyalah guru, yang membagi pengetahuannya akan berbagai hal kepada murid-muridnya.

Perempuan muda yang duduk paling depan kanan panggung itu tampak menangis. Sapu tangan yang diusapnya berulang-ulang tak mampu menahan curah air matanya. Wajahnya memerah.

Dia tidak sendiri. Ada banyak orang lagi saat itu yang sesenggukan menangis. Bibir-bibir mereka bergerak-gerak ikut melantun. Larut dalam kesahduan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun yang tengah senandungkan Salawat Alfu Salam dan berlanjut Sidnan Nabi.

Zulfaisal Putera saat berkunjung ke Kadipiro.
Zulfaisal Putera saat berkunjung ke Kadipiro.

Saya yang menyaksikan pemandangan itu dari atas panggung ini juga ikut terbawa keharuan yang sama. Sambil menikmati dan meniru lantunan syair-syair pujian kepada Rasullullah itu, pikiran saya terbawa kepada suasana pengajian Sekumpul yang dipimpin oleh almarhum Guru Zaini Ganie belasan tahun silam. Saat itu, ribuan orang bermajelis dua kali seminggu, selain untuk mendengarkan nasihat guru, juga bersama-sama bersalawat kepada baginda Rasul.

Atmosfer salawat guru Sekumpul itulah yang terasa saat acara Banjarmasin Bersyukur dalam rangka Hari Jadi ke-490 Kota Banjarmasin digelar. Cak Nun dengan warna suaranya yang khas dan indah  mampu memusatkan pikiran dan rasa penyaksi kepada satu titik : cinta Allah dan Rasulnya. Dan bukan hanya dilakukan Cak Nun saat pentas di Banjarmasin, yang masyarakatnya memang punya keterkaitan emosional dengan guru Sekumpul, tetapi juga di pengajian-pengajian lain di banyak tempat.

Setiap bulan, ada 5 pengajian rutin digelar Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Pertama, pengajian Phadangmbulan di Jombang tiap tanggal 15 bulan Hijriah atau saat purnama. Kedua, Mocopat Syafaat di Jogjakarta tiap 17 Masehi. Ketiga, Kenduri Cinta di TIM Jakarta tiap Jumat minggu kedua. Keempat, Gambang Syafaat tiap  25 Masehi. Dan kelima, Bambang Wetan di Surabaya, tiap 17 Hijriah. Juga puluhan pengajian lainnya di berbagai daerah. Di tempat-tempat itu, salawat nabi guru Sekumpul selalu dikumandangkan.

Itulah salah satu daya tarik pengajian yang digelar Cak Nun sejak 90-an. Dia sangat pandai menggerakan hati jamaah untuk lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya melalui salawat. Dia juga mampu mengisi ruang pikir dan hati dengan asupan ilmu dan hikmah, dari soal politik, ekonomi, dan agama. Semua disampaikan dalam tuturan dan kemasan seni yang mudah dicerna, oleh orang awam sekali pun. Tak heran jika pengajiannya punya banyak nama: tadabur atau perenungan, sinau atau pencerahan, atau ngaji bareng. Dari pengajian ini, Cak Nun punya pengikut yang militan: maiyah.

Maiyah bermakna kebersamaan. Nama ini dijadikan semacam sebutan bagi pengikut pengajian Cak Nun, ke mana dan di mana pun diadakan. Ada jutaan orang yang menyatu dalam simpul-simpul Maiyah di berbagai daerah. Dengan swadaya, mereka ‘diperjalankan’ dari kota ke kota, dan pulau ke pulau, bahkan menyeberang lautan, hanya untuk melingkar dalam pengajian Cak Nun. Saya menemukan beberapa orang militan semacam ini di banua. Mereka menyunting sedikit waktu untuk beredar dua sampai tiga tempat pengajian dalam sekali perjalanan.

Sekali pun titik sentral melingkar para jamaah Maiyah ini adalah Cak Nun, tetapi mereka tidak mengkultuskannya. Simbah, demikian biasa mereka menyebut, hanyalah guru, yang membagi pengetahuannya akan berbagai hal kepada murid-muridnya. Bagi mereka, bermaiyah bersama Cak Nun sama seperti sebuah proses recharger mind and soul. Ada semacam interaksi energi positif untuk terus berproses dalam meningkatkan pemahaman pentingnya  Allah dan agama dalam kehidupan.

Cak Nun sendiri tak mengistimewakan diri. Di setiap pengajiannya, dia berusaha tetap sama berkedudukan dan tak berjarak dengan jamaah. Misalnya, syarat tinggi panggung untuk pentasnya hanya sekitar 40-50 cm; jamaah langsung berhadapan dengannya tanpa dipisahkan oleh barisan pejabat yang biasanya duduk paling depan; dan semua lesehan. Cak Nun juga selalu membagi tugas bicara dan bersenandung dengan rekan di kiri kanannya dan membuka ruang tanya-jawab. Suasana semacam ini jarang ditemukan dalam pengajian-pengajian layaknya.

Cak Nun bukan sekadar sebuah fenomena melainkan juga keniscayaan. Di tengah krisis kepemimpinan, krisis idola, krisis kepercayaan akan tokoh spiritual dan motivator yang berkedok agama, kehadiran Cak Nun sejak belasan tahun lalu telah membuktikan sebuah keajekan keteladanan. Dia tidak bercokol di pusat kekuasaan, tetapi menyusur di tepi tepi kehidupan keseharian bersama rakyat kebanyakan. Tak heran jika kehadiran Simbah ini selalu dirindukan dan menyedot banyak jamaah untuk duduk bersama berjam-jam memahami hakikat kehidupan.

Dimuat di Banjarmasin Post, Minggu, 2 Oktober 2016