Daur (196)

Server ‘Lauhul Mahfudh’

Ta’qid : “…Yang Maha Mengatakan. Maha berkata-kata. Maha Menyampaikan atau Maha Memanggil. Tuhan melakukan itu semua, tetapi tidak menonjolkannya. Kepada makhluk-Nya Tuhan menomorsatukan kepengasihan, kepenyayangan, kepengasuhan, pengayoman dan perlindungan”

“Kalau memang tanganmu tidak bisa kosong seperti tangan saya, dan harus ada alat genggam seperti yang kamu pegang itu”, kata Markesot, “Kamu harus benar-benar menghitung dan mewaspadai apa saja manfaatnya dan mudaratnya. Kalau terbatasnya pengetahuan dan sedikitnya pintu-pintu untuk tahu membuatmu tidak punya bahan yang memadai untuk mengukur kemudaratannya, maka sekurang-kurangnya kamu harus bisa memastikan manfaatnya untuk kehidupanmu”

“Manfaatnya ya lebih mudah menghubungi dan dihubungi keluarga atau teman-teman”, sahut Tarmihim.

“Mestinya bisa lebih dari itu”

“Untuk mencari ilmu dan menambah pengetahuan?”

“Kalau tidak berat ada baiknya kalimatmu itu dilengkapi tapi sekaligus diefisienkan”

“Maksud Cak Sot?”

“Mencari kebenaran ilmu yang segaris dengan ilmu Tuhan, menambah pengetahuan yang tidak mubadzir dalam proses menuju Tuhan”

Tarmihim tertawa.

“Kenapa tertawa?”, tanya Markesot.

“Kalimat itu bagus kalau Cak Sot yang mengucapkannya kepada saya, tetapi lucu dan dianggap sok pintar kalau saya yang mengucapkannya kepada teman-teman”

Markesot tersenyum. “Memang yang mengucapkan kan saya kepada kamu. Terutama karena kamu adalah petani Lombok, orang biasa, sesama rakyat kecil dengan saya. Jangan ucapkan itu kepada anak-anak yang terpelajar atau orang-orang yang sudah menjadi tokoh di masyarakat”

Tarmihim tertawa lagi. “Saya belum pernah mengalami peristiwa di mana kata-kata saya didengarkan oleh mereka. Yang saya alami adalah saya mendengarkan mereka tiap hari, termasuk di telepon genggam ini.”

“Mudah-mudahan pengalamanmu itu tidak berubah. Lebih baik dan lebih selamat untuk lebih banyak mendengarkan daripada memperdengarkan, apalagi punya beban mental untuk selalu butuh didengarkan”

“Karena Allah sendiri sangat mengutamakan sifat dan karakternya yang Maha Mendengar?”, Tarmihim nggaya bertanya lagi.

Markesot merespons. “Memang Allah sendiri tidak menonjolkan sifat Al-Qo`il atau Al-Kalim, Al-Muballigh, Balighul-Amr atau Ad-Da’i. Yang Maha Mengatakan. Maha berkata-kata. Maha Menyampaikan atau Maha Memanggil. Tuhan melakukan itu semua, tetapi tidak menonjolkannya. Kepada makhluk-Nya Tuhan menomorsatukan kepengasihan, kepenyayangan, kepengasuhan, pengayoman dan perlindungan. Akan tetapi yang saya maksud bukan itu, Him”

“Jadi?”, Tarhimin mengejar.

“Menjadi manusia di zaman apapun, terlebih-lebih di zaman di mana kamu bisa buang angin kamu rekam dan kamu sebarkan ke seluruh dunia – yang terbaik adalah lebih banyak menyerap daripada diserap. Minimalkan kemungkinan untuk diketahui, perbanyaklah mengetahui”

“Larah-larahnya bagaimana ini, Cak Sot?”

“Allah banyak menyatakan bahwa Ia mengetahui apa yang kita nyatakan maupun yang kita sembunyikan. Sekarang pelaku-pelaku di balik alat di genggamanmu itu, yang kamu sama sekali tidak tahu siapa mereka: juga semakin menguasai posisi untuk mengetahui apa saja yang kau nyatakan atau kau sembunyikan, kecuali data-data dan fakta diri yang paling sunyi sepi di dalam pertapaan batinmu, yang di dalamnya hanya ada Allah”

“Wah sampai segitunya, Cak Sot”, tanya Tarmihim.

“Kamu tidak melihat di tangan saya ada alat genggam seperti kamu. Saya menutup pintu dari peluang banyak orang menyerap saya, kecuali teman-teman dan siapapun yang bersaudara dengan saya, yang berhadapan muka dengan saya, yang menjalankan kesetiaan budaya silaturahmi dan muwajahah dengan saya. Kalau kamu sudah bersaudara dengan saya, kamu tidak perlu menyusu, karena susu saya memerah dirinya sendiri untuk menyediakan berember-ember air susu untukmu. Tapi kalau air susu saya disebar melalui alat genggam itu maka siapapun bisa menyaringnya, mengambil setetes dua tetes, mencampurkannya dengan racun, atau berbagai kemungkinan lain, sebagiamana di bahan-bahan yang kamu tunjukkan kepada saya tadi”

“Wah”, Tarmihim menyela, “tidak sedikit pun saya berpikir tentang itu, Cak Sot, apalagi sampai ke racun segala”

“Begitu kamu masuk ke alat genggam itu, maka kamu mulai menelanjangi dirimu sendiri. Begitu kamu pasang akun dan menghadirkan identitasmu, maka bagimu sudah tersedia sel sebagai sandera, narapidana dan mungkin budak, yang pelan-pelan atau cepat auratmu dibuka oleh penguasa-penguasa server, yakni semacam Lauhul Mahfudh bikinan manusia untuk menjaring ketelanjangan semua manusia lainnya, kelompok-kelompoknya, lembaga-lembaganya atau Negara-negaranya”

“Waduh mulai rumit lagi, Cak Sot”

“Berbagai institusi kekuasaan dan lembaga kepentingan di muka bumi terus melakukan kerjasama, tawar-menawar keuntungan, atau perlawanan untuk menghindari kerugian. Tetapi jelas bagi manusia semakin tidak bisa berkuasa atas dirinya sendiri,  semakin rawan atas identitas kemanusiaannya, serta semakin tidak aman atas pakaian hidupnya, dodot-nya, martabatnya, aji-nya”