Catatan Sinau Bareng SMAN 1 Kendal, 13 Oktober 2016

Seruling Hati Pak Is Sejak 1984

Pak Is tak hanya mahir memainkan seruling, namun pandai pula membuat alatnya. Sejak 1984 Pak Is menguasai proses pembuatan alat musik dari bambu ini.

Di dalam bis yang membawa KiaiKanjeng menuju Kendal, tampak Pas Is sedang memegang pisau yang digunakan untuk merapikan seruling yang ada di genggaman tangan kirinya. Rupanya itu seruling yang baru dibuatnya. Sama seperti Mas Giyanto player KiaiKanjeng yang membuat gamelan KiaiKanjeng, Pak Is adalah seniman musik yang sekaligus pembuat alat musiknya sendiri. Beliau bukan seniman-konsumen, melainkan produsen sekaligus.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Pak Is tak hanya mahir memainkan seruling, namun pandai pula membuat alatnya. Sudah sejak sangat lama Pak Is menguasai proses pembuatan alat musik dari bambu ini tepatnya 1984. Untuk mendapatkan bambunya, Pak Is harus membelinya di sebuah desa di Imogiri atas, karena di sana terdapat banyak bambu yang jenis dan kualitasnya sesuai dengan kriteria dan kebutuhan musikal sebagaimana dirasakan Pak Is. Bambu itu adalah bambu Wuluh (bukan Wulung). Dan untuk daerah DIY dan sekitarnya, di Imogiri tadilah bisa diperoleh bambu-bambu Wuluh dengan kualitas yang sangat bagus.

Pembuatan satu buah seruling dibutuhkan waktu kurang lebih 10 sepuluh hari. Tahapan yang ditempuh adalah membuat tone, misalnya tone G seperti seruling yang sedang dipegang Pak Is di atas bis itu, kemudian membuat crip-nya, dan membikin nadanya, dari Do rendah hingga oktaf, dan rata-rata dua oktaf. Kalau pembuatannya adalah satu set, maka bisa memakan waktu dua bulan. Itu pun dengan catatan harus tekun dan tidak berbenturan dengan kegiatan lain.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Bagaimana pandangan Pak Is tentang seruling yang dipakainya untuk musik KiaiKanjeng? “Ada kebutuhan untuk tiupan yang bersifat melodis, sapuan, dan filler. Juga ada kebutuhan untuk tidak fals. Tetapi yang terpenting adalah bukan sekadar tidak fals, tapi bagaimana bermain dengan hati, menyentuh hati, dan menghadirkan nuansa yang pas dan enak,” jelas Pak Is.

Dalam membuat seruling pun, Pak Is membutuhkan suasana yang tenang. Supaya hati pun maksimal terlibat dalam proses-prosesnya. Dan ternyata kualitas seruling buatan Pak ls disukai atau diakui banyak kalangan musik. Banyak orang atau musisi di wilayah DIY dan Jateng yang memesan seruling kepada beliau. Bahkan belum lama ini Beliau menerima pesanan dari Malaysia dan Brunei, masing-masing empat set. Padahal Pak Is boleh dikata mengerjakannya secara rumahan, bukan industri. Tapi menurut Pak Is justru yang rumahan seperti ini yang terjaga musikalitasnya karena dibuat masing-masing melalui tahapan toning yang cermat, sementara yang industri kebanyakan sifatnya flat, sehingga bisa kurang akurat tone-nya.

Dengan Pak Is tak hanya piawai meniup seruling dan jari-jarinya lincah berpindah-pindah, membuka dan menutup crip-nya, tetapi ahli pula dalam membuat seruling, Pak Is memiliki kedaulatan dan kualitas musikal seruling yang dapat dijaganya. Menariknya lagi, baik memainkan maupun membuat seruling, semua Pak Is pelajari secara otodidak. Beliau tidak pernah mengenyam pendidikan musik seruling dan teknik pembuatan seruling. Beliau adalah satu contoh manusia Indonesia yang bertalenta tinggi, unik, dan berkelas dunia.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Pada mulanya, sebelum bersentuhan dengan seruling, Pak Is menekuni alat musik perkusi yaitu kendang atau ketipung. Kemudian setelah itu pindah ke alat musik petik, yaitu mandolin. Pada tahun 1975-an sedang terjadi krisis pemain seruling di Yogyakarta. Pak Is pun melihat kekosongan ini dan bersegera belajar seruling secara mandiri untuk mengisi kekosongan ini, dan Beliau akhirnya berhasil mengisi kekosongan atau kebutuhan itu, dan berlanjut sampai mampu membuat seruling sendiri. Sebuah skill yang bisa dikatakan sangat spesifik dan langka.

Suatu ketika, saat acara di Kediri beberapa tahun lalu, rombongan KiaiKanjeng istirahat transit di rumah salah seorang panitia. Di depan rumah itu tertanam beberapa rumpun bambu. Tak ada yang perhatian di antara rombongan KiaiKanjeng selain Pak Is terhadap bambu-bambu kuning itu. Yang punya pun tak membayangkan. Ternyata bambu di depan rumah itu termasuk bambu yang baik kualitasnya untuk dibuat seruling. Akhirnya tuan rumah mengizinkan bambu itu buat dibawa pulang Pak Is. Beberapa bilah dibawanya. Diikat dan ikut naik bis. Pak Is memang punya kepekaan dan kecerdasan bambu yang tak dimiliki kebanyakan orang. (hm/adn)