Daur (297)

Seragam Bersembahyang

Tahqiq : “…Kita menyebut itu sebagai kebenaran masing-masing, tetapi para masing-masing itu berkeyakinan yang disebut kebenaran satu-satunya adalah yang sedang mereka jalankan.…”

Seger menginterupsi suasana “makrifat kecil” itu.

“Minta maaf sekali kepada Pakde Paklik dan semua teman-teman”, katanya, “tadi Pakde Brakodin mengungkapkan bahwa kami anak-anak muda sudah semakin piawai mengendarai gelombang, mengelola getaran, dan menelusuri aliran. Bahkan disebut sudah belajar tidak berputus asa untuk bertafakur…”

“Ya”, kata Brakodin.

“Mungkin kami bisa sedikit bangga dengan ungkapan itu, Pakde, tetapi rasanya di zaman yang sedang berlangsung sekarang: semua itu belum jelas apa manfaatnya”

“Maksudmu?”, Brakodin mengejar.

“Sebagaimana Pakde Paklik kemukakan sebelumnya bahwa di dalam pergumulan nilai-nilai di zaman ini kepintaran sangat efektif dipergunakan untuk minteri, dan itu menghasilkan kerusakan yang luar biasa. Kepiawaian, kelihaian, kecerdasan, dan semua kehebatan akal pikiran itu dipersembahkan kepada nafsu menguasai sesama dan cinta kepada dunia. Kebaikan tersingkir, kebersamaan terkikis, perbudakan dan penjajahan sudah berlangsung dalam skala global, dengan metode yang sangat halus dan dilegalkan, serta dengan perangkat atau peralatan yang sangat efektif dan pragmatis”

“Ya. Terus?”

“Saya kira di luar ruangan tempat kita berkumpul ini ummat manusia dan bangsa Negeri ini tidak terlalu urgen memerlukan apa yang sedang kita cari, olah, dan perjuangkan…”

“Ummat manusia sepanjang masa secara sangat mendasar membutuhkan apa yang sedang kita perbincangkan, kita olah dan rumuskan”, Tarmihim menyela, “semua kelompok manusia, bangsa atau rakyat, atau lingkar apa saja, memerlukan ini, baik untuk memperkuat pembangunan peradaban maupun untuk melawan kejahatan yang merusak peradaban…”

“Itu benar, Pakde Tarmihim”, jawab Seger, “tapi yang sedang terjadi di luar sana sekarang ini bukan hal yang mendasar. Yang sedang menguasai ruangan Negeri ini adalah kepulan asap-asap, emosi, dendam, kebencian, permusuhan yang sangat complicated temanya, pikiran rusuh melawan pikiran tak seimbang, kepentingan melawan kemarahan, penjajahan dilawan oleh ketidaktahanan massal untuk dijajah…”

“Massal?”, Sundusin bertanya, “maksudmu seluruh bangsa Indonesia kalian? Seluruh Ummat Islam kalian? Seluruhnya? Semuanya? Sehingga kamu sebut massal?”

“Di dalam sejarah tidak ada sebutan rakyat memaksudkan semua rakyat, sebutan ummat memaksudkan seluruh ummat, Pakde. Tetapi gelombang yang sedang berlangsung ini semakin padat dan keras, tanpa kesabaran, tanpa irama, tanpa penataan waktu, tanpa strategi, hanya taktik-taktik improvisatoris”

“Sudah sedemikian keras dan padatnya sekarang ini, Ger?”, Tarmihim meyakinkan.

“Merasa benar melawan merasa benar. Pada masing-masing yang disebut merasa benar itu adalah kebenaran yang diyakini. Masing-masing yang saling berhadapan meyakini sedang mengemban kebenaran. Kita menyebut itu sebagai kebenaran masing-masing, tetapi para masing-masing itu berkeyakinan yang disebut kebenaran satu-satunya adalah yang sedang mereka jalankan”

“Jadi maksudmu di luar sana sedang genting karena kekuatan kebenaran akan bertabrakan dengan kekuatan kebenaran?”

Seger tertawa kecil.

“Kok tertawa?”, Brakodin mengejar.

“Diam-diam saya berharap, atau bahkan meyakini Mbah Markesot sekarang ini sedang berada di medan perang….”

“Ah, ngapain dia di sana….”, Sundusin membantah.

“Shalat berjamaah…”, tiba-tiba terdengar suara Brakodin.

“Maksudnya? Shalat Jumat di jalan protokol itu?”, Ndusin bertanya.

“Bukan”, jawab Brakodin, “saya melihat Cak Sot ada di shaf sekumpulan orang shalat berjamaah. Sebelah kanan Cak Sot tentara dengan seragamnya kecuali pecinya. Sebelah kiri polisi berseragam juga dan berpeci. Sekitar sepertiga dari seluruh jamaah itu adalah tentara dan polisi, selebihnya sipil biasa dengan pakaian macam-macam. Sebagaimana biasa, semula Cak Sot yang memang paling tua di lingkungan manapun, diminta untuk mengimami. Tetapi seperti biasanya juga Cak Sot bergeser ke seseorang dan mendorongnya ke tempat Imaman untuk mengimami”

Sundusin dan semua termangu-mangu.

“Ya… terus?”, Tarmihim mengejar.