Daur (175)

Semesta Dalam Debu

Ta’qid : “Terpenjara dengan bangga oleh ketakjuban kepada materialisme. Yakni yang terdangkal, terkerdil dan terbodoh dari daftar peradaban-peradaban yang pernah ada dalam sejarah ummat manusia”

Maya, nyata, nyoto, sunyoto, kasunyatan, kasat mata, ngelmu katon, itu urusan ruang dan muatannya. Tapi tidak mungkin memahami ruang tanpa mengenali waktu. Juga sebaliknya. Sebagaimana mencari ombak jangan terjebak menciduk airnya.

Dan untuk hal ruang dan waktu itu jangan bertanya kepada Markesot. Jawabannya mungkin kurang beradab, tidak berasal dari pendidikan, salah-salah malah justru membahayakan alur pengetahuan dan peta ilmu.

Di masa kanak-kanaknya secara liar Markesot terkadang diam-diam main Jailangkung. Pakai boneka, tangannya dikasih kapur, di depannya ada sabak, papan hitam terbuat dari tanah, yang kapur bisa menggoreskan huruf atau kata. Jailangkung dipakai untuk memancing hadirnya energi liar, semacam roh yang magang, yang status quo, atau lazim disebut arwah gentayangan.

Atau mungkin juga tidak liar, tidak gentayangan, bukan magang dan status quo. Mungkin someone out there. Kalau sudah ada gejala dia datang, Markesot bikin wawancara, yang pertanyaannya cukup dijawab dengan satu dua kata, dituliskan di sabak. Mungkin yang datang Menakjinggo, Qorun, Nambi, atau Jin iseng.

Tidak penting itu benar atau tidak. Tidak perlu diperdebatkan itu cyberspace juga atau bukan. Ia kasunyatan atau maya. Yang diutamakan adalah membiasakan anak-anak manusia mengalami bahwa kehidupan ini sedemikian luasnya. Tak terbatas kali lipat dibanding yang bisa ditangkap oleh pancaindra.

Di masa kanak-kanak Markesot, orang-orang di sekitarnya masih sering menggunakan ungkapan: “Oh, itu kan cuma Ngelmu Katon, gampang”. Adapun peradaban modern abad 20-21 adalah Peradaban Ngelmu Katon. Dan orang-orang tua di era peradaban ini, apalagi anak-anak muda, sangat terkagum-kagum pada Ngelmu Katon. Terpenjara dengan bangga oleh ketakjuban kepada materialisme. Yakni yang terdangkal, terkerdil dan terbodoh dari daftar peradaban-peradaban yang pernah ada dalam sejarah ummat manusia.

Jailangkung yang sangat rawan terhadap persangkaan syirik klenik takhayul itu dulu secara tak sengaja dibiasakan supaya anak-anak manusia tidak mandeg di garis kebodohan dengan mengira debu itu kecil dan jagat raya ini besar tak terkira. Anak-anak harus memiliki pintu kemungkinan bahwa tata ruang berubah secara dialektis bersama tata waktu. Alam semesta yang agung ternyata terletak di dalam setitik debu.

Semesta dalam debu.

Semesta dalam debu.

Semesta dalam debu.

Itulah sebabnya ilmu Glepung, oleh Markesot diungkapkan tidak untuk siapapun kecuali untuk anak-anak cucunya sendiri, meskipun ia tak punya keluarga. Juga untuk siapapun saja di lingkaran pergaulannya, yang sudah tersaring untuk tidak datang bergaul membawa prasangka, dengki, nafsu menuduh, ringan memfitnah, serta kedangkalan yang menolak muatan-muatan.

Semesta dalam debu.

Semakin engkau memasuki wilayah mikro, nano, senano-nanonya, justru semakin terhampar keluasan jagat raya tan kinoyo ngopo tan keno kiniro.

Semakin engkau meniti kelembutan, semakin hamba Tuhan yatalaththaf, melembut, memasuki yang terlembut, bergabung menjadi kelembutan itu sendiri, semakin ia temukan keagungan Allahu Akbar.

Kelembutan bukan hanya tema komunikasi dan silaturahmi. Bukan hanya metoda dakwah yang diajarkan oleh Tuhan dan Nabi. Kelembutan adalah ujung Ma’rifat perjalanan yang engkau tempuh melalui Syariat, Thariqat, Shirath, yang ketiga kata itu semua bermakna jalanan.

Peradaban Ngelmu Katon, Kebudayaan Pancaindra, mekanisme Kasat Mata, adalah bagian paling luar dan paling kasar dari semesta Cyber yang sesungguhnya. Bukan cyber atau maya yang sebagai kosakata — dipinjam sebagai konotasi, tapi kemudian diyakini sebagai denotasi. Seolah-olah yang dialami sebagai kenyataan, kenyataan yang diseolah-olahkan.

Markesot dikepung oleh syubhat ilmu dan pengetahuan tentang itu semua. Syubhat yang riuh rendah di sekelilingnya. Membuat Markesot sungguh ingin duduk bersila saja di bilik kumuhnya. Atau sekalian loncat ke hutan. Duduk di tepi sungai di tempat terasing yang tak dijamah manusia.

Markesot sangat ingin bertapa di semesta dalam debu. Tapi ia terlempar, tercampak di arena Gugon Tuhon.