Sembilan Doa untuk Ummat Islam Indonesia

Sembilan belas tahun yang lalu, menghadapi huru-hara nasional 1998, Cak Nun mengajak Ummat Islam Indonesia yang teraniaya menjadi gelandangan di negeri sendiri untuk bersama-sama memohon kepada Allah dalam sembilan doa, yang ternyata masih relevan dengan kegaduhan nasional yang terjadi tahun 2016 ini.

Bismillahirrahmanirrahim, kepada Allah Pengasuh Kaum Yang Teraniaya dan Maha Penolong Kamu Yang Hidup Mencari Ridha-Nya, saya mendoakan semoga:

  1. Ummat Islam Indonesia senantiasa menjadi kaum yang diwarisi kekuatan Allah untuk membela siapapun saja yang menurut pandangan Allah wajib dibela dan melindungi siapapun yang menurut pandangan Allah wajib dilindungi di negerinya.
  2. Ummat Islam Indonesia senantiasa menjadi kaum Muthahharun binuriLlah, yang disucikan dan dicerahkan oleh cahaya Allah, sehingga selalu menjaga kejernihan berpikir dan bersikap adil dalam melihat segala sesuatu termasuk dirinya sendiri.
  3. Ummat Islam Indonesia dijaga oleh kelembutan Allah agar tidak terseret oleh arus kebencian, dendam, prasangka, kecurangan dan kelaliman massal yang sedang melanda dan membanjiri atmosfir kehidupan tanah air Indonesia.
  4. Ummat Islam Indonesia dianugerahi kesabaran dan ketabahan melayani musuh-musuh Allah, baik yang datang pura-pura merangkul mereka maupun yang diam-diam menikam punggung mereka dengan mengatasnamakan berbagai nilai luhur, sambil dengan berbagai cara kebudayaan maupun politik, yang halus maupun yang kasar, yang menggerogoti tali hubungan dan kemesraan cinta antara Ummat Islam dengan Allahnya dan Rasulnya.
  5. Ummat Islam diperkenankan dan dituntun Allah untuk menjadi kaum yang senantiasa mempelopori perdamaian dengan siapapun yang Allah memerintahkan untuk berdamai, serta dianugerahi kekuatan untuk membela dirinya dengan ganti memerangi siapapun yang Allah memerintahkan untuk memerangi.
  6. Ummat Islam diberi peluang oleh Allah untuk menyaksikan musuh-musuh Allah bercerai-berai kumpulannya, buntu rancangan-rancangannya, mandul program-program kelalimannya, buyar pengorganisasi dan strateginya, serta terbanting oleh niat jahiliyahnya sendiri.
  7. Ummat Islam dihidayahi kearifan, kekuatan dan kesanggupan untuk merangkul, mengontrol dan membimbing Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, agar kesatuan Ummat Islam dengan ABRI bisa mempelopori gerakan pertobatan makro dan mikro, bisa merancang bangunan kekuatan nasional yang penuh kedamaian dan perlindungan kepada semua warga negara dan seluruh bangsa Indonesia.
  8. Ummat Islam diperkenankan Allah untuk turut memproses suatu Indonesia dengan hanya dua partai yang saling bermusabaqah untuk kebaikan nasional satu sama lain, yang saling membimbing dan mengontrol di dalam proses keadilan untuk seluruh bangsa.
  9. Ummat Islam tetap disayang oleh Allah untuk memproses kebangkitan dan kepemimpinan nasional dengan prinsip rahmatan lil’alamin di awal abad 21 tanpa terlebih dahulu meminta pengorbanan yang terlalu besar yang menimpa siapapun dari hamba-hambaNya.

Jakarta, 30 September 1998
Muhammad Ainun Nadjib