Catatan Ngaji Bareng Suronan, Gemolong Sragen 8 Oktober 2016

Sel-sel Konkret Masyarakat

Dan menurut Cak Nun itu sehat adanya. Jika diibaratkan negara, masyarakat atau rakyat ini adalah sel-sel tubuh yang sangat kuat dan konkret.

Tiba di panggung, Cak Nun berjumpa dan disambut masyarakat yang sudah duduk rapi di atas rumput lapangan yang becek. Mereka mandiri menyiapkan alas plastik atau terpal. Ada sebagian yang disiapkan panitia. Tetapi lebih banyak yang bawa alas sendiri-sendiri.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Mereka yang datang ke Ngaji ini bukan hanya satu kategori. Bukan pemuda atau orangtua saja. Yang paling kentara adalah banyak di antara mereka adalah satu keluarga. Ayah dan ibu yang mengajak anak-anaknya. Tentu juga para pemuda dan pemudi. Mengharukannya lagi, selain yang asli Desa Nglangak ini, hadirin yang datang dari luar Gemolong dan luar Sragen jauh lebih banyak. Padahal hujan yang seharian turun mungkin akan menurunkan niat untuk mendatangi suatu acara. Tetapi tidak untuk acara Ngaji Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng ini.

Sesungguhnya, sudah tak terhitung dan hampir tiap malam, Cak Nun dan KiaiKanjeng bertemu masyarakat seperti ini. Acara-acara yang seratus persen masyarakat yang menginisiatifinya sendiri. Dan menurut Cak Nun itu sehat adanya. Jika diibaratkan negara, masyarakat atau rakyat ini adalah sel-sel tubuh yang sangat kuat dan konkret. Sementara, para kelas menengah, pemimpin-pemimpin, atau kaum intelektual sebagai hati umek atau sibuk dengan kepentingannya sendiri. Dan pusat kekuasaan di atas sana sebagai kepalanya sedang tidak beres pikirannya. Suatu kondisi yang sangat kontras.

Sebab itulah, sebelum melangkah lebih jauh, Cak Nun melingkarkan kekaguman dan kebanggaan kepada mereka. Cak Nun mendoakan semoga Allah senang melihat kegembiraan perjumpaan malam ini. Cak Nun sangat mendukung bahwa mereka punya keikhlasan untuk mencari sesuatu yang memang seharusnya dicari. Pesan beliau, agar mereka tidak terburu-buru menuai hasilnya. Ada hasil yang jangka waktunya seminggu, ada yang setahun, lima tahun, dan ada yang lebih dari itu. Yang terpenting adalah nandur terus. Nanti ketika yang remaja saat ini sampai pada usia dewasanya akan kaget sendiri dengan barokah dari Allah Swt. (hm/adn)