Reportase Maiyah Dusun Ambengan Juni 2016

Saya Saiman

Kamu ini puasa tidak? “Alhamdulillah, bulan puasa ini, saya tidak puasa,” kata Kang Saiman yang terlihat tersengal-sengal ketika berbicara.

Maiyah Dusun Ambengan edisi Sabtu, 11 Juni 2016 malam menjadi permenungan dan upaya menikmati kehidupan pedesaan yang permai. Desa yang ramai oleh berbagai ritual keagamaan di bulan Ramadlan. Dari kegiatan menyiapkan menu berbuka dan makan sahur jamaah, Rumah Hati Lampung menjadi pusat aneka aktivitas yang benar-benar nyengkuyung dan menemukan esensi manusia dusun yang penuh toleransi dan semangat gotong royong.

Lokasi dan bentuk bangunan Rumah Hati yang sebenarnya tak jauh berbeda dengan lazimnya perumahan warga lain di setiap pelosok kampung, ketika menjelang gelaran Maiyahan menjelma seperti padepokan. Pusat kegiatan warga. Ada sekelompok jamaah yang melaksanakan shalat taraweh, ada beberapa pemuda yang mengatur parkir, ada yang sudah sigap jadi penerima tamu. Termasuk ada beberapa kaum ibu yang sedang tidak shalat, menyiapkan segelas kopi, pisang goreng dan singkong rebus untuk tamu yang baru datang.

Desa Margototo, Metro Kibang, malam itu seakan berubah jadi semacam kota santri. Mendadak jadi gelombang yang memancarkan nilai-nilai Maiyah, pancaran kedamaian dan ketentraman menetapi ajaran-ajaran kemanusiaan yang paling substansial. Jalan-jalan menuju Rumah Hati juga tiba-tiba menjadi terang benderang karena beberapa warga memberikan sedekah penerangan lampu jalan, selain itu, dipasang papan plang nama yang jadi penunjuk arah.

Warga sekitar dan beberapa penggiat Maiyah Dusun Ambengan, sudah terlihat sibuk sejak siang hari. Beberapa warga yang sebelumnya apatis juga mulai terlibat aktif, jamaah yang biasanya banyak dari segala penjuru Provinsi Lampung, kini mulai terpola dan tersusun. Banyak warga sekitar yang sudah mulai mengambil peran untuk benar-benar terlibat aktif.

Sholat Tarawih sebelum forum dimulai.
Sholat Tarawih sebelum forum dimulai.

Pasca shalat teraweh, jamaah mentartilkan Surat Yasin diimami Mas Saif. Dilanjutkan dengan persembahan Hadroh Batanghari, melantunkan sholawat, menggema dan menyentuh hati jamaah, kemudian diteruskan suguhan musik Jamus Kalimasada. Syamsul Arifien, yang akrab disapa Cak Sul, mulai mengimami tembang-tembang shalawat yang digubah KiaiKanjeng. Cak Sul mengingatkan semua yang hadir bahwa kita tidak sedang pentas sholawat, kita tidak sedang menyanyikan lagu sholawat dan yang lain menonton orang sholawatan, akan tetapi kita bersama-sama menghadirkan hati dan jiwa untuk bersholawat kepada Baginda Rasul, Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

“Sudah, kita tak perlu lama-lama, kita panggil saudara kita yang jadi bintang utama pada malam hari ini, Kang Saiman.” Tiba-tiba Cak Sul mengejutkan jamaah. Sontak, Kang Saiman yang sudah duduk tenang di pojok kanan, maju ke depan jamaah. Seketika, banyak jamaah yang melongok dan langsung grr…. Suasana menjadi penuh kegembiraan.

Ditambah, Kang Saiman seketika berperan atraktif sekaligus dramatis, memegang mikrofon dan menjadi reporter sepakbola. “Saat ini pertandingan antara kesebelasan Margototo dengan Ambengan, bola berputar di tengah lapangan…”

Tanpa komando, jamaah langsung teriak bersama-sama. “Gooolll…” tawa dan tepuk tangan membahana.

Saya Tidak Puasa

Dialog jenaka antara Cak Sul dan Kang Saiman berlangsung cukup menghibur jamaah, membuat cletukan dan jawaban yang diberikan, benar-benar Maiyah Dusun Ambengan jadi semacam panggung kebudayaan. Sekaligus pendedaran makna gembira. Tidak ada narasumber dan pembicara, semuanya adalah makmum yang berdaulat, yang sesekali posisinya bisa berubah jadi imam atau pembicara. Ruang egaliter dan kebersamaan itu, sepertinya sengaja dibuat Cak Sul yang jadi simpul utama Maiyah di majelis Ambengan.

Kamu ini puasa tidak? Tanya Cak Sul pada Kang Saiman. “Alhamdulillah, bulan puasa ini, saya tidak puasa,” kata Kang Saiman yang terlihat tersengal-sengal ketika berbicara. Jamaah nampak terkejut. Banyak wajah-wajah yang kaget, secara cepat pula, Cak Sul mencari alasan kenapa tidak puasa. “Nganu, bapakku sedang sakit, jadi saya harus mencari nafkah dan mengurus beliau.”

Tawa terpingkal-pingkal jamaah, hilang. Suasana senyap dan terasa, tiba-tiba murung, tak mau kehilangan jeda terlalu panjang, Cak Sul memancing jamaah yang lain untuk ikut terlibat dalam dialog. Pak Wiliam, pertama bicara mendedah makna puasa yang hakekatnya menahan diri.

“Wes, Kang Saiman, sampean duduk dulu biar gak kringetan,” kata Cak Sul.

Kejujuran pengakuan bahwa tidak puasa oleh Kang Saiman, meski mengejutkan, dibalik logikanya oleh Cak Sul. Ketidakmampuan Kang Saiman puasa ini sebagai tanggung jawab semua orang yang mengaku muslim. Ada saudara kita yang tidak mampu berpuasa karena memang sudah puasa sejak awal kehidupannya. Kang Saiman dengan berbagai keterbatasan fisiknya, punya beban sebagai tulangpunggung keluarga. Ditambah saat ini, ayahnya sedang sakit.

Cak Sul dan Saiman.
Cak Sul dan Saiman.

Secara sigap, Mas Dika, salah satu penggiat Jamaah Maiyah Ambengan, langsung menggelar bisik-bisik di belakang. Bagaimana kira-kira kalau kita edarkan kardus untuk membatu ayah Kang Saiman yang sedang sakit? Beberapa jamaah seketika mengangguk.

Jamaah yang biasanya tidak mengenal kotak amal di acara Ambengan, tanpa sungkan langsung merogoh kantong dan ada yang mencabut dompet. Kardus bekas air mineral beredar di depan jamaah. Tak butuh waktu lama. “Ayo cepat dihitung, Rek. Ojo dicopet,” ujar Cak Sul yang kembali disambut tawa jamaah. Langsung dihitung dan diserahkan pada Kang Saiman. Tidak banyak memang, terkumpul hanya Rp. 590.000,- namun keikhlasan jamaah semoga mampu menjadi berkah bagi kehidupan Kang Saiman.

Suasana murung itu, sesekali muncul kembali, terus berlanjut ketika Kang Saiman menjelaskan alasannya yang hingga kini, di usianya yang ke-58 tahun, belum menikah.

Akibat takut beban yang semakin berat untuk memberi nafkah pada keluarganya. “Lha terus gimana memberi pakan burungmu?” tanya Cak Sul yang membuat jamaah kembali tertawa.

“Ya kalau soal itu, saya kuat nahan, kuat puasa. Lha mau bagaimana lagi,” kata Kang Saiman yang kemudian banyak menyampaikan ungkapan terima kasih pada jamaah karena telah membantunya. Sebagai ucapan terima kasih, Kang Saiman menyanyikan lagu dangdut berjudul Sisa-sisa Cinta, diiringi awak musik Jamus Kalimasada.

Makna Puasa

Cak Wan, yang mengaku nama panjangnya Wan Aditama Mangku Randa Lima, itu ketika masuk sesi dialog langsung menjelaskan makna puasa. Menggunakan bahasa Jawa, Cak Wan mendedah makna Poso. “Artinya, poso songo. Jadi puasa itu berupaya menutup lubang sembilan yang ada di tubuh kita,” ujarnya.

Lubang yang sembilan itu, jelas beliau, ketika puasa harus dijaga untuk tidak dimasuki apa pun. Sembilan lubang itu antara lain, dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, mulut, dubur dan alat kelamin. Jadi apa pun yang masuk ke dalam salah satu lubang itu, harus benar-benar dijaga untuk memaksimalkan makna puasa kita.

Orang hidup itu, menurut Cak Wan, tidak perlu mengaku hebat dan sebagainya. Sebab, semua yang dikeluarkan dari sembilan lubang tubuhnya, tidak ada satu pun yang baik, apalagi laku dijual. Meski sehabis makan daging seharga 170 ribu rupiah, besok pagi kalau keluar dari lubang dubur, kira-kira laku tidak dijual 20 ribu rupiah? Begitu juga curek yang keluar dari lubang telinga. Meski akibat kebanyakan curek, operasi di rumah sakit dan membayar 400 ribu rupiah. Ada tidak yang mau membeli curek itu sepuluh ribu saja?

Penampilan Cak Wan dengan gaya ceramah yang jenaka, kaya makna dan langsung menohok ke makna puasa, seketika membawa rona gembira ke wajah-wajah jamaah.

Pendedaran makna puasa, menurut Pak Dili, jauh lebih substantif dengan berbagai dalil ayat Al Quran dan hadist. Kalau menurut saya, lubang tubuh kita itu bukan hanya sembilan. Tapi ada sepuluh. Begitu juga wali, itu sebenarnya sepuluh. Bukan sembilan. Tapi karena wali yang satu itu membawa brodot, membuka dalaman tubuh, membahayakan kalau dibuka dan diketahui secara umum. Lubang yang kesepuluh dalam tubuh itu yaitu, pusar.

Jadi Pak Dili setuju puasa itu artinya menjaga yang sembilan lubang. Namun, kualitasnya di bawah poso. Ngeposne roso. Menghentikan semua rasa untuk selalu terjaga dari semua keburukan.

Pak Dili yang seorang tentara anggota Kodim Lampung Tengah, itu kemudian menjelaskan defenisi ngempos roso. Bukan sekadar menahan makan, minum di siang hari. Termasuk ketika sudah sampai waktu berbuka, kita harus mampu menjaga nafsu wadak untuk tetap terjaga dari pengaruh kerakusan. Tidak kemaruk memakan semua menu berbuka. Kemudian, berbagai dalil dari ayat Al Quran, termasuk keutamaan malam lailatul qodr yang lebih mulia dari malam seribu bulan diterangkan.

“Jadi Kang Saiman, sak susah-susahnya kita, ayo belajar puasa. Lapar itu cuma sehari, tidak akan membunuh kita. Kita orang yang beriman, percaya saja doa kita diijabah oleh Allah. Ud’uni astajib lakum. Ayo belajar bareng-bareng, nasehat menasehati dalam kesabaran dan kebenaran, Kang Saiman besok puasa ya,” kata Pak Dili.

Kesaktian Orang Puasa

Setelah Cak Wan, Pak Dili dan Cak Sul banyak mendedar makna puasa, giliran Mas Ali Imron mendedah keterlibatan dengan Jamus Kalimasada. Setahu saya, Jamus Kalimasada itu bukan sekadar nama group musik yang digawangi Cak Sul, melainkan jimat dan kesaktian yang dimiliki Yudistira. Artinya, dua kalimat sahadat.

Kemudian, lebih detil dilanjutkan dengan jabaran Pak Dili, berdasarkan terminologi pewayangan, terutama berbagai kelebihan Pandawa Lima, Yudhistira itu punya jimat namanya Jamus Kalimasada. Bima itu shalat, tegak lurus bawa gada, Arjuna itu puasa, Nakula itu Zakat dan Sadewa, puncak keutamaan yakni, naik haji.

Begitu juga Pak Slamet, lebih jauh mengurai bukti dan kesaktian-kesaktian manusia akibat puasa. “Orang, kalau kuat puasa dalam hidupnya, pasti punya kesaktian.” Kata Pak Slamet.

Kemudian Pak Slamet mengisahkan, usianya yang sudah 72 tahun. “Beruntung, nama saya itu Slamet, jadi meski dulu masa mudanya jarang puasa tetap Slamet. Tapi tenan, semua itu tidak ada gunanya. Kawan saya yang lurah, mati juga gak bawa apa-apa, tanpa uang pensiun, tenan,” katanya.

Setiap kalimat yang memunculkan kata “tenan” itu, membuat banyak jamaah tertawa. Beberapa anak muda bahkan terpingkal-pingkal karena teriak “tenan” sebelum Pak Slamet mengucapkan kata, tenan.

Pak Maryono, yang biasanya duduk di belakang tiba-tiba maju dan menyampaikan pesan-pesan kunci. “Setelah baca tautan Mukadimah lewat kenduricinta.com itu, saya langsung telepon Cak Sul, itu Kang Saiman ada tidak orangnya, kalau ada harus dihadirkan. Tapi pesan saya, hadirnya Kang Saiman di sini ini, bukan untuk kita tertawakan, ya, harus kita jadikan cermin, kita harus bersyukur atas berbagai nikmat yang diberikan Allah,” kata Pak Maryono yang langsung izin meminta bersalaman dengan Kang Saiman.

Setelah salaman, Cak Sul nyletuk. “Ya jangan cuma salaman saja, Pak. Besok mbok ya dibantu, Kang Saiman ini.” Sontak saja, kalimat itu membuat jamaah langsung tertawa dan bertepuk tangan. Terlebih tahu posisi Pak Maryono adalah salah satu pejabat di Lampung Timur. Yakni, Camat Purbolinggo.

Acara diakhiri dengan midle Padang Mbulan gubahan Kiai Kanjeng serta salawat Niat Puasa yang dibawakan secara gembira oleh awak Jamus Kalimasada. Kemudian dipuncaki doa yang langsung diimami Cak Sul. Dilanjut dengan santap sahur bersama jam 02.30 dinihari. (Redaksi Ambengan/Endri Kalianda)