12 Mei 2002

Saya Laskar Jihad

Maiyahan adalah suatu kegiatan sosial yang di samping melingkarkan dan membulatkan kebersamaan antar semua jenis makhluk dan golongan, pencarian managemen pluralisme dan membangun metoda kemesraan budaya — adalah memang juga berarti menghimpun laskar jihad. Apalagi di tengah kehidupan yang semakin sudah dan tidak menawarkan kepastian seperti sekarang ini.

Ada jihad, Ada ijtihad, Ada mujahadah.

Mujahadah itu perjuangan dalam konteks dan di wilayah psyche dan spirit hidup. Pusat subjeknya adalah hati. Wajah hati bernama kalbu. Kedalaman hati bernama nurani. Semesta sangat luas yang dikandungnya bernama jiwa.

Anda saya persilahkan mempelajari sendiri hal-hal mendetail mengenai nyawa, rasa, roso, perasaan, sukma, sanubari, hati besar dan hati kecil, dan seterusnya. Kalau saya menguraikan sampai sedetail itu berarti saya menuduh Anda bodoh dan kuper bin kupeng — kurang pergaulan bin kurang pengalaman batin. Padahal saya lihat wajah Anda segar-segar, badan sehat, gaji besar, mantap dengan profesi Anda, rumah berkilau, mobil melaju, berarti Anda tahu banyak tentang hal-hal itu. Hidup Anda akan awet, tak gampang sakit, tak gampang sedih dan stress.

Ijtihad adalah perjuangan intelektual. Fenomena berpikir, paradigma teori, pengembangan wacana, pembaharuan tafsir, kepekaan ijma’, kejelian menguak rahasia ilmu-ilmu, demokrasi dan kemerdekaan berpikir – dan apa saja yang sifatnya mengeksplorasikan rahmat Allah yang bernama akal – itulah ijtihad.

Dalam dunia wayang, Aryo Bimo untuk jadi orang pintar dan mumpuni harus ambyur ke tengah samudera, berkelahi melawan naga dan akhirnya ketemu Dewa Ruci. Muhammad memerlukan identitas dan otoritas sebagai seorang Rasul dan Nabi untuk diperkenankan Allah menjadi madinatul ‘ilmi alias kota ilmu — sementara Ali menantunya adalah babul ‘ilmi — pintu ilmu. Raden Syahid ngrampok dulu baru kepentog Sunan Bonang kemudian dibukakan beribu sumber ilmu. Cak Nurkholis Madjid ber-muhadlarah dulu di Gontor kemudian sampai ke Chicago untuk menjadi orang pinter nomer satu di Indonesia. Ribuan doktor harus sekolah panjang dan penelitian njlimet untuk mengarungi cakrawala ijtihad dan menjadi manusia unggul yang otomatis menganggap pak petani, nelayan dan tukang batu adalah manusia-manusia level rendah. Sekarang lautan ijtihad bisa Anda arungi setiap saat siang dan malam. Asal Anda rajin baca koran tiap hari pasti jadi orang pandai, dan asal Anda nonton teve tiap malam pasti jadi orang baik dan berakhlak mulia.

Adapun jihad adalah perjuangan yang bersifat jasmaniah. Tukang becak berjihad mensyukuri nikmat Allah yang berupa badan kuat sehingga bisa narik becak, sambil mencari nafkah untuk anak istri. Para Jamaah Maiyah adalah laskar jihad yang tiap hari berjuang untuk tidak menjadi maling dan pengemis — dengan cara bikin sablonan, jualan soto dan rawon di tepi jalan dlsb. Berjihad untuk itu jualan klithikan daripada jualan fitnah, prasangka yang tidak adil dan kabar buruk. Berjihad untuk berdagang kamper atau narik taksi, daripada menyiarkan kemaksiatan, kekonyolan, atau mendidik masyarakat untuk semakin tidak mengerti harga diri.

Kami adalah laskar jihad. Pakaian kami kalau shalat kadang seperti Ustadz Ja’far Umar Thalib. Kalau pas wiridan dan shalawatan bareng berpakaian seperti Abu Jahal dengan jubah anggunnya. Kalau pas ke warung pakai jeans dan kaos oblong. Kalau pas bareng-bareng ke rumah pegadaian ya berbaju yang bisa bikin diri bangga — karena Rasulullah saja ketika wafat — baju besinya masih di pegadaian, belum sempat ditebus….