Catatan Tadabburan Nasionalisme di Pusaran Badai, Rembang 23 Oktober 2016

Santri Perlu Berpikir Jernih dan Hakiki

Para santri didekonstruksi beberapa nilai-nilainya, dan dikembalikan kepada hakikatnya. Santri perlu berpikir secara jernih dan hakiki.

Para santri yang hadir di sini datang dari berbagai pondok pesantren yang tersebar di pelosok kabupaten Rembang, dan mungkin kota-kota disekitarnya. Seorang santri kecil menceritakan datang dari sebuah pesantren di kecamatan Sulang Rembang. Bersama teman-temannya, dia sampai ke alun-alun ini dengan menaiki colt bak terbuka. Ia mengenakan peci dan sarung, dan di dadanya terkalungkan id-card bertuliskan: Peserta.

Apa beda antara santri dengan pelajar?
Apa beda antara santri dengan pelajar? Foto: Adin.

Tentu tak hanya santri-santri kecil, yang masih mengenyam jenjang pendidikan tsanawiyah, melainkan jenjang-jenjang lebih tinggi, yang beramai-ramai melangkahkan kaki ke alun-alun Rembang ini. Bahkan yang sudah lulus, menjadi guru, aktivis di beragam organisasi di lingkup NU seperti Anshor dan Banser, atau yang telah berkiprah di masyarakat dengan berbagai profesi lain. Di atas panggung, beberapa Kiai dan Gus turut menemani Cak Nun.

Sama seperti di alun-alun Ponorogo kemarin malam, Cak Nun meminta beberapa orang untuk membantu menjawab apa beda antara santri dan pelajar. Beberapa lontaran jawaban telah disampaikan. Ada yang menjawab, ciri santri adalah sami’na wa atho’na kepada Kiai. Taat kepada dawuh Kiai. Ini membuat Cak Nun merasa perlu mengejar lebih jauh, sehingga dialog terjadi dengan sang penjawab, tetapi sang penjawab belum mampu memperkirakan ke arah mana Cak Nun menuju.

Cak Nun akhirnya mengingatkan bahwa kalau kita taat kepada kiai, itu hakikatnya adalah taat kepada Allah melalui taat kepada kiai karena sang kiai tidak menyimpang dari ajaran Allah, dan kalau menyimpang maka tak ada kewajiban untuk taat. Demikianlah struktur dan hakikat ketaatan, yang juga berlaku pada praktik ketaatan dalam konteks negara, yaitu taat kepada konstitusi, bukan taat kepada pemerintah. Sebuah pernyataan sangat lugas dan solid yang disampaikan kepada para santri, masyarakat santri, para kiai, dan pejabat pemerintahan yang hadir.

Dalam konteks negara, taat kepada konstitusi, bukan taat kepada pemerintah.
Dalam konteks negara, taat kepada konstitusi, bukan taat kepada pemerintah. Foto: Adin.

Para santri didekonstruksi beberapa nilai-nilainya yang mungkin sudah menjelma budaya dalam kurun waktu sangat lama bergenerasi-generasi, dan dikembalikan kepada hakikatnya, agar para santri tidak lupa pada hulu-hilirnya. Dalam sejumlah hal lain juga demikian. Tentang “Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah” sebagaimana sempat disinggung Gus Mus, menurut Cak Nun kembali kepada Al-Quran adalah kembali membaca Alam semesta dan Diri Manusia, sebab Al-Quran memiliki tiga bentuk, yaitu alam semesta, diri manusia, dan teks al-Qur’an.

Semuanya menyimak pandangan Cak Nun mengenai santri. Cak Nun sendiri menyampaikan bahwa santri itu beruntung karena dua hal. Pertama, para santri memiliki mbah-mbah yang sudah melakukan pencarian panjang akan kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Kedua, para santri beruntung karena Allah menurunkan al-Quran yang melengkapi dan memberi jawaban atas pencarian para mbah-mbah mereka itu. Sebab ada hal-hal yang tak terjangkau dan harus dijawab oleh Allah langsung. Mbah-mbah mereka yang notabene orang Jawa atau Nusantara yang mencapai ketinggian falsafah, pemahaman, dan pengenalan atas sejumlah hal diibaratkan oleh Cak Nun sebagai tumbu yang kemudian bertemu tutupnya yaitu informasi-informasi default dari Allah berupa Al-Quran. (hm/adn)