Catatan Tadabburan Bhakti Santri, Ponorogo 22 Oktober 2016

Santri Menikmati Belajar Pembelajaran Maiyah

Semua unsur yang hadir, mulai dari santri, kiai, Pak Bupati dan pejabat lainnya, serta jamaah Maiyah, seluruhnya menyatu dalam waktu.

Karena para santri ini menghadirkan Cak Nun dan KiaiKanjeng, maka tak bisa tidak mereka memasuki pengalaman komprehensi dan kelengkapan dimensi hidup yang terepresentasikan oleh muatan dan adegan dalam Maiyahan, dan itu baik untuk masa depan mereka. Tak hanya ilmu, tapi juga peristiwa. Mereka menikmati Mas Donni lewat tembang One More Night Maroon 5, Beban Kasih Asmara, serta Sewu Kutho. Pak Bupati menyanyikan lagu Iwan Fals Bongkar.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Saat Mas Jijid tampil dalam jeda One More Night, intro-nya sangat mengena, “Saya asli Mataram, tapi kakek-nenekku orang Ponorogo. Saya harus ikut mana. Saya,…saya, akhirnya memilih, saya ikut Rasulullah saja….” Langsung Mas Jijid yang gondrong dan tidak ber-background santri melantunkan shalawat Badar. Berbagi dengan Mas Doni, Mas Jijid menunjukkan bagaimana KiaiKanjeng punya semangat memangku dunia.

Nomor-nomor yang khas Santri pun telah dihadirkan. Ada Shalawat Nariyah. Ada pula Pepujian Ajining Urip oleh Mbak Nia. Para santri menikmati khasanah mereka melalui KiaiKanjeng, tetapi sekaligus menikmati dunia luas juga melewati KiaiKanjeng. Sudut-sudut pandang baru, rumus-rumus kehidupan dan belajar, keindahan interaksi, dan kesegaran ekspresi serentak telah mereka cerap. Keawetan dan “keabadian” bermuwajjahah pun tak sadar mereka alami, mungkin tanpa terasa, hingga saat ini pukul 12.35. Masih setia mereka duduk di tempatnya.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Asiknya lagi, pada momentum yang dimaksudkan untuk memeringati Hari Santri, para santri ini belajar kepada KiaiKanjeng, yang notabene sebagian besar personelnya tidak punya background santri. Tetapi, KiaiKanjeng adalah orang-orang yang telah bertahun-tahun setia menemani Cak Nun berkeliling ke daerah-daerah termasuk berjumpa dengan masyarakat santri. Pengalaman dan sublimasi telah terolah menjadi kematangan. Mereka belajar ber-santri esensial kepada Cak Nun.

Di peringatan Hari Santri malam ini di Ponorogo, kata santri mencair menjadi butir-butir ilmu baru dan bukan padatan identitas. Cak Nun tanpa terasa membawa ke sana. Semua unsur yang hadir, mulai dari santri, kiai, Pak Bupati dan pejabat lainnya, serta jamaah Maiyah, seluruhnya menyatu dalam waktu meng-asyiq-i substansi-substansi dan keindahan. (hm/adn)