Catatan Tadabburan Bhakti Santri, Ponorogo 22 Oktober 2016

Santri Itu dari Mbah-Mbahmu

Santri itu berasal dari mbah-mbahmu, sedangkan pelajar itu dari luar. Bukan berarti yang dari luar jelek, tapi kalian harus tahu siapa dan dari mana dirimu.

Kopyah berwarna hitam dan beraneka warna dan mode, baju taqwa, serta sarung mewarnai pemandangan malam ini. Pun sejumlah remaja putra dan putri mengenakan jas hijau LPPNU. Banser juga tampak di sana sini. Saat pembacaan ikrar santri tadi, mereka yang membawa bendera merah putih dan bendera NU serta unit-unit di dalamnya. Sementara itu di level tamu di sisi kiri panggung, ibu-ibu Fatayat NU hadir dan mengenakan busana berwarna hijau. Bersama Pak Bupati di atas panggung adalah para kiai dan pengurus PCNU Ponorogo.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Tak hanya santri yang hadir. Masyarakat luas turut memadati alun-alun yang merupakan bagian tak terpisah dari pusat pemerintahan kabupaten. Di antara santri dan masyarakat umum itu, tampak pula peci-peci Maiyah di tengah lautan manusia ini. Panggung KiaiKanjeng dikepung lengket oleh orang-orang muda, hingga di bawah dan belakang backdrop. Di pinggir alun-alun para pedagang pun ikut menyimak acara ini.

Para jamaah Maiyah menyaksikan bagaimana istimewa dan penuh muatan peringatan Hari Santri di Ponorogo ini karena kehadiran Cak Nun dan KiaiKanjeng. Peringatan ini tidak menjelma perayaan yang tanpa makna. Di tangan Cak Nun, mereka para santri ini diolah pelan-pelan dan dididik melalui pintu masuk apapun seperti shalawatan dan pertanyaan. Saat seorang santri diminta membawakan shalawat, ia maju membawakan robbi faj’al mujtama’na. Lalu Cak Nun mengantarkan santri-santri untuk mengetahui beda antara nyanyi dan shalawatan. Nyanyi itu sendirian dan pertunjukan. Sedangkan shalawatan adalah bareng-bareng semua mengungkapkan cinta kepada Rasulullah. Dan shalawat itu sendiri adalah satu sikap dan perilaku. Dari situ Cak Nun mencari kira-kira shalawatan apa yang semua hadirin bisa ikut.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Pertanyaan untuk mengenali ciri dan karakter santri dilontarkan Cak Nun, apa beda antara santri dan pelajar. Beberapa santri, guru, dan pelajar mencoba menjawab. Tapi belum satu pun yang menangkap arah Cak Nun. Akhirnya dijelaskan oleh Cak Nun, “Santri itu berasal dari mbah-mbahmu, dari kakek-moyangmu, sedangkan pelajar itu dari luar. Bukan berarti yang dari luar jelek, tapi kalian harus tahu siapa dan dari mana dirimu.” Para santri mulai memahami posisi santri dalam konteks peradaban kontinuasi dan adopsi. (hm/adn)