Daur (272)

Sangat Menyelam dan Sangat Terbang

Tahqiq : “…Ada cahaya, tetapi bersilang-silang. Siapa saja yang tidak memiliki tradisi ‘bertapa’ di dalam dirinya, maka ia tidak mengerti mata angin. … ”

Ndusin menjawab.

“Maafkan Mbah kalian Markesot serta Pakde Paklik ya. Pakde Paklik kalian ini empat puluh tahun lebih memikirkan Indonesia, memprihatini dan menyedihinya. Sementara Indonesia bukan hanya tidak peduli pada empati dan keprihatinan kami, bahkan Indonesia tidak pernah tahu bahwa ada kami. Lebih dari itu, Indonesia sendiri tidak memikirkan dirinya sendiri, tidak memprihatini dan menyedihi dirinya sendiri…”

Sundusin kambuh lagi tertawanya. Berkepanjangan dan lebih keras. Sampai terbatuk-batuk dan lari keluar untuk buang dahaknya secara sangat menjijikkan.

“Dan hari ini, bangsa kita sudah berada hampir sepenuhnya di dalam sebuah kurungan politik raksasa. Dan kurungan itu terletak di dalam jurang. Dan bangsa kita menyangka mereka sedang berada di lembah harapan, yang selangkah lagi mereka bisa menapak ke sorga. Mereka meyakini di lembah itu ada kebun-kebun yang bernama sorga. Sebab memang sudah terlalu lama bangsa kita kehilangan ukuran, parameter, kriteria, ilmu, mata pandang, dan makrifat untuk membedakan mana baik mana buruk…”

“Benar-benar harus lengkap pengetahuan kami, harus akurat pemetaan kami, dan harus lebih tajam lagi ilmu kami, untuk memahami yang Pakde Ndusin uraikan…”, Seger menyahut.

“Keadaan bangsa kita sekarang ini, kalau ibarat ruang, ia dipenuhi kabut. Ada cahaya, tetapi bersilang-silang. Siapa saja yang tidak memiliki tradisi ‘bertapa’ di dalam dirinya, maka ia tidak mengerti mata angin. Tidak tahu mana benar mana salah. Mana langit mana bumi. Mana sorga mana neraka…”

Anak-anak muda itu makin serius mendengarkan. Dan Ndusin meneruskan, “Mana mulia mana hina. Menyangka mundur adalah maju. Mengira utang adalah kekayaan. Meyakini bahwa yang mereka kejar adalah kesejahteraan, padahal perbudakan. Mempercayai bahwa yang mereka perjuangkan adalah keberhasilan, padahal kerendahan martabat dan ketergantungan harta”

“Disorientasi absolut, ya Pakde”, Seger menegaskan.

“Orang-orang sekarang ini sangat punya ilmu, tetapi tidak mengerti di mana letaknya dan bagaimana menerapkannya. Sangat banyak di antara mereka memiliki keluasan pengetahuan, tetapi tidak menemukan konstruksi dan anatominya…”

“Jadi sesungguhnya hidup ini abstrak atau gelap bagi mereka ya, Pakde”, kata Seger lagi.

“Orang-orang tidak mengerti kehancuran dirinya. Mereka menantikan gedung-gedung ambruk, peluru-peluru berdesing, pedang dan berbagai senjata tajam berbenturan menciptakan kilatan-kilatan api, darah mengucur dan tanah bagai dibasahi oleh hujan yang airnya berwarna merah. Orang-orang baru memahami kehancuran kalau sudah tampak mata, karena mereka hanya dididik untuk memahami benda-benda….”

“Jangan pakai darah-darah, Pakde…”, Junit menyela.

“Bangsamu ini tidak pernah merasakan bahwa jiwa mereka terluka sangat parah. Luka rohani penderitaan mereka telan kembali, sehingga mengalir menjadi darah normalnya. Bangsamu adalah bangsa penderitaan. Bangsa yang bersahabat karib dengan kesulitan, kesengsaraan, dan kebingungan. Tetapi mereka sanggup memelihara keseimbangan hidup di dalam kebingungan itu…”

Seger bertanya. “Pakde, apakah ungkapan-ungkapan Pakde itu berlaku atau berangkat dari keadaan hari-hari ini, ataukah sejak Pakde Paklik bergaul dengan Mbah Markesot puluhan tahun yang lalu sudah ada penglihatan semacam itu?”

Brakodin yang tiba-tiba menjawab. “Sejak hari pertama kami bertemu dengan Mbah kalian Markesot, sesungguhnya beliau sudah mengemukakan semua itu. Tetapi kadarnya, kedalaman, dan komplikasinya memang belum sedahsyat yang berlangsung sekarang-sekarang ini”

“Kenapa Mbah Markesot tidak mengambil alih kekuasaan saja ketika momentumnya ada sekitar dua puluh tahun yang lalu? Bukankah Mbah Markesot yang berbisik di telinga Raja Besar ketika itu sehingga bersedia lengser dengan rela?”

“Ya”, Junit menimpali, “Kenapa Mbah Sot membiarkan keadaan justru menjadi semakin parah, dan kami dibesarkan oleh chaos nilai yang separah ini?”

Terdengar suara tertawa Sundusin lagi.

“Mbah kalian Markesot itu orang bodoh…”, katanya.

“Tidak, Pakde”, Toling memotong, “Setahu kami, atau sependengaran kami, Mbah Sot sangat pandai, sangat tahu, sangat paham, sangat menyelam, dan sangat terbang”.