Catatan Tadabburan Masjid Walisongo, Gresik 20 Oktober 2016

Rumah Makan Sebagai Habitat

Warung makan, dengan kondisi ruangan yang berubah karena direnovasi rupanya dapat mengubah suasana, bahwa warung makan adalah sebuah habitat.

Pagi ini KiaiKanjeng mengawali perjalanan tur di tiga kota di Jawa Timur (Gresik, Bojonegoro, Ponorogo) dan satu di Jateng (Rembang). Bus besar berwarna putih, dengan driver dan asistennya yang sudah sangat dekat dengan KiaiKanjeng, telah membawa mereka meninggalkan Jogja, melewati Klaten, Delanggu, dan kemudian berhenti di Tegalgondo, tepatnya di Warung Makan Mas Gembong. Ya, Sarapan pagi.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Ada sejumlah tempat makan di berbagai kota atau kebupaten yang menjadi langganan KiaiKanjeng setiap kali perjalanan. Ada Warung Makan Bu Djar Sragen, RM Candisari Kebumen, warung makan dekat SPBU Tempel Sleman, dan lain-lain. Karena sudah sering mengunjungi tempat-tempat makan, hal itu menjadikan KiaiKanjeng punya persepsi-persepsi tersendiri tentang warung makan.

Menu-menu makan boleh enak karena kualitas sentuhan yang memasak. Biarpun enaknya bisa juga lantaran adanya selera terhadap jenis makanannya, misalnya masakan tradisonal. Tetapi tidak menutup kemungkinan, enaknya cita rasa masakan tidak melulu disebabkan oleh pemasaknya maupun subjektivitas selera orang yang makan. Melainkan enak yang tekanannya pada suasana.

Sebuah warung makan, dengan kondisi ruangan yang berubah karena direnovasi rupanya dapat mengubah suasana. Di sini terpahami, bahwa warung makan adalah sebuah habitat. Pergeseran satu atau sebagian unsur mampu mengubah suasana. Rasa masakannya sama dan tak berubah enaknya, tetapi ada yang sedikit hilang pada nuansa. Itulah sedikit yang dirasakan dan diamati oleh Pak Joko Kamto yang lebih suka masakan tradisional. Karena itulah, perubahan atau pembangunan kembali suatu rumah makan baik kiranya jika mempertimbangkannya sebagai satu kesatuan habitat.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Salah satu elemen habitat di Warung Makan Mas Gembong adalah adanya Pak Suradi , yakni Bapak sepuh asli Delanggu yang duduk di depan warung dan di depannya ada kecapi yang dipetiknya sudah puluhan tahun lamanya. Beberapa orang KiaiKanjeng mendekatinya, dan memasukan lembaran uang ke kaleng yang disediakannya. Dan enaknya makan bersama KiaiKanjeng adalah sesekali muncul refleksi atau perenungan dari mereka. Sempat-sempatnya juga ya! Bus melaju kembali, menenggelamkan orang-orang di dalamnya di dalam kesunyian. (hm/adn)