Risalah Cinta Di Jazirah Mandar

Bagi Cak Nun, Mandar berbeda dengan daerah-daerah lain di Sulawesi seperti Makassar dan Toraja.

“Saya sangat cinta dengan Mandar. Menurut Rasulullah, orang-orang yang pertama dan diprioritaskan masuk surga adalah orang yang mau mempersaudarakan dirinya dengan orang lain. Mereka bukan saudara sedarah, tetapi mau bersaudara. Merekalah orang yang pertama-tama masuk surga. Saya sudah masuk ke sini 39 tahun lalu. Saya mempersaudarakan diri dengan orang-orang di sini. Saya sudah bersaudara di sini bahkan ketika Pak Samsul Samad yang memberikan sambutan tadi masih duduk di kelas 1 SD,” buka Cak Nun kepada ribuan jamaah sekaligus merespons dua sambutan yang beliau dengarkan langsung.

Bagi Cak Nun, Mandar berbeda dengan daerah-daerah lain di Sulawesi seperti Makassar dan Toraja. Mandar diberi anugerah kekuatan agama dan kekuatan mistisisme. Sehingga mereka memiliki karakter kuat, salah satunya dilambangkan oleh badik. Meskipun Pak Setprov Sulbar tadi menggambarkan bahwa di tahun 80-an Mandar diartikan dan dipahami orang dengan ‘mandi darah’. Tetapi sejak 90-an, Mandar berubah diartikan ‘manis dan ramah’. Sebagaimana terhadap carok Madura, persoalan bukan terletak pada bendanya melainkan prinsip yang dianutnya benar atau tidak. Tentang hal ini, sejak awal pergaulannya di sini tahun 87 Cak Nun sudah melihat langsung bagaimana sehari-hari orang Mandar mendayagunakan badik. Memang konflik antar kelompok bukan tidak pernah terjadi bahkan sering, dan dalam lapangan nyata ini, Cak Nun ikut berusaha melerai ‘peperangan’ atau konflik itu. Bersama Teater Flamboyan, beliau ikut mengasah mutiara-mutiara yang masih berselimut ‘kegelapan’ menjadi bersinar dan berpendar kekuatan personal dan sosialnya.

Pengayoman
Pengayoman. Foto: Adin.

Karakter kuat itu bahkan sudah terlihat pada anak-anak di sini. Cak Nun meminta anak-anak maju ke depan. Tanpa kesulitan dari beberapa titik anak-anak usia SD itu langsung maju. Diminta membaca surat pendek al-Quran, mereka lancar, dan masing-masing menampakkan style-nya sendiri-sendiri. Kendatipun Cak Nun melihat hal itu sebagai cermin kekuatan Islam. Lalu diinformasikan bahwa di dalam Jawa ada unkapan Jowo digowo, Arab digarap, Barat digarap. Artinya beragama tidak berarti harus membuang keindahan budaya sekalipun tetap harus kritis pada kekuatan yang datang dari Barat misalnya. Tidak butuh waktu lama sesi pengayoman Cak Nun bersama anak-anak malam ini. Tetapi, dengan begitu orangtua mereka, juga semua orangtua melihat bagaimana anak-anak memiliki kepercayaan diri untuk mengungkapkan diri di depan banyak orang. Salah seorang senior di sini sempat menceritakan bahwa video berisi diskusi Cak Nun dan Dokter Eddot tentang pendidikan anak sepuluh tahun lalu selalu diputar untuk para guru pendidikan dasar atau usia dini serta para orang tua itu, dalam berbagai sarasehan atau seminar parenting. Materi-materi dalam video itu dijadikan rujukan utama.

Sejak awal dipersilakan oleh pembawa acara, Cak Nun langsung mengenakan sandalnya dan tidak naik ke panggung, melainkan berdiri di antara panggung dan jamaah. Beliau bergerak bebas, kapan perlu ke sana, akan ke sana, perlu ke sini, tinggal ke sini. Saat ingin duduk di panggung, beliau duduk sembari kakinya terjuntai ke tanah, bahkan beliau tidak canggung-canggung duduk ndodok di antara jamaah saat menyimak Mas Imam Fatawi bernyanyi. Beliau membaur, menyatu, at home, merdeka, seperti di rumah sendiri, bebas, dengan ekspresi kebebasan yang tak pernah atau tak mungkin terlihat di Padhamgmbulan atau Mocopat Syafaat.

Mengerti persis “etno-takdir” orang-orang Mandar, maka di awal Cak Nun langsung masuk ke jiwa-jiwa mereka. Dengan beberapa suaranya berubah menahan tangis. Beliau mengajak semuanya masuk kepada cinta Allah, cinta Rasulullah, cinta alam, dan cinta Mandar. Orang-orang Mandar yang hadir ini diajak melantunkan bersama-sama surat al-Fatihah, Qul ‘audzu birobbin naas, qul ‘audzu birobbil falaq, qul huwallahu ahad, shalawat Nabi, dan Innama amruhu idza aroda syai-an an yaquula lahu kun fayakun. Cak Nun mendoakan agar mereka tidak dijajah oleh orang-orang yang mengatur pemegang kekuasaan, serta anak-anak mereka dijaga oleh Allah.

Bergembira bersama di tanah Mandar
Bergembira bersama di tanah Mandar. Foto: Adin.

Ya, malam ini adalah malam Risalah Cinta Cak Nun dan KiaiKanjeng di Jazirah Mandar. Acara ini diinisiatifi oleh Pemprov Sulawesi Barat. Hal yang sangat bisa dimaklumi, sebab Cak Nun adalah orang yang berperan penting dalam terbentuknya Sulbar sebagai provinsi baru pemekaran. Beliau yang ‘ndudul’ sedikit Depdagri dengan sentuhan yang sangat sederhana, ringkas, dan tidak rumit. Rapa-rapat justru lebih banyak berlangsung sesudah disetujuinya Sulbar sebagai provinsi baru. Tahun ini Sulbar akan memasuki usia ke-13. Pak Setprov menyampaikan harapannya agar saat ulang tahun tersebut bisa hadir di Mamuju.

Risalah cinta tersampaikan dalam banyak cara. Ungkapan rasa dan kata. Juga ada melalui gerak dan sorot mata. Kedalaman yang terwakili oleh komunikasi. Dan tak kalah pentingnya, adalah musik. Musik KiaiKanjeng. Mbak Hijrah telah berkolaborasi dengan anak-anak kecil tadi bawakan lagu Mandar berjudul “Tenggan-tenggang Lopi” yang berarti mengayuh perahu. Lagu ini memotivasi anak-anak bukan sekadar punya cita-cita melainkan punya nadzar. Yaitu mencita-citakan sesuatu, dan sesudah cita-cita itu tercapai dia akan mewujudkan atau melaksanakan nadzarnya. Dengan nadzar, ia akan berjuang keras meraih cita-cita, dan memenuhi nadzar adalah sebuah kenikmatan tersendiri yang tak bisa tergantikan.

Mbak Hijrah adalah putri asli Tinambung Mandar. Tahun 2000-an awal kuliah di Yogyakarta dan aktif sebagai vokalis KiaiKanjeng yang khususnya ditugasi Cak Nun membawakan shalawat Mandar. Selepas kuliah, ia kembali ke Mandar dan bekerja di tanah kelahirannya. Sewaktu perjalanan Safinatun Najah 2011, di hari terakhir menjelang pulang ke Jogja, pagi-pagi sekali pukul 03.00, rombongan dijamu makan di rumah Mbak Hijrah–disebut sarapan pagi terlalu awal, disebut makan malam kemalaman, tetapi Cak Nun dan rombongan memenuhi ikromudh dhuyuf-nya keluarga Mbak Hijrah.

Di Mandar ini, untuk kali pertama jamaah menikmati keindahan komposisi KiaiKanjeng pada nomor One More Night-nya Maroon 5. Aktraktifnya Mas Doni, eksposisi per alat musik KiaiKanjeng membuat mereka tak bisa mengelak buat mengikuti irama dan nuansanya. Bahkan terlihat remaja-remaja Hadroh Roudlotul Jannah yang mengenakan baju putih, bersarung, dan berselempang surban, jadi ikut setengah “heboh” gembira, ikut bertepuk tangan sebagai bagian hidup dari lagu ini. Bahkan di sela-sela eksposisi musikal, Mbak Hijrah ikut menyisipi dengan lantunan lagu Mandar yang dibawakan tadi.

Ilmu-ilmu banyak dilewatkan melalui contoh-contoh pengalaman yang dialami Cak Nun, selain melewati serpih-serpih fenomena atau peristiwa yang mampu ditangkap kandungan ilmunya. Retorika yang bagus dan matang dari pembawa acara, Pak Wakil Rakyat Syamsul Samad, dan Pak Sekretaris Daerah, Qariah Mandar yang menjuarai MTQ Internasional 2004 di Malaysia, dan pertanyaan-pertanyaan mendasar dari penanya. Dua dari penanya itu adalah mahasiswa dan polisi. Mahasiswa ini berombongan dengan temannya jauh-jauh datang ke Balanipa dari Makassar naik motor berangkat pukul 00.00 dinihari dan menjelang maghrib tadi sampai di lokasi. Mereka datang untuk belajar, menyimak, bertanya, dan memanggil Cak Nun dengan panggilan ‘Ayah’. Dan belum pernah sepertinya polisi ikut bertanya sebagaimana jamaah lainnya. Dia polisi yang ikut bertugas mengawal acara ini. Pertanyaannya pun radikal: apakah Rasulullah pernah menshalawati dirinya sendiri. Polisi-polisi itu juga ikut mendengarkan pengajian malam ini dengan baik.

Apakah Rasulullah pernah menshalawati dirinya sendiri
Apakah Rasulullah pernah menshalawati dirinya sendiri? Foto: Adin.

Kiai Muzammil pun oleh Cak Nun ditempatkan ‘referensi’ yang diminta menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan nash. Salah satunya adalah ayat ‘qul in kuntum tuhibbunallaha fat tabi’uuni yuhbibkumullah’ (katakanlah jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku). Kiai Muzammil menjelaskan peristiwa di balik ayat ini. Ayat yang digunakan untuk menggambarkan mengapa orang-orang Mandar dekat dengan agama, pandai mengaji, dan lain-lain: tak lain karena mereka mencintai Allah.

Lagu KiaiKanjeng yang diaransemen dan dengan lirik berbahasa Mandar adalah “Sing Jembar Atine” yang dalam bahasa Mandar berbunyi “Malimbong Atena”. Proses penerjemahannya berlangsung singkat tapi sebisa mungkin mendekati akurat kandungan muatannya; belajar melantunkannya juga dalam waktu cepat antara Mbak Hijrah dan para vokalis KK. Lagu ini digubah dengan penuh rasa penghormatan dari lagu Bi Ki Dude (bernama asli Fatima bin Baraka) perempuan sepuh dari Tanzania yang memiliki karakter suara yang khas. Sangar apik dan mengesankan kolaborasi rohani Tanzania-Mandar-Yogyakarta.

Nomor-nomor lain juga telah dipersembahkan kepada masyarakat Mandar: Marhaban, Sebelum Cahaya, Asmara (disumbangkan oleh salah seorang jamaah perempuan Mandar), dan beberapa nomor lain. Terpenting pula adalah beberapa shalawat sublim yang dipimpin langsung oleh Cak Nun. Semua nomor ini menyertai Cak Nun memaparkan konsep-konsep mendasar: manajemen akal-hati-nafsu; wong pinter-wong baik; paseduluran dan kegembiraan; Muhammad sebagai Rasul, Nabi, ‘Abdan, dan Insan, dan konsep-konsep dasar lain yang perlu dipahami dan dijadikan pegangan.

Pukul 00.30 Cak Nun mengajak seluruh hadirin berdiri dan berdoa, memohon agar Allah memberikan bobot-bobot khotmil Quran dalam setiap hal yang kita lakukan. Bersama-sama mereka melantunkan Do’a Khotmil Quran diiringi musik KiaiKanjeng. Saat cek suara sore tadi seseorang bernama Hambali mengatakan dari Tinambung, memandangi gamelan KiaiKanjeng, sambil menoleh ke Mas Alay. Dia bilang, besi-besi yang dipakai gamelan KiaiKanjeng adalan besi-besi bertuah penuh doa, bukan besi-besi biasa, tapi besi-besi pilihan yang di dalamnya terkandung doa-doa yang mujarab.

Engkau Maha membaca Ya Allah. Bacalah keinginan kami Ya Allah
Engkau Maha membaca Ya Allah. Bacalah keinginan kami Ya Allah. Foto: Adin.

Sedari dulu memang konsep Cak Nun cukup jelas: mengajak apapun untuk masuk surga, termasuk kayu, besi, dan alat-alat musik. Dan alat-alat musik KiaiKanjeng sudah ribuan kali berproses membantu proses pen-surga-an dan perohanian bagi yang mendengarkan maupun yang memainkannya.

Usai doa bersama, Mbak Hijrah dipersilakan mengiringi kepulangan jamaah dengan nomor yang dulu sering dibawakannya, yakni shalawat Badar dalam cengkok dan lagu Mandar.

Di dalam doa penutup tadi Cak Nun menengadahkan tangan, memejamkan mata, dan menyampaikan kalimat kepada Allah yang bermula dari kesadaran akan Maha Lembutnya Allah: “Engkau Maha membaca Ya Allah. Bacalah keinginan kami Ya Allah.”