Rihlah “Air” Cammanallah

Pesawat Rihlah “Air” tengah berada di atas awan gelap menjelang maghrib. Aslinya adalah pesawat “dunia”, tetapi oleh rombongan Rihlah ini diakhiratkan.

Setelah malam tadi Tadabburan di Ngluwar Magelang, sore ini, 29 April 2016, Cak Nun dan KiaiKanjeng bertolak menuju Mandar Sulawesi Barat. Total empat hari akan berada di sana untuk agenda yang oleh Cak Nun dinamai Rihlah Cammanallah. Perjalanan agung menuju Bunda Cammana yang merupakan milik Allah.

Sudah sejak setahun silam lebih, Cak Nun wanti-wanti untuk segera mengagendakan nyambangi teman-teman Jamaah Maiyah Mandar sekaligus sudah waktunya untuk silaturahmi rindu kepada Bunda Cammana. Terakhir Cak Nun dan penggiat Maiyah bertandang ke Mandar pada 2011 dengan tajuk perjalanan Safinatun Najah.

Rihlah Air
Rihlah Air. Foto: Adin.

Melalui proses pencarian waktu di antara padatnya kegiatan CNKK, didapatlah waktu di akhir April dan awal Mei ini. Selain untuk silaturahmi, mentransfer dan meng-update perkembangan Maiyah, tujuan utama Rihlah ini adalah mengabadikan khazanah Bunda Cammana. Beliau adalah satu dari amat sangat sedikit orang di Indonesia yang merupakan mata air murni cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad.

Di tengah proses perencanaan dan persiapan itu, tiba-tiba datang permohonan acara dari Pemprov Sulawesi Barat. Mereka bermaksud mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng. Akhirnya, kegiatan yang diinisiatifi Pemprov ini dimasuklan ke dalam bagian dari agenda Rihlah Cammanallah ini. Acara akan digelar di Lapangan Desa Bala Kecamatan Balanipa Polewali Mandar.

***

Pukul 15.00 satu persatu personel KiaiKanjeng sudah siap di Bandara Adisucipto.  Demikiam pula dengan Cak Nun. Setelah sejenak nyruput kopi, Cak Nun bergerak ke smooking area di mana Pak Nevi, Mas Jijid, Pak Jokam, dan lain-lain sudah duduk-duduk di situ sejak tiba di Bandara. Seperti biasa, sembari ngobrol dengan KiaiKanjeng Cak Nun disapa orang-orang yang menemuinya dan menjabat tangan beliau, dan tak lupa minta berfoto dengannya.

Salah satunya adalah Bapak dari Satlantas Kota Yogyakarta. Begitu pula saat  menunggu di boarding room. Dua orang dari sejumlah orang yang menyapa Beliau mendoakan kelancaran perjalanan menuju Mandar ini. Yang satu bahkan tiba-tiba menyapa Beliau saat antri mau melewati gate. Ia cium tangan, lalu memegang halus tangan dan punggung bawah Beliau dengan ta’dhim dan mendoakan lancar perjalanan Rihlah Cammanallah ini.

Pertemuan dan Sapaan
Pertemuan. Foto: Adin.

Perjalanan udara atau ‘rihlah air’ ini akan membawa rombongan terlebih dahulu ke Makassar dalam waktu satu jam empat puluh lima menit. Selain personel KiaiKanjeng dan Isim Maiyah, Rihlah Cammanallah ini mengajak serta Kiai Muzammil dan redaktur Maiyah untuk merambah dan menyentuhkan hati di jazirah Mandar untuk kali pertama. Mereka akan napak tilas sebagian dari jejak sejarah perjalanan hidup Cak Nun di bumi Mandar. Di sini, seperti yang sudah-sudah, Cak Nun akan diperlakukan sebagai apa saja: kiai, guru, orang tua, kakak, teman dekat, dan selalu diminta nyuwuk.

Pesawat Rihlah “Air” tengah berada di atas awan yang sudah gelap menjelang maghrib. Aslinya adalah pesawat “dunia”, tetapi oleh rombongan Rihlah ini diakhiratkan. Terlihat Bapak-Bapak dan Om-om KiaiKanjeng sebagian besar tertidur di pesawat ini. Mereka manfaatkan waktu penerbangan ini untuk istirahat agar nanti ketika menjejakkan kaki di bumi Sulawesi sudah dalam kondisi fresh kembali. Hari ini selepas dini hari mereka baru kembali dari Tadaburan di Ngluwar, tak banyak waktu buat istirahat. Bahkan crew KiaiKanjeng setiba di Kadipiro dari Magelang itu tanpa jeda langsung packing dan melakukan penimbangan terakhir alat-alat musik KK. Dan, alat-alat itu pun ikut merasakan dan menemani Rihlah “Air” Cammanallah ke bumi Mandar.