Daur (62)

Revolusi Tlethong

Markesot bilang kepada Sapron:

“Aslinya yang saya bicarakan adalah Revolusi Tadabbur. Tapi rasanya terlalu muluk dan mengandung ancaman, terutama bagi orang yang tidak paham. Terlebih lagi bagi yang salah paham. Yang ancaman utama adalah bagi mereka yang menyembunyikan fenomena tadabbur, dalam rangka mempertahankan kekuasaannya atas para pemeluk agama. Jadi, kalau omong ke orang, bilang ini adalah Revolusi Tlethong

“Maksudnya tlethong sapi, Cak Sot?”

“Terserah. Sapi, kerbau, apapun”

“Kok tlethong?”

“Tidak setiap orang harus mempelajari riwayat sapi, segala sisi ilmu dan pengetahuan tentang sapi. Bahkan kebanyakan para peternak sapi juga tak sejauh itu harus memahami. Yang perlu mereka ketahui hanya sejumlah hal pokok: bagaimana memelihara sapi, apa makan minum sapi, bagaimana sapi malam sapi siang, intinya cukup mengetahui bagaimana menjadikan sapi bermanfaat bagi kehidupan”

Sapron merespons, “Sudah sering saya bilang ke orang-orang bahwa mereka tidak harus memahami kalimat-kalimat Markesot secara keseluruhan, lebih tidak perlu lagi memahami kehidupan Markesot. Cukup ambil tlethong-nya Markesot, satu kata-katanya saja, satu kalimat atau beberapa kalimat Markesot, tanpa peduli pada kalimat-kalimat yang lain: kamu amat-amati, kamu pikir-pikirkan dan cari kegunaannya, misalnya untuk rabuk”

Sapron mengatakan kepada teman-temannya, “Awalnya saya menyebut Cak Markesot itu ahli dubur. Ternyata lebih khusus lagi: beliau itu Ahli Tlethong

“Markesot tidak usah dipahami secara menyeluruh sebagai seekor sapi. Cukup ambil sedikit tlethong-nya. Itu pun tak harus benar-benar paham tlethong itu apa. Asalkan tlethong itu membuat hidup kita lebih baik, hati kita lebih bersih, pikiran kita lebih jujur, mental kita lebih tangguh, iman kita menjadi lebih kuat dan dalam, kedekatan kita kepada Tuhan dan kekasih-Nya meningkat: itulah yang namanya tadabbur”

“Cak Sot bilang tadabbur bukan segala-galanya. Perlu juga tafakkur. Kalau Tuhan berkisah tentang alam, saran-Nya adalah tafakkur, merenungkan, memikirkan, mendalami”

“Kalau tadabbur, itu mencari dan menemukan manfaat, meskipun pengertiannya terbatas. Jadi kalau pakai terminologi dan metodologi dari Tuhan, kepada Kitab Suci itu tadabbur, kepada alam semesta itu tafakkur. Tafakkur itu untuk orang pandai, cendekiawan, sejumlah orang istimewa. Tadabbur itu untuk semua orang. Orang tidak harus pandai, tapi harus bermanfaat bagi sesamanya”

***

Revolusi Tlethong yang kandungannya adalah Revolusi Tadabbur adalah mengupayakan agar sebanyak mungkin orang melakukan tadabbur Qur`an dalam hidupnya. Harus disebarkan kesadaran tentang pembiasaan tadabbur. Supaya orang tidak berabad-abad merasa jauh dari Tuhan, merasa awam dalam beragama, merasa tidak mengerti Kitab Suci Tuhan.

Memang pernah suatu kali Sapron mengejar Markesot, “Kenapa kok Sampeyan sering mengulang-ulang dan menekan-nekankan pembicaraan soal Tadabbur?”

Markesot menjawab, “Karena ummatmu sangat membutuhkan Revolusi Tadabbur”

“Maksud jelasnya bagaimana?”

“Saya harus bilang revolusi, meskipun prakteknya nanti cuma evolusi, itu pun bisa saja sangat lamban”

“Kalau memang yang mungkin terjadi adalah evolusi, kenapa bilang revolusi?”

“Kalau saya pakai revolusi, hasilnya evolusi. Kalau saya pakai evolusi, mungkin tidak ada hasilnya. Cari sembilan macam buah! Saya sebut Sembilan tapi siap yang didapatkan mungkin hanya satu dua buah. Kalau saya bilang temukan satu buah saja, mungkin tak kan pernah ketemu buah”

“Ah, Sampeyan terlalu under-estimating masyarakat kita”

“Nggak melihat rendah. Kita harus ambil standar sepahit mungkin dalam mengerjakan masa depan. Kesiapan utama adalah akan gagal. Kalau berhasil, tidak perlu persiapan setinggi atau sebesar persiapan untuk gagal”

“Kelihatannya Cak Sot sudah agak paranoid, selalu merasa dikejar atau dikepung oleh kegagalan”

“Ah, kamu berlagak pilon. Sejak dulu di Patangpuluhan kita kan tidak mengenal sukses, apalagi gagal. Bengkel motormu akhirnya kan tutup, tapi saya tidak pernah bilang itu gagal”

“Mbok jangan sebut-sebut itu lagi, Cak Sot”

“Lha malah kamu yang diam-diam merasa gagal. Kalau memang mau masuk tema sukses-gagal, saya katakan sebenarnya bengkel motormu itu sukses, maka bangkrut dan tutup”

“Kok sukses?”

“Lho kamu selama mbengkel kan sukses untuk jujur, tidak menipu konsumen, tidak morotin orang yang membengkelkan motornya. Kamu Sapron Bengkel, tapi tetap mengutamakan Sapron Wong. Kebanyakan orang kan mengutamakan Dadap Pedagang, menyisihkan Dadap Wong, Presiden Pedagang melupakan Presiden Wong. Juga posisi, fungsi-fungsi, jabatan dan kedudukan-kedudukan lain yang bermacam-macam. Kemanusiaan nomor sekian, bahkan boleh tidak berlaku”

***

“Kenapa revolusinya Tadabbur? Kok bukan revolusi sosial, revolusi ideologi, revolusi mental, revolusi politik, revolusi nilai?”, Sapron mengejar.

“Karena kata sosial sudah menjadi sangat relatif dan lama-lama tinggal teori. Komunalitas manusia makin terkikis, sosialitas antar manusia dipersambungkan terutama oleh kepentingan, bukan hakikat maiyah atau takdir kebersamaan hidup. Kepentingan masing-masing, atau kepentingan yang ketemu persambungannya satu sama lain, tapi substansinya tetap kepentingan”

“Revolusi ideologi? Ideologi sudah semakin meninggalkan jiwa manusia. Ideologi semakin menjadi perangkat di tangan kepentingan”

“Revolusi mental? Itu juga aksesori yang menawan dari kepentingan yang menyamar di sebaliknya. Revolusi mental mustahil dilakukan oleh manusia yang tidak pernah mengurus skala prioritas mental, bahkan tidak mengerti persis letak atau dimensi mental dalam konstruksi kejiwaan manusia. Mental, moral, intelektual, spiritual, bermacam-macam, dideret-deret, ditumpuk-tumpuk di rak-rak toko politik kepentingan”

“Revolusi politik? Di mana politik? Apa politik? Kapan politik? Bagaimana politik? Semua itu bukan politik karena tanpa ‘kenapa politik’ dan ‘untuk apa politik’.”

Politik adalah mandat penataan keadilan dan kalau bisa disertai kesejahteraan bagi yang memandati untuk dikerjakan oleh yang dimandati, karena mereka digaji sangat besar. Tetapi yang disebut politik saat ini adalah peluang lima tahunan bagi mandataris politik untuk mencari laba pribadi dan golongan, dengan cara menipu-daya para pemberi mandat, meracuni mereka, menyihir mereka, meninabobokkan mereka”

“Revolusi nilai? Nilai apa? Sejak di Raport sekolah SD, ada daftar nilai-nilai, padahal yang dimaksud adalah deretan angka-angka. Angka bukan nilai. Angka itu rangka dasar materialisme. Seluruh pelajaran sekolah hingga undang-undang negara dan peraturan pembangunan, berisi angka-angka, bukan nilai-nilai”

“Yang disebut nilai sesungguhnya hanyalah materialisme. Kejasadan. Kebendaan. Keduniaan. Kalau orang memahami nilai, ia mengerti bahwa alamat nilai tidak di dunia, karena nilai memperlakukan dunia sebagai jalan untuk memperjuangkan dan menabung nilai. Nilai tidak berada di lembaran uang, melainkan terletak pada cara uang diperlakukan. Nilai tidak terletak di harta benda, kekuasaan dan kemakmuran, melainkan beralamat di substansi perilaku per manusia terhadap benda-benda itu”