Daur (162)

Revolusi Silaturahmi

Ta’qid : “...sedemikian tidak matang kejiwaannya, tidak pernah benar-benar dewasa mentalitasnya, tidak mengendap proses batinnya, tidak mendalam kontemplasinya, tidak cukup luas perambahan imajinasinya...”

Ketujuh, semua manusia di dunia menyimpulkan bahwa yang mereka sebut teknologi informasi yang sedang gegap gempita sekarang ini, telah melahirkan revolusi komunikasi. Bahkan ada yang dengan sangat sukacita menamakannya revolusi silaturahmi. Tetapi sepanjang saya memperhatikan di sekeliling saya, yang terjadi malah sebaliknya. Dan itu bisa saya paparkan berderet-deret”

Sial benar Barkodin hari ini. Sedang mengalami apa Markesot ini? Sampai berapa jam dia akan mengigau?

Kedelapan, mohon maaf ini harus saya sebutkan sebagai poin-poin sendiri-sendiri. Teknologi informasi membuat saya semakin merasa asing pada manusia. Pengalaman dan pengetahuan saya yang panjang tentang manusia, menjadi luntur, roboh, dan batal. Dan itu membuat saya menjadi bersedih…”

Barkodin mengusap-usap jidatnya. “Yang nomor-nomor awal tadi pendek-pendek, kok ini panjang amat…”

Tentu saja Markesot tidak mendengar suara hati sahabatnya. Dan seandainya bisa mendengar pun belum tentu ia akan lantas menghentikan igauannya.

Kesembilan, tentu saja luar biasa sambungan-sambungan komunikasi antar manusia yang bisa dibukakan oleh teknologi ini”, Markesot benar-benar tak berhenti, “Saya tidak menolak atau berkeberatan penduduk Bumi menerima dan memakainya, tapi jangan paksa saya untuk berada bersama mereka di wilayah itu”

“Sebab manfaat teknologi ini bagi saya adalah cerminan yang menginformasikan secara lebih gamblang dan terang benderang tentang parahnya kekurangan, kelemahan, kesemberonoan, kekerdilan, bahkan maaf-maaf kehinaan jiwa manusia”

Barkodin menjadi sangat mengantuk. Ia menundukkan muka dalam-dalam, supaya tidak terlalu kelihatan bahwa ia mengantuk, dan sesekali tetap ia sempatkan menatap wajah Markesot yang sedang bermaraton pidato.

Kesepuluh, sejak dahulu kala memang saya banyak kecewa pada manusia. Tetapi setelah memasuki era maya ini rasa kecewa itu ditambahi jengkel, marah, patah hati, trenyuh, dan macam-macam perasaan lagi. Benar-benar saya tidak pernah membayangkan bahwa manusia yang sudah sangat modern ini ternyata sedemikian tidak matang kejiwaannya, tidak pernah benar-benar dewasa mentalitasnya, tidak mengendap proses batinnya, tidak mendalam kontemplasinya, tidak cukup luas perambahan imajinasinya. Semua itu karena para pelaku Teknologi Informasi digandholi atau diborgol oleh salah sangkanya kepada dirinya sendiri. Diri sendiri itu, atau diri-manusia itu, menjadi kurang berkembang karena dibatasi oleh parameter mereka sendiri tentang manusia…”

Aduuuuuuh…rasanya Barkodin sudah tidak tahan. Sebelum mulut Markesot bunyi lagi ia coba mencuri peluang: “Kira-kira masih berapa puluh nomor lagi, Sot?”

“Tidak tahu”, jawab Markesot, “mungkin tidak terbatas. Sebab soal yang kita bahas ini sedang berlangsung gencar-gencarnya. Setiap saat pasti ada perkembangan, dan itu memerlukan respons dan analisis terus-menerus”

“Kalau kata-kata saya yang awal tadi saya batalkan bagaimana, Sot?”, Barkodin menawar, “Saya keliru tadi, membuka pembicaraan yang aneh, yang saya sendiri tidak siap, karena saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang itu”

“Kalau ada kawan berbicara kepada saya”, kata Markesot, “saya selalu bersungguh-sungguh mendengarkannya, dan lebih bersungguh-sungguh lagi menanggapinya. Saya harus memberikan lebih banyak dibanding yang saya terima…”

“Maksudmu”, Barkodin bertanya, “kamu mengomongi lebih banyak dibanding yang diomongkan orang kepadamu?”

“Mungkin sekali. Itu adalah bentuk empati dan tanggung jawab. Itu juga yang Tuhan sendiri mencontohinya. Manusia yang memberikan sesuatu kepada manusia lain, mendapat pemberian dari Tuhan jauh lebih banyak dibanding yang diberikannya…”

“Tapi kalau kepada saya, kamu tidak harus berlaku seperti itu”, potong Barkodin seperti orang ketakutan.

“Allah menyatakan bahwa kalau kita maju selangkah kepada-Nya, Ia maju sedepa ke kita. Kalau kita maju sedepa kepada-Nya, Ia maju sepenggalah kepada kita…”

“Ampuuuuun!!!”, Barkodin membaringkan tubuhnya. Menelentang. Menggeliat. Menghembuskan nafas sangat panjang.