Daur (43)

Rendah Diri dan Sombong

Jadi khataman apa tidak ? Yang bagus ya khataman, untuk merayakan tuntasnya 41 tulisan, serta untuk syukuran 40 orang bertemu kembali sesudah berpisah sekian puluh tahun.

Tapi khataman bagaimana? Ketika tulisan ke-41 dibacakan, semua teman-teman Markesot sudah sepenuhnya tertidur lelap. Khataman dengan siapa, sedangkan 40 orang itu semua nyenyak dan mengorok.

Lho, jadi tulisan ke-41 tadi siapa yang membaca? Kalau semuanya tidur, kemungkinan yang membacanya tinggal Markesot, orang ke-41. Jadi satu-satunya jalan: bertanyalah kepada Markesot.

Tapi apa ada yang tahu Markesot? Memangnya siapa dia itu? Di mana tempat tinggalnya? Apa identitasnya? Keturunan siapa? Atau tak usah jauh-jauh cari sejarahnya. Memahami kata-katanya saja susah bagi kebanyakan orang. Mana mungkin bisa menemukan manusia-Markesot?

Markesot jelas dulu seorang pendongeng. Sekarang jangan-jangan sesungguhnya ia adalah dongeng itu sendiri. Jangan-jangan Markesot adalah tokoh di dalam dongeng yang didongengkan oleh si Dongeng itu sendiri.

***

Yang salah memang Markesot sendiri, yang sejak kecil hidup tidak jelas. Waktu kanak-kanak hingga hampir dewasa di desanya dulu tiap malam Markesot berada, tinggal, bersembahyang, mengaji dan tidur, di Langgar-nya Wak Mad.

Sebenarnya tidak persis seperti itu. Markesot tidak pernah tampak duduk berjajar dengan anak-anak lainnya menghadap dampar atau bangku rendah menghadap ke Al-Quran. Setiap waktu mengaji, Markesot menghilang. Aslinya ya cuma melarikan diri. Sembunyi di luar tembok dekat jendela. Kalau ada yang bertanya Markesot mengaku sedang menyimak anak-anak mengaji dari kejauhan.

Padahal memang pemalas. Atau tidak berbakat mengaji. Atau rendah diri. Atau tidak berselera. Atau entah apa. Yang jelas kalau semua sudah selesai ngaji selepas Isya, sesudah anak-anak bermain gobak sodor, jumpritan, jenthik atau kekehan: baru dia nongol.

Agak aneh bahwa Wak Mad, kiai dusun itu, tatkala semua anak-anak mengaji nderes, tidak pernah menegur atau menanyakan di mana Markesot. Termasuk kalau beliau berjalan naik Langgar menuju Imaman, beliau tak pernah peduli ada Markesot atau tidak. Padahal kata banyak orang, Wak Mad dan Markesot itu ber-nasab sama, entah di mana posisi antara mereka di susunan pohon anak-turun dari nenek-moyang mereka.

Mungkin Wak mad diam-diam memperhatikan bahwa Markesot disukai oleh teman-temannya di Langgar. Terutama karena kebiasaannya untuk mendongeng, menuturkan dongeng-dongeng, menjelang semua anak-anak tidur berjajar di tikar dalam Langgar setiap malam. Wak Mad mungkin diam-diam menghargai manfaat Markesot atas teman-temannya dan semua penghuni Langgar karena dongeng-dongengnya.

Wak Mad kayaknya tidak tahu bahwa sering-seringnya anak-anak di Langgar itu semua tertidur sebelum dongeng Markesot selesai.

Padahal inti dongeng adalah ujungnya. Ditambah resonansi berpikir dan imajinasi sesudahnya. Sebagaimana Wayang Kulit, ujungnya adalah munculnya Wayang Golek: golekono, golekono, carilah maknanya, carilah nilai dan hikmahnya.

Mungkin pengalaman anak-anak tertidur sebelum tuntasnya kisah itu yang menyebabkan Markesot dendam diam-diam. Sehingga sangat suka menyebarkan teka-teki, melemparkan sesuatu yang tidak jelas, yang posisinya adalah pertanyaan-pertanyaan, godaan-godaan, yang sama sekali tidak disertai gejala, pertanda atau pintu untuk menemukan jawabannya.

***

Memang semua kisah yang didongengkan selalu mengandung muatan keteladanan akhlak yang baik, kemuliaan manusia, contoh daya juang, keindahan silaturahmi, bercahayanya kebersamaan kemanusiaan dan bermacam-macam lagi. Dongeng tidak kalah dari pelajaran Sekolah. Dari memori dongeng-dongeng banyak manusia berkembang menjadi pemimpin yang baik, setidak-tidaknya menjadi manusia yang memiliki kebijaksanaan dan ilmu hikmah, yang sangat menjadi dasar bagi setiap langkah dan keputusan yang diambilnya.

Sampai kemudian tiba era modern yang memenjarakan dongeng di dalam pemahaman yang merendahkannya.

Dongeng dibedakan dengan kenyataan. Di dalam Ilmu Sejarah misalnya, yang fakta adalah yang diungkapkan oleh orang Sekolahan, dengan berbagai alasan metodologisnya yang disebut ilmiah. Sedangkan dongeng, Babat, kisah-kisah yang metodologi modern buta matanya untuk sanggup melihat dan memahaminya, disebut khayalan atau reka-reka yang sebenarnya tidak pernah ada.

Sejak kanak-kanak Markesot sering tertawa sendiri, “Hahaha, khayalan yang tidak pernah ada… seolah-olah mereka pernah ada…seakan-akan ada yang benar-benar ada…”

Ketika mulai dewasa Markesot menjelaskan bahwa direndahkannya dongeng itu merupakan salah cara untuk memisahkan bangsa kita dari sejarahnya. Menghapus masa silamnya. Mengubur peradaban yang pernah dicapai oleh para leluhur. Sehingga bangsa kita menjadi kosong pengetahuan tentang diri mereka sendiri. Berikutnya bangsa kita menjadi tidak percaya diri. Dengan kata lain, bangsa kita menjadi tidak percaya bahwa ada sesuatu yang bisa dibanggakan di dalam sejarah nenek-moyangnya.

Maka dijajahlah bangsa kita dengan semena-mena. Bangsa kita, melalui kurikulum pendidikan Sekolah dan Universitasnya, melalui media massa, melalui jalur informasi apa saja, percaya bahwa kebesaran pernah diraih oleh tiga peradaban besar: Mesir kuno, Yunani kuno dan Cina kuno. Adapun bangsa kita sendiri sejak dahulu kala adalah budak-budak jajahan bangsa lain.

Bangsa kita dibikinkan Negara, padahal sesungguhnya itu bentuk penjajahan yang sangat dikendalikan dari luar. Bahkan kaum cerdik pandai sangat pintar merendahkan bangsanya sendiri, menyimpulkan bahwa Ibu-Bapak mereka adalah orang-orang bodoh karena tidak pernah bersekolah seperti mereka.

Bangsa kita adalah bangsa yang tidak percaya diri, tetapi sombong dalam kerendah-diriannya, dan sangat bangga bahwa mereka rendah diri. Bangsa kita marah kalau ada yang bilang bahwa mereka hebat, karena yang hebat haruslah bangsa-bangsa yang bukan mereka.

***

Itu kata Markesot. Bahasa jelasnya: dongeng Markesot. Siapa yang percaya?

Markesot selalu bersikap pesimis dan berpikir negatif. Kenapa teman-temannya itu setia kepadanya?