Daur (73)

Relawan Adzab

Sedahsyat-dahsyat pencapaian peradaban dan kecanggihan teknologi ummat manusia di abad ini, masih tertinggal jauh di belakang peradaban Irom “dzatil ‘imad”  kurun Nabi Hud, ketinggian gedung-gedungnya ataupun panjang lebar runaway pesawat-pesawatnya.

Pun belum mencapai sekadar teknologi komprehensif Piramida-nya dinasti para Fir`aun. Atau keakraban silaturahmi dengan makhluk-makhluk luar angkasa para penghuni Pulau Jawa. Atau bahkan pun dibanding penguasaan waktu dan kesemestaan ruang bangsa Maya dan Inka di kantung raksasa bawahnya pulau yang sekarang diklaim bernama Amerika.

Dan semua itu hancur luluh lantak karena konflik dengan Tuhan. Disisakan sangat sedikit sehingga tidak sampai musnah total, untuk keperluan pembelajaran bagi para pembangun peradaban di abad-abad berikutnya. Yang hari-hari ini sedang bertahta di puncak keangkuhannya, hampir tiba di jurang kehancurannya.

Dan kalau ukuran kemajuan dan ketertinggalannya, parameter kejayaan dan keterpurukannya, serta ketinggian dan kerendahan ke-adab-annya diambil dari Agamaterialisme, maka dalam skala sangat kecil: Patangpuluhan adalah simbol dari segala macam jenis kegagalan, ketertinggalan, keterpurukan, bahkan kekumuhan dan kehinaan.

Tidak seserpih apapun yang kasat mata di Patangpuluhan yang lulus untuk disebut maju dan jaya. Supremasi cat rumahnya saja warna hitam. Tembok-temboknya lembab dan kusam. Tak ada tata rumah tangga yang biasanya diwakilkan kepada meja kursi tamu yang pantas. Almari-almari yang ganteng dengan benda-benda mejeng tak jelas gunanya. Ranjang kasur sprei bantal guling yang mencerminkan bahwa penghuninya cukup berbudaya.

***

Tak ada. Tiada. Benar-benar tak ada gebyar dan tiada sesuatu yang bercahaya. Tamu-tamu yang datang pun makhluk kumuh dan rendahan, yang keperluan-keperluan kedatangan mereka tidak ada gaya, style, atau aura yang membanggakan.

Tamu-tamu Patangpuluhan keperluannya komplet, tapi kelasnya rendahan. Misalnya orang-orang yang barusan kecopetan, dan itu biasanya kiriman dari Terminal Bus atau Stasiun Kereta Api, entah siapa yang mengirim mereka. Sampai hari ini tidak tertemukan siapa provokator yang yuwaswisu fi shuduri orang-orang susah itu agar njujug-nya ke Patangpuluhan.

Rumah hitam Patangpuluhan adalah keranjang sampah.

Yang paling rutin adalah orang datang dengan masalah psikologis dan rumah tangga. Kalau orang-orang gila, ngengleng, tidak berfungsi sejumlah saraf di otaknya, tidak dikategorikan sebagai tamu di Patangpuluhan. Mereka adalah kawan-kawan karib.

Tampaknya memang situasi Patangpuluhan adalah tempat yang paling pelik untuk mengurai beda antara bencana dengan adzab.

Karena yang datang kadang-kadang memaksa Markesot  menjadi Kiai atau Dukun. Yang medukun bisa minta nomer, bisa konsultasi pesugihan atau pengasihan. Plus orang kesurupan.

Yang menuduh Markesot adalah Kiai, datang dengan pertanyaan-pertanyaan pelik atau justru pertanyaan yang sebenarnya sama sekali tidak perlu ditanyakan oleh setiap makhluk yang punya akal.

Ada yang datang, angkat tangan ke jidat, tabik seperti prajurit kepada atasannya. Kemudian duduk dan melaporkan:

“Saya berasal dari Kalimantan. Kuliah di Yogya. Orang tua saya bangkrut. Sudah hampir setahun saya terpaksa mencari uang sendiri untuk makan, tempat tinggal dan bayar kuliah. Beberapa minggu terakhir saya kelaparan. Saya datang ke kantor Palang Merah untuk menjual darah saya. Setiap saya kelaparan saya jual darah. Makin lama saya makin lemah. Sekarang kondisi saya bingung dan agak sedikit gila…”

***

Kisah para tamu Patangpuluhan kalau ditulis bisa melahirkan beberapa puluh novel, beberapa ratus novelet, ribuan cerita pendek dan puisi-puisi yang susah dibatasi jumlahnya.

Dan karena tidak mungkin ada sekian puluh novelis, sekian ratus penulis novelet, sekian ribu cerpenis serta kumpulan penyair ummat manusia dan masyarakat Jin yang jumlahnya tak terbatas, yang bisa berenang di gelombang samudera Patangpuluhan, maka urusan penulisan ini sebaiknya  diabaikan saja.

Yang perlu dikemukakan di sini sekadar penjelasan-terpaksa Markesot ketika dikiaikan oleh tamu-tamu yang datang bertanya tentang bencana dan adzab. Markesot sedikit tahu Alif tapi agak bengkong, tapi sejumlah orang mengira dia pintar ngaji dan paham agama.

Bab nahwu shorof, ilmu balaghah, manthiq dan yang begitu-begitu Markesot hanya dengar-dengar, tapi sering ada tamu-tamu aneh yang berkonsultasi atau berdiskusi dengan Markesot soal ushulul-fiqh, aqidah, tasawuf, kenapa Nabi Muhammad kok rajin bertapa, kenapa Iblis ditugasi seperti itu, Sayidina Ali waktu ke Jawa Timur nginap di mana, kapan pas-nya Gadjah Mada bersyahadat, dan macam-macam lagi.

Hal Kitab Kuning, Markesot melihat saja belum pernah, bahasa Arabnya sebatas Anta Antum Ente. Tapi ada orang-orang tersesat ke Patangpuluhan tanya-tanya ke Markesot soal adzab. Seolah-olah dia pakar adzab. Padahal bisa jadi adzab adalah Markesot itu sendiri. Sekurang-kurangnya relawan adzab.

“Kalau dagang saya sukses, itu rejeki atau adzab?”, bertanyalah seorang tamu kepada Markesot. Dan Markesot merasa wajib menjawab.

“Tergantung tiga faktor. Pertama, kekayaan yang Sampeyan hasilkan dari sukses dagang itu Sampeyan bikin menjadikan hidup Sampeyan lebih baik atau tidak, lebih bersyukur dan lebih dekat ke Tuhan atau tidak, lebih membuat keluargamu sakinah mawaddah wa rahmah atau tidak”

Markesot diam-diam geli sendiri mendengar ucapan terakhir mulutnya itu. Dia tidak punya rumah, bagaimana mau sakinah. Tidak punya istri dan anak-anak, bagaimana mengalami mawaddah. Kalau rahmah memang melimpah, sebab Tuhan Maha Rahman Rahim, meskipun formula rahmah-Nya kepada Markesot di mata orang lain tampak seperti adzab.

“Faktor kedua, asal-usul dan lalu lintas mekanisme semua aspek dalam pekerjaan dagangmu itu bersih atau tidak, halal atau makruh, haram atau syubhat, menurut hitunganmu Tuhan marah atau tidak, Robbun Ghofur atau tidak, Tuhan memaafkanmu atau tidak, kalau memang ada sesuatu pada dagangmu yang membuat Tuhan surut senyum-Nya”

“Adapun faktor ketiga”, lanjut Markesot, “tertulis di Lauhil Mahfudh. Sudah tertera di halaman sekian di Kitab Agung karya Allah Swt itu bahwa sukses dagangmu itu dikehendaki Tuhan untuk suatu maksud dan rancangan”

“Apa maksud dan rancangan Tuhan terhadap dagang saya?”

“Saya belum membaca bagian yang menyangkut Sampeyan. Kapan-kapan saya cari waktu untuk membuka isi lembaran nasibmu di Lauhil Mahfudh”

“Kapan kira-kira?”, tanya si tamu, seolah-olah sedang minta ketegasan hari apa Markesot bisa mampir ke rumah dia.

“Ya nantilah. Saya sangat sibuk. Ya di dunia, ya di luar dunia, di banyak planet di alam semesta. Untuk Lauhil Mahfudh saya biasanya menyempatkan waktu khusus, karena urusannya langsung dengan karya Allah Swt. Kita harus suci, jiwa harus bening, hati jernih, pikiran kosong, dan jasad tidak berhadats”

Si tamu terkagum-kagum. “Masyaallah, Sampeyan sering ya membuka-buka dan membaca Lauhil Mahfudh?”

“Ya ndak terlalu sering. Kan saya sudah bilang hanya pada waktu-waktu yang khusus”

“Sebelum ini banyak juga orang yang minta tolong untuk membuka Lauhil Mahfudh seperti saya”

“Lumayan banyak. Dan saya selalu penuhi. Berdosa kalau saya tidak memenuhi permintaan sesama manusia. Jadi tidak bisa saya hitung jumlah persisnya saya membaca Lauhil Mahfudh. Yang pasti hanya satu, yaitu saya belum pernah berhasil, tidak pernah berhasil, dan tidak akan pernah, serta tidak akan diizinkan oleh Tuhan untuk mampu membaca Kitab Agung itu. Jadi kesimpulannya, saya tidak tahu. Jangankan yang urusan kecil seperti dagang Sampeyan ini. Lha wong setiap ada presiden terpilih, saya tidak pernah tahu itu berkah ataukah adzab”