Ramadhan sebagai Madrasah

Rasulullah  shallallahu’alaihi wasallam menyebut Ramadhan sebagai madrasah (wahana pendidikan). Berarti harus ada kurikulumnya. Dalam kurikulum ada tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Tapi kita batasi pembicaraan pada tujuan. Tujuan pendidikan adalah terjadinya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku sebagai produk dari pendidikan puasa itu dalam bahasa Al-Qur`an (Al-Baqarah: 183) dirumuskan dan dipadatkan dalam satu kata tattaqun (kalian bertakwa). Digunakannya verba tattaqun dan bukan nomina muttaqun menunjukkan bahwa takwa adalah sebuah proses yang dinamis dan tidak pernah berhenti sepanjang hidup. Ijazah lulusan madrasah Ramadhan tidak diberikan oleh lembaga apapun dalam secarik kertas atau gelar, tapi diberikan oleh masyarakat setelah melihat sikap dan tingkah lakunya.

Jika tattaqun diandaikan sebagai kompetensi inti (KI), maka perlu dijabarkan dalam kompetensi dasar (KD). KI tattaqun sebagai produk dari ibadah puasa itu bisa dijabarkan menjadi banyak KD, sesuai dengan sudut pandang perumusnya. Dalam hal ini penulis menjabarkan KI tattaqun (bertakwa) itu menjadi dua KD saja, yaitu (1) meningkatnya kepekaan spiritual atau menjadi lebih dekat kepada Allah, dan (2) meningkatnya kepekaan sosial atau menjadi lebih dekat kepada sesama manusia dan makhluk Allah lainnya. Karena keduanya saling berkaitan maka dapat dirumuskan dalam satu kalimat yaitu “semakin kuatnya kepekaan spiritual dan kepekaan sosial dan semakin eratnya jalinan hablun minallah dan hablun minannas di dalam diri lulusan madrasah Ramadhan”.

Hablun minallah dan hablun minannas saling terkait satu sama lain. Orang yang dekat dengan Allah akan memancarkan sifat-sifat Allah, salah satunya yang paling utama adalah sifat kasih dan sayang (rahman – rahim). Orang yang benar-benar dekat dengan Allah pasti terdorong untuk dekat dengan makhluk-makhluk Allah. Orang yang mencintai Allah pasti mencintai sesama manusia yang merupakan ciptaan Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ”Tidaklah beriman seseorang sampai dia menyukai untuk saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri” (HR Al-Bukhari dan Muslim). “Orang muslim adalah orang yang lidah dan tangannya tidak melukai atau mencelakai saudaranya sesama muslim” (HR Al-Bukhari dan Muslim). “Orang beriman adalah orang yang semua orang merasa nyaman bersamanya karena percaya bahwa martabatnya, nyawanya dan hartanya aman” (HR At-Turmudzi dan An-Nasa`i). Semua ritual keagamaan dalam Islam bukan hanya untuk ritual itu sendiri, melainkan untuk mengantarkan seseorang pada ketinggian akhlak, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.

Berbagai kegiatan ibadah di bulan Ramadhan yang diperintahkan oleh agama, baik dalam bentuk ibadah mahdhah maupun ibadah sosial merupakan sarana pendidikan untuk mencapai kedua tujuan atau kompetensi tersebut. Indikator-indikator dari masing-masing KD dapat disebutkan di antaranya sebagai berikut.

Indikator pertama dari kepekaan spiritual atau kedekatan dengan Allah adalah dzikrullah, selalu ingat Allah dan menyebut-nyebut nama Allah. Ketika bahagia ingat Allah, ketika menderita ingat Allah. Di masjid ingat Allah, di pasar ingat Allah. Pagi, sore, siang, dan malam ingat Allah. Indikator kedua adalah kerinduan kepada Allah. Bergegas dan antusias menghadap Allah ketika waktu shalat tiba. Pada waktu shalat malam, kerinduan itu benar-benar tertumpahkan karena bisa berlama-lama berdialog, curhat, dan beristighfar. Indikator ketiga adalah merasakan ma’iyatullah kebersamaan Allah. Semakin kuat kesadaran ma’iyatullah hati semakin tenteram karena merasa ada yang menjaga dan melindungi, tapi di sisi lain semakin hati-hati karena merasa ada yang megawasi.

Apa yang disebutkan dalam Al-Anfal: 2 mengenai tanda-tanda orang yang sungguh-sungguh beriman, juga bisa disebut sebagai indikator-indikator kedekatan dengan Allah. Yang pertama, idza dzukirallahu wajilat qulubuhum (bila Allah disebut, hati mereka bergetar). Getaran hati itu adalah manifestasi dari rasa cinta dan rasa takut kepada Allah. Yang kedua, wa idza tuliyat ’alaihim ayatuhu zadathum imanan (bila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya dalam al-Qur`an dan ditampakkan kepadanya tanda-tanda keagungan-Nya di alam semesta, bertambah kuatlah imannya). Ketiga, wa ’ala Rabbihim yatawakkalun (bertawakkal kepada Tuhan mereka). Ketiga indikator ini bersifat kejiwaan dan hanya diketahui dan dirasakan terutama oleh masing-masing individu.

Indikator pertama dari kepekaan sosial atau kedekatan dengan sesama manusia dan semua ciptaan Allah adalah kepedulian. Kepedulian kepada orang lain dalam kehidupan sosial dan kepedulian kepada lingkungan. Bahkan Islam mengintrodusir istilah itsar yaitu meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri (Al-Hasyr 9). Indikator berikutnya adalah sikap yang mengedepankan keselamatan dan kedamaian, termasuk kepada orang yang memusuhi dan menyakiti (Al-Furqan 63). Indikator ketiga adalah suka berbuat ihsan. Ihsan adalah puncak kebaikan atau kebaikan di atas kebaikan. Ihsan adalah ketika seseorang memberi lebih dari kewajibannya dan megambil kurang dari haknya; ketika seseorang memberi meskipun dia dalam kekurangan, mampu meredam amarah padahal dia sangat disakiti, memaafkan padahal dia mampu membalas (Ali-Imran134).

Untuk dapat menjadikan ketiga perilaku tersebut sebagai kepribadian diperlukan pelatihan-pelatihan. Salah satu karakter yang diperlukan untuk mewujudkan hal itu adalah kemampuan untuk menahan diri, mengendalikan keinginan-keinginan, dan menekan egoisme. Ini dilatihkan secara intensif di dalam Madrasah Ramadhan, karena inti dari puasa adalah pengendalian diri (shiyam atau imsak).

Imsak yang dipahami oleh kebanyakan orang adalah waktu sepuluh menit sebelum subuh, saat yang menandai dimulainya puasa, saat kita harus berhenti makan dan minum. Tapi Imsak hakikatnya haruslah dilakukan sepanjang hari. Ketika azan maghrib sudah dikumandangkan, tidak berarti imsak sudah dihentikan. Bahkan ketika makan dan minum sudah diperbolehkan, imsak justru diperlukan, yaitu untuk mengendalikan diri dengan makan secukupnya, karena ketidak kemampuan untuk mengendalikan justru akan mendatangkan kemadharatan untuk kesehatan dan lainnya.

Imsak adalah kunci keselamatan hidup. Mengapa terjadi pemerkosaan, korupsi, perkelahian, dan berbagai kejahatan lainnya? Mengapa? Tidak lain karena pelakunya tidak mampu mengendalikan diri. Maka Ramadhan adalah bulan di mana orang-orang beriman menjalani latihan secara intensif untuk imsak, mengendalikan nafsu, mengendalikan diri. Berbagai ibadah yang khas kita lakukan selama Ramadhan (puasa, salat tarawih, membaca Al-Qur`an, sedekah, dan lain sebagainya) pasti akan menambah tumpukan pahala kita dari Allah SWT. Tapi semua itu tidak akan bisa mengubah diri kita kalau tidak ada kesadaran untuk melakukan imsak, berlatih sungguh-sungguh untuk melakukan pengendalian diri. Maka kunci dari puasa adalah imsak atau pengendalian diri.